Menara Islam
Toggle Navigation
  • Tentang Penulis
  • Peta Situs
  • Pencarian

Pengantar Tadabbur QS Al-Baqarah

Ditulis oleh Abdur Rosyid

QS Al-Baqarah merupakan surat madaniyah dan surat terpanjang dalam Al-Qur'an.

Munasabah QS Al-Baqarah dengan surat sebelumnnya

Diantara munasabah antara QS Al-Fatihah dan QS Al-Baqarah adalah mengenai petunjuk. Dalam QS Al-Fatihah, kita berdoa kepada Allah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

"(Ya Allah) Berilah kami petunjuk kepada jalan yang lurus".

Maka apakah petunjuk kepada jalan yang lurus itu? Allah menjelaskan dalam QS Al-Baqarah bahwa petunjuk itu tidak lain adalah Al-Qur'an, yang merupakan petunjuk bagi manusia secara umum dan bagi orang-orang yang bertawa secara khusus:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

"Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (QS Al-Baqarah: 2)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ

"Bulan Ramadhan, yang diturunkan Al-Qur'an didalam bulan tersebut, sebagai petunjuk bagi manusia." (QS Al-Baqarah: 185)

Selengkapnya...

Adab-adab Membaca Al-Qur'an

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Berikut ini beberapa adab membaca Al-Qur'an yang diringkas dari kitab "Al-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an" karya Imam Al-Nawawi. Penulis juga menyertakan beberapa hal yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali mengenai adab membaca Al-Qur'an dalam kitabnya "Ihya Ulumiddin". Adab-adab membaca Al-Qur'an ini pengurutannya sebagaimana dilakukan oleh Imam Al-Nawawi mengikuti urutan pelaksanaan amal, bukan berdasarkan tingkat pentingnya.

Pertama, ikhlas membacanya karena Allah semata.

Kedua, membersihkan mulut dan gigi, bisa dengan siwak atau dengan menggosok gigi memakai pasta gigi.

Ketiga, disukai dalam keadaan suci dari hadats kecil, tapi tidak wajib. Dalam hal ini telah ijma' bahwa boleh membaca Al-Qur'an meskipun dalam keadaan hadats kecil. Adapun untuk yang berhadats besar (yakni yang junub atau wanita haidh dan nifas) maka menurut madzhab Syafi'i sebagaimana dianut oleh Imam Al-Nawawi tidak boleh membaca Al-Qur'an, tetapi boleh membaca mushaf tanpa melafazhkan. Menurut sebagian ulama Syafi'iyah diperbolehkan juga mengucapkan dzikir-dzikir dan doa-doa dari ayat-ayat Al-Qur'an.

Keempat, disukai membaca Al-Qur'an di tempat yang bersih dan suci. Karena itulah disukai membaca Al-Qur'an di masjid karena tempatnya bersih dan suci, merupakan tempat yang mulia, dan juga mendapatkan pahala i'tikaf (karena itu hendaknya diniatkan sambil i'tikaf). 

Adapun membaca Al-Qur'an ketika mengendarai kendaraan, yakni di jalan, maka diperbolehkan jika tidak menyebabkan seseorang menjadi lalai. Adapun jika menyebabkan lalai maka dimakruhkan.

Kelima, disukai dengan menghadap qiblat, tapi tidak wajib. Imam Al-Ghazali menyebutkan keutamaan membaca Al-Qur'an didalam sholat, yakni ketika berdiri dalam sholat. Untuk tilawah diluar sholat, hendaknya juga membaca dengan duduk yang baik dan sopan. Membaca dengan berdiri dan berbaring juga boleh, hanya saja dengan duduk lebih utama. Ini tentu saja untuk tilawah diluar sholat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw, Abu Musa Al-Asy'ari, dan Aisyah pernah membaca Al-Qur'an sembari berbaring.

Selengkapnya...

Qiraat Al-Qur'an dan Para Qurra'

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Menurut jumhur, yang dimaksud dengan qiraat Al-Qur'an bukanlah tujuh huruf. Sebagaimana sudah dibahas disini, pada masa Utsman ibn Affan mushaf Al-Qur'an disatukan diatas dialek Quraisy, untuk mencegah perselisihan dan percekcokan di masa mendatang. Utsman membuat beberapa salinan mushaf dan dikirim ke kota-kota utama (amshar). 

