Menara Islam
Toggle Navigation
  • Tentang Penulis
  • Peta Situs
  • Pencarian

Dalil Hukum: Qiyas

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Qiyas artinya menganalogikan hukum dari sesuatu yang tidak ada nash-nya pada hukum sesuatu yang lain yang ada nash-nya, karena adanya kesamaan 'illat.

Qiyas memiliki empat rukun: 1) pokok (al-ashl), 2) cabang (al-far'u), 3) hukum dari pokok (hukm al-ashl), dan 4) 'illat. Contohnya qiyas haramnya segala minuman yang memabukkan. Disini pokoknya adalah khamr, cabangnya adalah segala minuman yang memabukkan, hukum dari pokok adalah haram, dan 'illat-nya adalah sifat memabukkan.

Hasil dari qiyas tidak boleh bertentangan dengan dalil yang lebih kuat, yakni Al-Qur'an, As-Sunnah, dan Ijma'. 

Hukum dari pokok yang bisa digunakan untuk qiyas memiliki tiga syarat, yaitu:

  1. Merupakan suatu hukum syar'i yang ditetapkan berdasarkan nash. Syaikh Al-Utsaimin menambahkan dalam Al-Ushul min 'Ilmil Ushul, atau berdasarkan ijma'. 
  2. Bisa diketahui 'illat-nya oleh akal manusia. Biasa disebut sebagai "ma'qul al-ma'na". Dengan demikian, tidak boleh mengqiyaskan pada hukum-hukum yang "gahyr ma'qul al-ma'na" yakni ibadah-ibadah ta'abbudiyah, seperti jumlah rakaat shalat.
  3. Bukan merupakan hukum yang bersifat khusus. Hukum yang bersifat khusus ada dua macam. Pertama, bersifat khusus karena 'illatnya tidak ada pada hal yang lain. Misalnya hukum qashar sholat bagi musafir. Disini 'illat-nya adalah safar, yang tidak ada pada selain safar. Kedua, berlaku secara khusus. Misalnya hukum-hukum yang khusus bagi Rasulullah saw.

Adapun 'illat harus memenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Merupakan suatu sifat yang zhahir, bukan sifat yang sifatnya khafiy (tersembunyi). Contohnya: 'illat dari nasab adalah akad nikah, bukan asal air mani karena asal air mani sifatnya tersembunyi.
  2. Merupakan suatu sifat yang mundhabith, yakni terukur dan bisa didefinisikan dengan jelas. Bukan sesuatu yang berbeda-beda berdasarkan situasi, kondisi, dan dari satu orang ke orang yang lainnya. Karena itu sakit merupakan salah satu 'illat bolehnya berbuka puasa, sedangkan adanya masyaqqah tidak boleh dijadikan sebagai 'illat bolehnya berbuka puasa.
  3. Merupakan suatu sifat yang munasib, yakni sifat yang menjadi substansi dari suatu hukum. Karena itu 'illat dari haramnya khamr adalah sifat memabukkan, bukan warna khamr. 
  4. Merupakan suatu sifat yang tidak terbatas pada pokok saja. Artinya, sifat tersebut bisa didapati pada cabang. Karena itu, misalnya, tidak boleh mengqiyaskan pada hukum-hukum yang khusus hanya untuk Rasulullah saw. 

Selengkapnya...

Tanda-tanda Sehat dan Sakitnya Hati

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Shalahuddin 'Ali Abdul Maujud dalam bukunya Al-Qulub wa Aafaatuhaa menyebutkan beberapa diantara tanda-tanda hati yang sehat sebagai berikut:

  1. Senantiasa mengajak dan condong untuk kembali/taubat kepada Allah.
  2. Tidak enggan, malas, atau lelah untuk mengingat/berdzikir kepada Allah dan beribadah kepada Allah.
  3. Jika ketinggalan suatu ketaatan akan merasa kehilangan atau dalam bahasa Jawanya "eman".
  4. Merasakan lezat dan nikmatnya beribadah
  5. Ketika sholat bisa khusyu' dan tidak lalai serta sibuk memikirkan urusan dunia
  6. Merasa sayang jika waktunya terbuang percuma (tanpa manfaat)

Adapun diantara tanda-tanda hati yang sakit adalah sebagai berikut:

  1. Tidak merasa menyesal sesudah melakukan suatu keburukan.
  2. Merasa nikmat, sangat menikmati, dan nyaman ketika dan sesudah melakukan kemaksiatan.
  3. Rela kehilangan urusan agama demi mengejar urusan dunia.
  4. Benci dan merasa sempit/sesak dengan kebenaran/kebaikan.
  5. Benci ketaatan dan amal-amal shalih.
  6. Benci kepada orang-orang shalih dan merasa nyaman berkawan dekat dengan ahli maksiat.
  7. Tidak menyukai ahli kebaikan, ahli ilmu, ahli keutamaan, dan para dai, dan sebaliknya lebih menyukai ahli maksiat.
  8. Mudah menerima pemahaman yang menyimpang.
  9. Menyukai kemaksiatan.
  10. Takut kepada selain Allah (menyamai atau melebihi takut kepada Allah).
  11. Tidak mudah mengenali yang ma'ruf dan tidak mudah mengingkari yang munkar.
  12. Tidak suka mengingat Allah / berdzikir.
  13. Menyukai dan nyaman berada di tempat-tempat maksiat dan sebaliknya tidak suka dan tidak nyaman berada di tempat-tempat yang baik.

