Wa Maa 'Alainaa Illal Balaagh
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Salah satu asholah dakwah adalah kebebasan memilih. Kebebasan memilih tidak pernah boleh direnggut. Jika Allah Sang Maha Pencipta telah menetapkan kebebasan itu semenjak manusia dilahirkan, bagaimana kita akan merampasnya?
Memahami kebebasan manusia untuk memilih ini amat penting terkait dengan dakwah Islam. Berkali-kali Allah dalam Al-Qur’an mengatakan kepada Nabi,”Tidaklah engkau ini (wahai Muhammad) kecuali sekedar penyampai saja”. Jadi, Allah menegaskan bahwa Nabi saw hanyalah penyampai saja. Adapun mengenai sikap mereka setelah itu, menerima atau menolak, maka itu bukanlah urusan Nabi saw. Hidayah adalah urusan Allah. Dia memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dia menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki.
Semua Harus Dengar tentang Islam
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Sebagian kalangan berusaha mempertentangkan ayat “Laa ikraaha fid diin” dengan ayat-ayat dan hadits-hadits tentang jihad. Sebetulnya, jika kita memiliki pemahaman yang benar dan mendalam, maka pertentangan itu sebetulnya tidak ada sama sekali. Didalam Al-Qur’an tidak ada kontradiksi!
Yang diinginkan oleh Islam hanyalah agar setiap manusia yang ada di muka bumi mendapatkan informasi yang benar tentang Islam, selanjutnya setiap orang bebas memilih antara Islam dan kafir. Jika kita memaksa setiap orang untuk berislam, maka status mukhtaar (yang bebas memilih) mereka telah hilang dan berubah menjadi status mukrah (yang dipaksa). Padahal Allah hanya memberikan balasan kebaikan dan keburukan, Surga dan Neraka, kepada manusia dan jin karena mereka diberikan taklif (beban) sementara mereka bebas memilih. Jika mereka tidak lagi bisa memilih, maka tidak ada lagi Surga dan Neraka bagi mereka. Hewan, tumbuh-tumbuhan, bumi, langit, bahkan para malaikat tidak berhak atas Surga dan Neraka karena mereka semua tidak bisa memilih. Para malaikat tidak bisa memilih untuk durhaka kepada Allah. Bagaimana dengan Iblis yang telah dicap masuk Neraka? Sesungguhnya dahulu Iblis telah diberikan kesempatan untuk memilih, apakah dia mau mentaati perintah Allah untuk bersujud kepada Adam, ataukah tidak. Lalu, Iblis memilih durhaka.
Pengantar Perbandingan Agama
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Apakah Perbandingan Agama Itu ?
Perbandingan Agama (al-Diraasat fii al-Diyaanat) merupakan sebuah disiplin ilmu yang didalamnya dilakukan perbandingan antara berbagai agama, menyangkut sejarah ataupun doktrin, dengan didasarkan pada asas tertentu. Bagi seorang muslim, Perbandingan Agama harus didasarkan pada asas semangat dan keyakinan atas kebenaran Islam diatas semua agama.
Mengapa Kita Mempelajari Perbandingan Agama ?
Kita mempelajari Perbandingan Agama untuk beberapa tujuan antara lain :
- Untuk semakin menguatkan keyakinan kita terhadap kebenaran Islam dan kebathilan agama-agama yang lain.
- Untuk bisa menggagas dialog antar agama, dalam rangka dakwah dan kemaslahatan bersama.
Mengenal Yahudi
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Istilah “Yahudi (Judaism)” berasal dari kata Yahuda (Judah), salah satu dari dua belas anak Ya’qub. Setelah kematian Sulaiman, bangsa Israel terbagi menjadi dua : Kerajaan Yahuda dan Kerajaan Israel. Pada abad VI SM Kerajaan Israel ditaklukkan oleh Assiria dan penduduknya diusir. Sehingga, bangsa Israel yang tersisa hanyalah yang berada di Kerajaan Yahuda. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai Yahudi.

Siapa Yang Disebut Sebagai Seorang Yahudi ?
Bagi Golongan Tradisional (Konservatif dan Orthodoks), seorang Yahudi ialah setiap orang yang ibunya adalah seorang Yahudi (matrilineal) atau setiap orang yang telah melalui proses konversi resmi untuk menjadi Yahudi. Bagi mereka, Yahudi sebetulnya lebih merupakan sebuah kebangsaan daripada sebuah agama. Akan tetapi bagi Golongan Reformasi, seseorang dianggap Yahudi jika salah satu dari kedua orangtuanya adalah Yahudi dan yang bersangkutan menganut paham Yahudi. Sehingga seorang anak dari ayah yang Kristen dan ibu yang Yahudi, sementara anak itu tidak menganut paham Yahudi, maka anak itu adalah Yahudi menurut Golongan Tradisional tetapi anak itu bukan Yahudi menurut Golongan Reformasi.
Masjid sebagai Basis Dakwah
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Sebuah hal yang tidak lagi diingkari, bahwa hal pertama yang dilakukan oleh Nabi sesampai di Madinah adalah membangun masjid. Hal lainnya yang juga beliau lakukan sesudah itu ialah mempersaudarakan kaum muslimin, terutama antara muhajirin dan anshar, serta membuat kesepakatan-kesepakatan konstitusional bersama segenap elemen masyarakat yang ada di Madinah. Sa’id Ramadhan Al-Buthiy - dalam bukunya Fiqh al-Siirah - menyebut ketiganya sebagai Asas-asas Masyarakat Baru.
Betapa pentingnya arti sebuah masjid, Nabi saw juga menyempatkan diri membangun masjid di Quba’ meskipun beliau hanya tinggal di situ selama empat hari saja.
Halaman 54 dari 69