Memaknai Hidup
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Kehidupan ini adalah untuk menguji kita. Bahkan Allah menciptakan alam semesta ini adalah untuk menguji kita. Allah hendak menguji: 1) apa yang kita lakukan dengan apa-apa yang Allah anugerahkan kepada kita, yaitu nikmat-nikmat-Nya, apakah kita bersyukur ataukah kufur, 2) bagaimana kita bersikap dengan ujian baik berupa kebaikan maupun keburukan, dan 2) siapa yang paling baik amal perbuatannya selama hidup.
Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Makna yang jelas dari hal ini adalah, bahwa Allah menjadikan manusia sebagai penduduk bumi yang diberikan kemampuan oleh Allah untuk mengelola segenap yang ada di bumi karena Allah telah men-taskhir-nya untuk manusia. Jadi, kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini berlaku untuk semua manusia, baik mukmin maupun kafir. Makna yang khusus dari hal ini adalah, bahwa Allah menjadikan sebagian manusia sebagai penguasa atas sebagian manusia yang lainnya. Maksudnya adalah makna kekuasaan di muka bumi.
Tujuan Allah menciptakan jin dan manusia adalah agar mereka tunduk, patuh, dan menyembah-Nya semata. Kemudian Allah menurunkan perintah-perintah dan larangan-larangan dalam rangka untuk menguji manusia. Sebagian dari perintah-perintah dan larangan-larangan tersebut adalah huquq Allah. Dalam hal ini, apapun yang diperintah ya kita lakukan, dan apapun yang dilarang ya kita jauhi dan tinggalkan. Ini sebagaimana Allah telah melarang Adam untuk mendekati pohon Khuldi di surga. Tanpa harus tahu rahasia larangan tersebut, Adam harus menaatinya. Meski demikian, manusia dengan akal pikirannya bisa saja menyibak sebagian hikmah dari perintah-perintah dan larangan-larangan tersebut. Ini sebagaimana juga dikatakan oleh para ulama ushul fiqih, bahwa ibadah-ibadah yang ghayr ma'qul al-ma'na merupakan ujian (ikhtibaar, ibtilaa') bagi hamba-hamba Allah.
Sebagian lainnya dari perintah-perintah dan larangan-larangan Allah terkait dengan kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi, yakni memakmurkan bumi dan tidak melakukan kerusakan di muka bumi. Kerusakan ini mencakup dua hal. Pertama adalah kezhaliman terhadap sesama. Kedua adalah kezhaliman dan pengrusakan terhadap isi bumi yang lainnya, termasuk binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan, dan alam. Kezhaliman terhadap sesama seperti membunuh sesama tanpa alasan yang haq, merampas hak milik orang lain, dan menyakiti orang lain adalah kerusakan. Demikian pula merusak lingkungan hidup adalah kerusakan.
Hakikat Keimanan
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Iman artinya "meyakini". Dalam firman Allah dan sabda-sabda Rasulullah, perkataan "iman" kadang-kadang digandengkan dengan hal yang diyakini, misalnya "al-iman billah", "al-iman bi aayaatillah", "al-iman bil yaumil aakhir", dan sebagainya, dan kadang-kadang digunakan secara munfarid, misalnya "alladzina aamanuu", "al-mu'minuun", dan semacamnya. Istilah yang digunakan sebagai lawan dari iman adalah kufur dan takdzib. Kufur dari sisi isytiqaq berasal dari makna "menutupi", dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan sebagai "mengingkari". Adapun takdzib artinya mendustakan, maknanya dekat dengan makna kufur. Sebagaimana iman, perkataan "kufur" dalam firman Allah dan sabda-sabda Rasulullah juga kadang-kadang digandengkan dengan yang diingkari, misalnya "al-kufr billah", "al-kufr bi aayaatillah", dan sebagainya, dan kadang-kadang digunakan secara munfarid, misalnya "alladzina kafaruu", "al-kaafiruun", dan semacamnya. Adapun perkataan "takdzib" dalam Al-Qur'an biasanya digandengkan dengan hal yang didustakan, misalnya "takdziib bi aayaatillah". Dalam Al-Qur'an, dialog tentang keimanan dan kekufuran yang paling banyak adalah: 1) keimanan dan kekufuran kepada Allah, 2) keimanan dan kekufuran kepada Hari Akhir, Hari Kebangkitan, dan Hari Pembalasan, 3) keimanan dan kekufuran kepada kerasulan Muhammad saw, dan 4) keimanan dan kekufuran kepada Al-Qur'an. Al-Qur'an juga mengisahkan tentang kebenaran para nabi dan rasul terdahulu beserta kitab-kitab suci yang mereka bawa. Artinya, kita juga mesti mengimani seluruh nabi dan rasul Allah dan kitab-kitab suci yang mereka bawa. Keimanan kepada para malaikat disebutkan secara spesifik dalam beberapa ayat. Meski tidak banyak dibicarakan dalam dialog tentang keimanan dan kekafiran, keimanan kepada para malaikat terutama malaikat yang diutus untuk urusan-urusan tertentu adalah keniscayaan karena dengan perantaraan malaikatlah Allah menurunkan wahyu kepada rasul-Nya. Adapun keniscayaan keimanan kepada qadar Allah bisa disimpulkan dari banyak ayat Al-Qur'an yang menegaskan bahwa Allah menetapkan qadar atas segala sesuatu. Dari Al-Qur'an dan penjelasan Rasulullah saw, kita mengetahui bahwa rukun iman ada enam sebagaimana yang sudah kita ketahui.
