Menara Islam
Toggle Navigation
  • Tentang Penulis
  • Peta Situs
  • Pencarian

Mengenal Kitab Suci Agama Yahudi

Ditulis oleh Abdur Rosyid

ImageOrang Yahudi meyakini bahwa Allah (G-d , Yahweh, TUHAN ) telah menurunkan kepada Musa:

1) Taurat Tertulis, yang kemudian biasa disebut Taurat saja, Torah, atau Tanakh, yang berisi Lima Kitab Nabi Musa : Genesis (Kejadian), Eksodus (Keluaran), Leviticus (Imamat), Numbers (Bilangan), dan Deuteronomy (Ulangan). Namun terkadang istilah Tanakh atau Taurat Tertulis juga dipakai untuk menyebut keseluruhan bagian yang biasa disebut oleh orang Kristen sebagai Perjanjian Lama (The Old Testament) dan merupakan Bible bagi orang Yahudi (Jewish Bible). Mereka meyakini bahwa Tanakh merupakan firman Allah yang didiktekan kepada Nabi Musa lalu Musa menuliskannya dalam dua buah lempeng batu, dan hal itu terjadi saat Nabi Musa menemui Allah di Bukit Sinai selama empat puluh hari empat puluh malam. Dan, Nabi Musa menerima pendiktean wahyu itu dua kali, karena – menurut mereka – Nabi Musa telah memecahkan kedua lempeng batu yang diterima kali pertama saat marah melihat umatnya ternyata menyembah patung lembu dari emas. Sehingga, ia terpaksa mengambil lempengan batu dan menuliskan wahyu lagi untuk kedua kalinya.

Selengkapnya...

Dakwah adalah untuk Semua

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Islam adalah agama universal, untuk seluruh umat manusia. Islam bukan agama rasial seperti Yahudi. Islam bukan pula agama orang Arab saja. Dalam Islam, kemuliaan diukur dari kadar ketakwaan. “Inna akramakum ‘indallahi atqaakum”. Derajat seseorang juga akan diangkat oleh Allah karena kadar keimanan dan keilmuan. Yang dimaksud dengan keilmuan adalah ketaqwaan itu sendiri. “Innama yakhsyallaha min ‘ibaadihil ‘ulamaa”.

ImageSiapa yang kita ajak kepada cahaya Islam? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita tengok beberapa kejadian dalam sirah Nabi, yang relevan dengan pertanyaan tersebut. Suatu ketika Nabi sedang berusaha mengislamkan beberapa borjuis dan orang penting Quraisy. Barangkali, Nabi berharap bahwa keislaman mereka akan membawa progres dakwah yang pesat, karena mereka merupakan orang-orang yang sangat berpengaruh dan juga simpul massa (memiliki banyak pengikut). Ketika Nabi sedang asyik berbincang-bincang dengan mereka, datanglah Ibnu Ummi Maktum, seorang buta yang papa, meminta kepada Nabi agar juga mau mengajarkan Islam kepadanya. Tetapi, permintaan Ibnu Ummi Maktum itu telah membuat Nabi menjadi bermasam muka, karena barangkali mengganggu perbincangan diplomatis beliau dengan para petinggi Quraisy. Saat itulah, Allah yang Maha Bijaksana memberikan teguran - QS ‘Abasa - kepada Nabi untuk tidak bermasam muka kepada Ibnu Ummi Maktum, yang meskipun papa akan tetapi memiliki kemauan yang besar untuk berubah menjadi baik.

Selengkapnya...

Bagaimana Menghadapi Perluasan Dakwah?

Ditulis oleh Abdur Rosyid

ImageUntuk menjawab pertanyaan pada judul diatas, marilah kita tengok sejenak perjalanan dakwah Nabi saw. Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah) merupakan titik awal yang sangat signifikan bagi perluasan dakwah Islam. Setidaknya ada beberapa ciri yang menandai perluasan dakwah Islam pasca Fathu Makkah.

Motif orang untuk masuk Islam menjadi semakin beragam.

