Studi Pergerakan Dakwah Islam
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Urgensi : Dengan mempelajari dinamika pergerakan dakwah dari masa ke masa, kita berharap akan bisa melakukan analisis terhadap berbagai aspek dakwah : metode dan strategi dakwah yang efektif, faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya dakwah, dsb. Ini semua kemudian kita jadikan sebagai bekal tajribiyyat dalam menata strategi dakwah yang tepat. Hal ini amat memungkinkan karena sejarah manusia itu memiliki sunnatullah yang tidak akan pernah berubah kapanpun juga.
Kronologi pergerakan dakwah Islam :
Pergerakan Dakwah Nabi
Nabi melakukan pergerakan dakwah sirriyah di awal kenabian. Setelah turunnya surat Al-Muddatstsir, beliau men-jahr-kan dakwah. Dua model dakwah ini beliau lakukan di Makkah dalam kerangka konsolidasi kader-kader dakwah. Dalam kerangka inilah, Nabi memilih untuk menahan diri dari segala bentuk konfrontasi.
Setelah Nabi hijrah ke Madinah dan berhasil membangun kekuatan dakwah, Nabi tetap melanjutkan dakwah jahriyyah, hanya saja kali ini bersifat difa’iy sekaligus futuhiy.
Dasar-dasar Balaghah
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Shifat kalam yang baliigh
- Tanaasuq al-ashwaat (kesesuaian bunyi) : a) derajat terendahnya ialah ketiadaan tanaafur huruf, b) derajat tertingginya ialah kesesuaian antara bunyi dan makna.
- Tarkib lughawi yang sesuai : a) shahih (bebas dari khatha’ dan syadzdz), b) merepresentasikan makna secara efektif
- Mengandung unsur-unsur imajinatif yang berkesan.
1) Madhmun = makna
2) Syakl = lafazh
Hubungan diantara keduanya ibarat jasad dengan ruh.
Definisi Ilmu Balaghah
Ilmu Balaghah ialah ilmu untuk menerapkan (mengimplementasikan) makna dalam lafazh-lafazh yang sesuai (muthabaaqah al-kalaam bi muqtadhaa al-haal).
Polemik Sekitar Hubungan antara Akal dan Naqal (Teks-Teks Syariat)
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Berikut ini petikan diskusi bersama Dr. Yusuf Qardhawi seputar polemik mengenai hubungan antara akal pemikiran manusia dan teks-teks syariat (naqal). Hubungan diantara keduanya sebetulnya senantiasa berlangsung di tengah-tengah umat Islam semenjak masa-masa awal dan menjadi lebih hebat lagi di masa khulafa’ rasyidun – semoga Allah meridhai mereka. Setiap kali pintu-pintu ilmu pengetahuan dan kebudayaan terbuka di dunia Islam maka disana senantiasa terjadi hubungan diantara keduanya. Permasalahan ini bertambah ketika muncul polemik mengenai hubungan antara akal dan naqal, segera setelah umat Islam berinteraksi dengan kebudayaan Yunani dan Filsafat Yunani Kuno. Akal dan naqal, ada pertentangan diantara keduanya ataukah tidak ada ?
Moderator : Saya sangat gembira karena, sebagaimana biasanya, akan menyertai saya dalam dialog ini yang terhormat Allamah Dr. Yusuf Qardhawi. Selamat datang, Syaikh …Moderator : Kalau boleh saya akan memulai dengan pertanyaan yang barangkali agak aneh, yakni bahwasanya kata akal dan hal-hal yang berorientasi kesana dipakai secara sangat signifikan dalam sejarah pensyariatan Islam, namun tidak terlihat bahwasanya Al-Qur’an menyebut kata ini secara eksplisit dan tegas, akal, begitu. Tidak dimaksudkan dalam hal ini ungkapan-ungkapan seperti “afalaa ya’qiluun”…
Klasifikasi Kata Menurut Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Dalam tata bahasa Arab, sebagaimana juga dalam tata bahasa yang lain, kata sebagai satuan terkecil bahasa bisa diklasifikasikan menjadi berbagai macam kelompok. Ini tentu saja kemudian memudahkan kita dalam mempelajari tata bahasa Arab. Kata, dalam bahasa Arab, pertama-tama dibagi menjadi: isim, fi'il dan huruf. Selanjutnya, kata ada yang mabni dan ada yang mu'rab, ada yang mudzakkar dan ada yang muannats, dan sebagainya. Berbagai jenis kelompok kata ini seluruhnya bisa dilihat dalam uraian berikut ini.
Kepahaman dan Ketaatan: Dua Hal yang Tak Terpisahkan
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Di awal-awal keterlibatan saya dalam organisasi dakwah kampus, kurang lebih pada akhir tahun 90-an, saya sempat dihadapkan pada sebuah fenomena. Beberapa saudara saya, dalam penilaian saya, telah berusaha - secara sadar ataupun tidak sadar - mempertentangkan secara frontal antara kepahaman (al-fahm), kepercayaan (ats-tsiqah), dan ketaatan (ath-tha'ah). Mereka seolah-olah hendak mengatakan bahwa kepahaman dan ketaatan adalah dua hal yang terpisah. Kepahaman ada di satu sisi sedangkan ketaatan ada pada sisi yang lainnya.
Realitas yang ada ketika itu, dalam penglihatan saya, adalah bahwa pimpinan organisasi dakwah tidak bisa memberikan (mentransfer) informasi yang cukup kepada para anggotanya, pada saat mereka memberikan berbagai perintah untuk dilaksanakan. Akibatnya, para anggota jadi 'tidak nyambung' dan merasa harus menjadi 'robot'. Ketika ada usaha dari anggota untuk menggali informasi yang ia butuhkan, sekadar untuk meyakinkan dirinya bahwa yang ia lakukan adalah baik dan benar, ada anggapan bahwa anggota tersebut telah bersikap kurang taat. Padahal, permasalahannya sesungguhnya bukan masalah taat atau tidak taat, akan tetapi belum cukupnya informasi dan kepahaman.
Halaman 51 dari 69