Tazkiyatun Nafs Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumiddin

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Imam Abu Hamid Al-Ghazali menjelaskan tentang tazkiyatun nafs dalam kitabnya Ihya 'Ulumiddin dengan membaginya menjadi empat bagian: 1) ibadat, 2) 'aadaat (kehidupan sehari-hari), 3) muhlikaat (hal-hal yang merusak dan menghancurkan), dan 4) munjiyaat (hal-hal yang menyelamatkan). 'Ibadat merupakan sarana untuk tazkiyatun nafs. Dalam bab 'ibadat, beliau memulai dengan pembahasan tentang ilmu kemudian diikuti dengan prinsip-prinsip aqidah. Sesudah itu beliau membahas mengenai rahasia-rahasia dibalik berbagai ibadah, antara lain sebagai berikut:

  1. Rahasia-rahasia thaharah
  2. Rahasia-rahasia sholat
  3. Rahasia-rahasia zakat
  4. Rahasia-rahasia puasa
  5. Rahasia-rahasia haji

Sesudah itu beliau membahas tentang adab-adab membaca Al-Qur'an, diikuti dengan dzikir-dzikir dan doa-doa. Lalu beliau menutup bab 'ibadat dengan pembahasan mengenai cara mengatur wirid dan menghidupkan malam.

Sesudah itu beliau membahas tentang bagaimana menjadikan aktivitas keseharian ('aadaat) kita juga bisa menjadi sarana tazkiyatun nafs. Kuncinya adalah menunaikan adab-adab dalam berbagai aktivitas keseharian kita. Beliau membahas hal ini dalam beberapa bagian sebagai berikut:

  1. Adab-adab makan
  2. Adab-adab nikah
  3. Adab-adab bekerja dan mencari penghasilan
  4. Halal dan haram
  5. Adab-adab berinteraksi dengan orang lain dan makhluq-makhluq Allah lainnya
  6. Adab-adab 'uzlah
  7. Adab-adab bepergian
  8. Adab-adab mendengarkan syair, lagu, dan semacamnya dan melihat tontonan
  9. Amar ma'ruf nahy munkar
  10. Meneladani akhlaq Rasulullah saw

Selengkapnya...

Tadabbur: Karakter Ulul Albab

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Dalam QS Shaad: 29, Allah Ta'ala menjelaskan bahwa ulul albab adalah orang-orang yang mentadabburi ayat-ayat Al-Qur'an sehingga mendapatkan pelajaran dan peringatan darinya.

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka men-tadabburi ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang berakal pikiran (ulul albab) mendapatkan pelajaran."

Sementara itu, dalam QS Ali 'Imran: 190 - 191, Allah Ta'ala menjelaskan bahwa ulul albab itu berdzikir dalam setiap keadaan dan men-tafakkuri penciptaan langit dan bumi sampai menyadari keagungan dan kemahabijaksaan Allah dan ia pun bertambah rasa takutnya kepada Allah dan adzab-Nya.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."

Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa karakter ulul albab itu tiga.

Pertama, ahlut tadabbur, yakni senantiasa mentadabburi ayat-ayat Al-Qur'an.

Kedua, ahlut tafakkur, yakni senantiasa mentafakkuri ayat-ayat Allah yang ada dalam ciptaan-ciptaan-Nya.

Ketiga, ahludz dzikr, yakni senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaannya.

Tadabbur: Penghalang Hidayah

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Dalam penggal akhir QS Al-Zumar: 3, Allah Ta'ala berfirman: 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

"Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang pendusta dan suka mengingkari/menutupi."

Dari sini kita bisa menarik pelajaran bahwa dua hal yang bisa menghalangi datangnya hidayah (petunjuk) Allah kepada seseorang adalah:

Pertama, berdusta atau mendustakan. Yakni berdusta tentang kebenaran, atau mendustakan kebenaran.

Kedua, suka mengingkari dan menutupi. Yakni, mengingkari atau menutupi kebenaran.

Dua sifat diatas memiliki kesamaan, yaitu tidak menerima dengan tulus suatu kebenaran. Biasanya karena kesombongan ataupun gengsi. Inilah yang bisa menghalangi datangnya hidayah (petunjuk). Jika kita ingin mendapatkan hidayah dari Allah, maka kita harus bersikap jujur dan tulus atas kebenaran yang datang kepada kita.

Halaman 21 dari 69

  • 16
  • 17
  • 18
  • 19
  • ...
  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • ...
  • Halaman Depan
  • Fawaid
  • Bahasa Arab
  • Aqidah & Ushuluddin
  • Dirasat fil Adyan
  • Dirasat fil Firaq
  • Ulumul Qur'an
  • Tadabbur Al-Qur'an
  • Ulumul Hadits
  • Telaah Hadits
  • Ushul Fiqih
  • Fiqih Islam
  • Fiqih Siyasah
  • Akhlaq
  • Dakwah
  • Sirah, Kisah, Tarikh
  • Afkaar & 'Ibar
  • Hadharatuna
  • Islam & Iptek
  • Al-Qur'an & Iptek
  • Murattal Al-Qur'an
  • Mujawwad, Adzkar & Qashaid

Kembali ke Atas

© 2026 Menara Islam