Qurra' di kalangan sahabat

Para qurra' yang terkenal di kalangan sahabat antara lain adalah: Ubay ibn Ka'ab, Ali ibn Abi Thalib, Zaid ibn Tsabit, Abdullah ibn Mas'ud, Abu Musa Al-Asy'ari, Utsman ibn Affan, Abu Al-Darda'. Qurra' di kalangan sahabat-sahabat kecil biasa mengambil bacaan dari mereka. Misalnya, Ibnu Abbas mengambil bacaan Al-Qur'an dari Ubay ibn Ka'ab dan Zaid ibn Tsabit, sedangkan Abu Hurairah dan Abdullah ibn Al-Sa'ib mengambil bacaan dari Ubay ibn Ka'ab.

Qurra' di kalangan tabi'in yang mengambil dari para sahabat

Para tabi'in mengambil bacaan Al-Qur'an dari para sahabat sebagaimana disebutkan diatas. Para tabi'in ini kemudian mengajarkan bacaan Al-Qur'an di kota-kota besar.

  1. Di Madinah, ada: Ibnul Musayyab, 'Urwah, Salim, Umar ibn Abdil 'Aziz, Sulaiman ibn Yasar, Atha' ibn Yasar, Mu'adz ibn Al-Harits, Abdulrahman ibn Harmaj, Ibn Syihab Al-Zuhri, Muslim ibn Jundub, Zaid ibn Aslam.
  2. Di Makkah, ada: Ubaid ibn Umair, Atha' ibn Abi Rabbah, Thawus, Mujahid, Ikrimah, dan Ibn Abi Malikah.
  3. Di Kufah, ada: Alqamah, Al-Aswad, Masruq, Ubaidah, Amr ibn Syarhabil, Al-Harits ibn Qais, Amr ibn Maimun, Abu Abdirrahman Al-Salami, Sa'id ibn Jubair, Al-Nakhai, dan Al-Sya'bi.
  4. Di Bashrah, ada: Abu 'Aliyah, Abu Raja', Nashr ibn 'Ashim, Yahya ibn Ya'mar, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, dan Qatadah.
  5. Di Syam, ada: Al-Mughirah ibn Abi Syihab Al-Makhzumi (mengambil dari Utsman) dan Khalifah ibn Sa'ad (mengambil dari Abu Al-Darda').

Selengkapnya...

Sejarah Singkat Penghimpunan Al-Qur'an

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Bagaimana Al-Qur'an Diturunkan?

Terdapat dua pendapat yang masyhur mengenai bagaimana Al-Qur'an diturunkan. Pendapat pertama yang dianut oleh jumhur mengatakan bahwa Al-Qur'an turun dalam dua tahapan. Pertama-tama Al-Qur'an diturunkan seluruhnya secara lengkap ke Baitul 'Izzah di langit dunia. Ini terjadi pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Semenjak itu pula sampai dengan akhir kenabian, Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah saw. Adapun pendapat yang kedua mengatakan bahwa Al-Qur'an hanya diturunkan dengan satu cara yaitu berangsur-angsur selama masa kenabian, dan wahyu pertama diturunkan pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.

Terkadang Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah saw dalam beberapa ayat dan kadang-kadang satu surat penuh. Pada setiap tahun di bulan Ramadhan Jibril 'alaihissalam membimbing Rasulullah saw untuk tadarrus Al-Qur'an seluruhnya, dimana Jibril menunjukkan kepada Rasulullah ayat ini diletakkan disini dan ayat itu diletakkan disitu. Tentu saja Al-Qur'an yang di-tadarrus-i ini makin lengkap dari tahun ke tahun karena wahyu turun terus-menerus sepanjang masa kenabian beliau. Pada tahun terakhir kehidupan Rasulullah saw, beliau melakukan dua kali tadarrus Al-Qur'an bersama Jibril 'alaihissalam.

Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf. Para ulama berbeda pendapat mengenai maksud tujuh huruf ini. Namun pendapat yang paling masyhur mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ini adalah tujuh dialek. Dikatakan bahwa tujuh dialek ini adalah: 1) Quraisy, 2) Hudzail, 3) Tsaqif, 4) Hawazin, 5) Kinanah, 6) Tamim, dan 7) Yaman. Dari sini kita bisa memahami bahwa perbedaan dialek ini hanyalah pada beberapa kata tertentu dalam Al-Qur'an yang memang dialek-dialek tersebut menggunakan kata yang berbeda. Artinya, sebagian besar isi Al-Qur'an tetaplah sama dalam hal penggunaan kata.

Selengkapnya...

Pengantar Tafsir Al-Qur'an

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Dari sisi bahasa, tafsir artinya menerangkan atau menjelaskan. Dalam peristilahan, tafsir Al-Qur'an artinya penjelasan mengenai ayat-ayat Al-Qur'an yang mencakup makna, kandungan, hikmah-hikmah, pelajaran-pelajaran, dan petunjuk-petunjuknya serta hukum-hukum yang diambil darinya. 

Metodologi

Secara umum, tafsir bisa didasarkan pada riwayat (atsar) yang disebut sebagai al-tafsir bi al-riwayah atau al-tafsir bi al-ma'tsur dan bisa pula dilakukan dengan dirayah (pemahaman dan penalaran) yang disebut sebagai al-tafsir bi al-dirayah. Yang benar, tafsir itu mesti memadukan antara riwayat dan dirayah. Hal ini dikarenakan riwayat-riwayat tentang tafsir Al-Qur'an itu terbatas, sementara tadabbur mesti dilakukan terhadap semua ayat-ayat Al-Qur'an. Hanya saja disini penggunaan dirayah perlu dibingkai oleh metodologi yang benar.

Tafsir dengan riwayat dilakukan dengan dua cara: 1) tafsir Al-Qur'an dengan Al-Qur'an, dimana sangat sering bahwa ayat yang satu menafsiri ayat yang lainnya, 2) tafsir Al-Qur'an dengan Al-Sunnah karena As-Sunnah memang berfungsi sebagai penjelas bagi Al-Qur'an, 3) tafsir Al-Qur'an berdasarkan riwayat dari para sahabat, tabi'in, dan ulama salaf, karena kedekatan mereka dengan masa diturunkannya Al-Qur'an. Adapun tafsir dengan dirayah harus memperhatikan bingkai metodologi sebagai berikut:

  1. Tidak bertentangan dengan riwayat yang shahih.
  2. Mengikuti aturan, uslub, dan makna bahasa Arab sebagaimana dipahami pada masa Al-Qur'an diturunkan.
  3. Memperhatikan konteks ayat.
  4. Memperhatikan asbab al-nuzul dan ilmu-ilmu Al-Qur'an yang lainnya.
  5. Menjadikan Al-Qur'an sebagai "imam", bukan sebagai "makmum". Tidak menjadikan Al-Qur'an sekadar sebagai alat untuk melegitimasi kepentingan hawa nafsu semata (kepentingan politik, kepentingan kelompok, dan berbagai kepentingan dunia).

Selengkapnya...

Halaman 18 dari 69

  • 13
  • 14
  • ...
  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • ...
  • 21
  • 22
  • Halaman Depan
  • Fawaid
  • Bahasa Arab
  • Aqidah & Ushuluddin
  • Dirasat fil Adyan
  • Dirasat fil Firaq
  • Ulumul Qur'an
  • Tadabbur Al-Qur'an
  • Ulumul Hadits
  • Telaah Hadits
  • Ushul Fiqih
  • Fiqih Islam
  • Fiqih Siyasah
  • Akhlaq
  • Dakwah
  • Sirah, Kisah, Tarikh
  • Afkaar & 'Ibar
  • Hadharatuna
  • Islam & Iptek
  • Al-Qur'an & Iptek
  • Murattal Al-Qur'an
  • Mujawwad, Adzkar & Qashaid

Kembali ke Atas

© 2026 Menara Islam