Sejarah Singkat Tadwin (Kodifikasi) Hadits
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Definisi hadits
Yang dimaksud dengan hadits mencakup empat hal:
- Perkataan Rasulullah saw
- Perbuatan Rasulullah saw
- Persetujuan (taqrir) Rasulullah saw
- Sifat Rasulullah saw, yang mencakup sifat khalqi (fisik) dan sifat khuluqi (akhlaq)
Salah satu dari empat hal diatas jika diriwayatkan oleh seorang sahabat maka itu disebut sebagai hadits.
Hadits di masa kenabian dan masa sahabat sepeninggal Rasulullah saw
Masa ini tidak persis berakhir pada pertengahan abad I Hijriyah, namun lebih dari itu karena cukup banyak sahabat yang hidup sampai tahun 70-an Hijriyah. Bahkan Anas ibn Malik misalnya hidup sampai tahun 92 Hijriyah. Ini adalah masa dimana Rasulullah saw masih hidup, dan dilanjutkan dengan masa sepeninggal Rasulullah saw dimana para sahabat masih hidup. Berikut ini beberapa pertanyaan dan jawaban yang bisa diajukan.
Mengenal Para Sahabat Perawi Banyak Hadits
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Berikut ini para sahabat yang banyak meriwayatkan hadits (al-muktsirun min al-shahabah) berikut tahun kelahiran dan wafatnya serta jumlah hadits yang mereka riwayatkan. Untuk membayangkan lebih jelas tentang Tahun Qablal Hijrah (QH) dan Tahun Hijriyah (H), Rasulullah saw berhijrah 13 tahun setelah Kenabian kemudian setelah itu menetap selama 10 tahun di Madinah.
| Nama sahabat | Lahir dan wafat | Jumlah hadits |
| Abu Hurairah ra | 19 QH - 59 H | 5374 |
| Abdullah ibn Umar ra | 11 QH - 73 H | 2630 |
| Anas ibn Malik ra | 10 QH - 92 H | 2286 |
| Aisyah bint Abi Bakr ra | 19 QH - 58 H | 2210 |
| Abdullah ibn Abbas ra | 3 QH - 68 H | 1660 |
| Jabir ibn Abdillah ra | 16 QH - 78 H | 1540 |
| Abu Sa'id Al-Khudri ra | 10 QH - 74 H | 1170 |
Bisa dilihat dari tabel diatas bahwa seluruh sahabat diatas dilahirkan sebelum hijrah. Dan semua dari mereka kecuali Ibnu Abbas ra sudah berusia belasan tahun (minimal 10 tahun) ketika Rasulullah saw berhijrah. Kemudian, secara umum mereka masih hidup sekitar 50 - 60 tahun sesudah wafatnya Rasulullah saw. Sebagaimana nampak di tabel, mereka hidup sampai dengan tahun 59 - 92 H.
Cara Mendapatkan dan Meriwayatkan Hadits
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Ada dua hal yang niscaya dalam periwayatan hadits: mendapatkan hadits (al-tahammul) dan meriwayatkan hadits (al-adaa'). Untuk mendapatkan hadits, hanya dipersyaratkan tamyiiz saja, dan tidak dipersyaratkan baligh dan Islam. Namun untuk meriwayatkan hadits, dipersyaratkan baligh dan Islam. Dengan demikian, seseorang bisa saja mendapatkan hadits sebelum ia baligh (namun sudah mumayyiz) atau sebelum ia masuk Islam, kemudian meriwayatkannya setelah ia baligh dan beragama Islam.
Berikut ini beberapa cara mendapatkan dan meriwayatkan hadits:
Pertama, mendengarkan (al-simaa') dari guru, yakni guru membaca hadits dan murid mendengarkannya. Dalam hal ini guru bisa membaca hadits dari hafalannya atau dari kitabnya. Adapun murid bisa mendengar sambil menuliskannya atau sekadar mendengar saja.
Kedudukannya: Ini adalah cara tahammul dengan derajat tertinggi menurut jumhur 'ulama hadits.