Keimanan itu pada dasarnya ada didalam hati. Berupa keyakinan yang teguh. Iman yang benar akan terpancar dalam perbuatan. Karena itulah Rasulullah saw bersabda, "Jika hati baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika hati rusak maka rusaklah seluruh tubuh." Hal paling utama yang menentukan baik dan rusaknya hati adalah ada tidaknya iman. Karena itulah menguat dan melemahnya iman, atau biasa disebut sebagai naik turunnya iman, bisa dilihat dari cerminannya, yaitu baik dan buruknya perbuatan seseorang. Iman yang benar akan mendorong seseorang untuk berbuat baik, dan sebaliknya iman yang melemah akan mendorong seseorang untuk berbuat buruk. Inilah makna dari ungkapan: "Iman itu naik dan turun. Naik dengan ketaatan dan turun dengan kemaksiatan."
Tadabbur: Tabiat Manusia Ketika Telah Ditolong
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Dalam tiga surat yang berurutan, yaitu QS Al-Ankabut, QS Al-Ruum, dan QS Luqman, Allah menggambarkan tabiat manusia ketika telah ditolong dan diselamatkan oleh Allah dari suatu bahaya atau musibah. Dalam QS Al-Ankabut: 65 -66, Allah Ta'ala berfirman:
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ وَلِيَتَمَتَّعُوا ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
"Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)"
"dalam rangka untuk mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya)."
Kemudian dalam QS Al-Ruum: 33 - 34 Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُمْ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ
لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ ۚ فَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
"Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya,"
"dalam rangka untuk mengingkari apa yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu)."
Tadabbur: Qarun dan Luqman, Potret Kufur dan Syukur
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Disini kita akan merenungi QS Al-Qashash dan QS Luqman, dengan dua ikon yang disebutkan didalamnya yaitu Qarun dan Luqman. Dalam QS Al-Qashash, Allah menceritakan kisah Qarun sebagai manusia yang tidak bisa bersyukur, atau dengan kata lain: kufur dengan nikmat yang Allah berikan kepadanya. Sementara dalam QS Luqman yang datang sesudahnya (setelah QS Al-Ankabut dan QS Al-Ruum), Allah menceritakan kisah Luqman sebagai manusia yang pandai bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepadanya.
Allah menjelaskan dua mazhahir (perwujudan) dari rasa syukur tersebut. Pertama, dengan tidak menyekutukan Allah. Kedua, dengan berbuat baik kepada kedua orangtua. Yang pertama adalah wujud syukur kepada Allah, sedangkan yang kedua adalah wujud syukur kepada kedua orangtua kita.
Sebegitu pentingnya sikap syukur ini, Allah memaparkan bagaimana sikap syukur mesti kita berikan kepada kedua orangtua. Meski bahkan ketika orangtua mengajak kepada syirik kepada Allah, kita tetap harus bersikap syukur kepada mereka dengan cara tetap berbuat baik kepada mereka. Ini memberikan kita dua pelajaran. Pertama, jika kepada kedua orangtua saja kita harus bersyukur sedemikian rupa, maka bagaimana pula kita mesti bersyukur kepada Allah yang nikmat-Nya kepada kita tak bisa kita hitung. Kedua, kita mesti bersikap syukur kepada Allah dan sekaligus kepada sesama. Jangan hanya bersikap syukur kepada Allah tetapi tidak bisa bersyukur kepada sesama.
Perwujudan syukur kepada Allah yang paling utama adalah dengan menuhankan-Nya semata, beribadah dan menyembah-Nya semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun juga. Karena itulah orang yang tidak mau menyembah Allah semata disebut sebagai orang yang kafir, yaitu orang yang tidak bisa bersyukur kepada Allah, menutupi sekian banyak nikmat Allah yang telah Dia limpahkan kepadanya.
Tadabbur QS Al-Qashash: 76 - 83
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Mulai dari QS Al-Qashash: 76 Allah Ta'ala bercerita tentang Qarun yang merupakan salah seorang diantara kaum Nabi Musa 'alaihissalam.
إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri".
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
Dalam kedua ayat diatas dinyatakan bahwa Qarun berbuat zhalim kepada orang banyak. Kemudian orang-orang memberikan nasihat kepadanya. Isi nasihatnya pada dasarnya dua. Pertama, jangan sombong, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. Kedua, jangan berbuat kerusakan di muka bumi, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
Sesudah nasihat demi nasihat tidak mampu menyadarkan Qarun, maka Allah pun meng-adzab Qarun dengan menenggelamkannya beserta harta bendanya kedalam tanah.
Halaman 22 dari 69