Mereka yang masuk Islam pasca Fathu Makkah biasa dikenal sebagai thulaqa’ (jamak dari thaliq). Sebagaimana dikatakan oleh Sayyid Sabiq dalam buku beliau “At-Tashwiirul Fanniy fil Qur’aan”, motif keislaman masyarakat Arab senantiasa berkembang dari waktu ke waktu dalam perjalanan kerasulan Muhammad. Ketika Nabi masih tinggal di Makkah, yang menjadi motif dominan adalah kemukjizatan Al-Qur’an itu sendiri. Sesudah Nabi hijrah ke Madinah dan kaum muslimin sudah memiliki kekuasaan dan kekuatan, maka ada orang yang kemudian masuk Islam karena melihat keadilan, keindahan dan kesempurnaan syariat Islam, ada yang masuk Islam karena melihat bahwa kaum muslimin senantiasa menang dalam peperangan, demikian seterusnya. Sesudah Nabi membebaskan Kota Makkah, maka manusia berbondong-bondong masuk Islam (QS Al-Nashr). Tentu saja motif keislaman mereka juga semakin beragam. Barangkali ada juga yang masuk Islam karena tidak ada jalan lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih prospektif kecuali dengan masuk Islam, atau masuk Islam karena ingin mendapatkan banyak rampasan perang (ghanimah), dan sebagainya. Apakah itu mungkin? Sangat Mungkin! Bayangkan betapa gentarnya penduduk Makkah ketika pasukan Islam memasuki Makkah. Pasukan Islam itu adalah pasukan yang selama beberapa kali peperangan tidak pernah kalah. Pasukan Islam itu pun akhirnya memasuki Makkah tanpa perlawanan dan tanpa darah! (kecuali darah beberapa gelintir orang saja dan itu sangat tidak signifikan).

Selengkapnya...

Antara Semakin Dewasa dan Semakin Luntur

Ditulis oleh Abdur Rosyid

ImageKetika seseorang menapaki jalan dakwah dari waktu ke waktu maka ia pasti mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran. Semakin panjang rute dakwah yang telah ia lewati, maka ia haruslah semakin dewasa dan bijaksana. Seorang juru dakwah haruslah seorang ulul abshar, yang senantiasa cermat dalam menarik pelajaran (ibrah).

Akan tetapi, kita hendaknya bisa membedakan antara semakin dewasa dan semakin permisif, luntur, dan longgar. Keduanya tentu amat berbeda. Semakin dewasa tentu baik. Namun semakin permisif, luntur, dan longgar bukanlah sebuah kemajuan, tetapi sebaliknya : sebuah kemunduran.

Selengkapnya...

Akulturasi Budaya Itu ...

Ditulis oleh Abdur Rosyid

ImageDahulu, kita memiliki novel-novel yang senantiasa bertemakan perjuangan. Novel-novel itu akhirnya semakin banyak dicetak karena semakin banyak peminatnya. Karena peminatnya itu mempunyai gaya hidup dan budaya yang beragam, maka tema-tema novel kita pun semakin beragam pula. Kini muncul pula novel-novel cinta, novel-novel gaul, dan sebagainya. Ternyata, semakin lama novel-novel itu akhirnya sulit dibedakan dengan novel-novel populer jaman dulu. Yang berbeda hanyalah penerbitnya saja.

Dan akhirnya, adanya usaha-usaha sebelumnya untuk mencetak novel-novel bertema perjuangan itu seakan-akan tidak ada artinya, karena toh akhirnya kembali kepada tren novel sebagaimana sebelum novel-novel perjuangan itu ada. Sehingga…, novel-novel perjuangan itu tidak lebih hanyalah sepenggal sejarah dari sejarah panjang dunia pernovelan.

Selengkapnya...

Halaman 56 dari 69

  • 51
  • 52
  • 53
  • 54
  • ...
  • 56
  • 57
  • 58
  • 59
  • ...
  • Halaman Depan
  • Fawaid
  • Bahasa Arab
  • Aqidah & Ushuluddin
  • Dirasat fil Adyan
  • Dirasat fil Firaq
  • Ulumul Qur'an
  • Tadabbur Al-Qur'an
  • Ulumul Hadits
  • Telaah Hadits
  • Ushul Fiqih
  • Fiqih Islam
  • Fiqih Siyasah
  • Akhlaq
  • Dakwah
  • Sirah, Kisah, Tarikh
  • Afkaar & 'Ibar
  • Hadharatuna
  • Islam & Iptek
  • Al-Qur'an & Iptek
  • Murattal Al-Qur'an
  • Mujawwad, Adzkar & Qashaid

Kembali ke Atas

© 2026 Menara Islam