Lafazh-lafazhnya antara lain:
- "Sami'tu" atau "Haddatsanii" atau "Haddatsanaa" untuk al-simaa' melalui tahdits atau imlaa'
- "Qaala lii" atau "Dzakara lii" untuk al-simaa' melalui mudzakarah
Mengenal Kitab-kitab Syarah Hadits
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Berikut ini beberapa kitab syarah dari kitab-kitab hadits yang utama.
Kitab-kitab syarah Shahih Al-Bukhari antara lain:
- A'laam Al-Hadits karya Imam Al-Khaththabi (wafat tahun 388 H)
- Syarh Al-Nawawi 'ala Al-Bukhari (belum tuntas) karya Imam Al-Nawawi (wafat tahun 676 H)
- Al-Kawakib Al-Durari karya Imam Al-Karmani (wafat tahun 786 H)
- Fathul Baari (belum tuntas) karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (wafat tahun 795 H)
- Al-Taudhih karya Imam Ibnul Mulaqqin (wafat tahun 804 H)
- Fathul Baari karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat tahun 852 H)
- 'Umdatul Qaarii karya Imam Badruddin Al-'Aini (wafat tahun 855 H)
- Irsyad Al-Saari karya Imam Al-Qasthalani (wafat tahun 923 H)
Kitab-kitab syarah Shahih Muslim antara lain:
- Al-Mu'lim bi Fawa-id Muslim karya Imam Al-Maziri (wafat tahun 536) yang belum tuntas, lalu kemudian dilanjutkan oleh muridnya, Al-Qadhi 'Iyadh (wafat tahun 544 H), dengan kitabnya Ikmal Al-Mu'lim li Fawa-id Muslim
- Al-Mufhim karya Imam Abul 'Abbas Al-Qurthubi (wafat tahun 656 H)
- Al-Minhaj karya Imam Al-Nawawi (wafat tahun 676 H)
- Ikmal Al-Ikmal karya Abu Abdillah Al-Ubay (wafat tahun 827 H)
- Mukmil Ikmal Al-Ikmal karya Imam Al-Sanusi (wafat 895 H)
- Al-Dibaj karya Imam Al-Suyuthi (wafat tahun 911 H)
Mengenal Kitab-kitab Hadits
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Kitab-kitab hadits disusun dengan berbagai cara yang berbeda. Diantara jenis-jenis kitab hadits adalah:
- Al-Jaami', yaitu kitab hadits yang menghimpun segala permasalahan dan dibagi menjadi berbagai bab berdasarkan permasalahan-permasalahan tersebut, yang tidak terbatas pada bab-bab fiqih saja. Contoh: Al-Jaami' Al-Shahih karya Imam Al-Bukhari.
- Al-Sunan, yaitu kitab hadits yang dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan bab-bab fiqih dan ahkam. Contoh: Sunan Abi Dawud.
- Al-Musnad, yaitu kitab hadits yang dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan nama sahabat yang meriwayatkan, tanpa pembagian berdasarkan topik. Contoh: Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal.
- Al-Mu'jam, yaitu kitab hadits yang dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan nama para sahabat (disebut dengan mu'jam al-shahabah) atau nama guru-gurunya (disebut dengan mu'jam al-syuyukh), yang diurutkan berdasarkan urutan huruf: alif, ba', ta', dan seterusnya. Contoh: Mu'jam Al-Thabrani Al-Awsath dan Mu'jam Al-Thabrani Al-Shaghir.
- Al-Shahih, yaitu kitab hadits yang hanya mencantumkan hadits-hadits yang shahih saja. Contoh: Al-Jaami' Al-Shahih karya Imam Al-Bukhari.
- Al-Mustadrak, yaitu kitab hadits yang berisi hadits-hadits shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim namun tidak tercantum dalam Shahih Al-Bukhari maupun Shahih Muslim. Contoh: Mustadrak Al-Hakim.
- Al-Muwaththa', yaitu kitab hadits yang dimudahkan untuk digunakan oleh para penuntut ilmu atau masyarakat yang lebih luas. Contoh: Muwaththa' Imam Malik.
Halaman 19 dari 69