Menara Islam
Toggle Navigation
  • Tentang Penulis
  • Peta Situs
  • Pencarian

Mengenal Allah (Ma'rifatullah)

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Fitrah setiap manusia pasti merasakan keberadaan Allah. Indera dan akal juga mendukung fitrah tersebut. Bagaimana mungkin alam yang terbentang luas ini ada dengan sendirinya? Bagaimana mungkin alam semesta dengan segenap bagian-bagiannya sampai yang paling kecil sekalipun bisa eksis dalam keteraturan yang mencengangkan? Tidak bisa tidak, Allah pasti ada. Dan lebih dari sekadar ada, Allah pastilah Dzat yang Satu dan Maha Sempurna.

ImageKita memang tidak bisa melihat Allah, akan tetapi kita bisa mengenal-Nya melalui ayat-ayat-Nya, baik ayat-ayat yang Ia firmankan melalui lisan para rasul-Nya (ayat-ayat qauliyah) maupun ayat-ayat yang Ia ciptakan berupa alam semesta beserta segenap isinya (ayat-ayat kauniyah).

Melalui firman-firman-Nya, Allah memperkenalkan diri-Nya dan memberitahukan sifat-sifat-Nya kepada kita semua. Pada saat yang sama, firman-firman Allah juga mengajak kita untuk mentafakkuri ayat-ayat-Nya yang terbentang di alam semesta dan bahkan yang ada dalam diri kita sendiri. Dengan tafakkur yang sungguh-sungguh, kita pasti akan sampai pada kesimpulan bahwa tidaklah Allah menciptakan sesuatupun dengan sia-sia. Kita akan merasa takjub pada kebesaran-Nya dan berkata,”Subhanallah, Maha Suci Allah.” Dan ketika itulah keimanan dan rasa takut kita kepada-Nya akan semakin menguat! Itulah sebabnya jika kita semakin mengenal Allah maka kita akan semakin beriman dan bertakwa kepada-Nya.

Selengkapnya...

Makna Syahadat

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Sebagai muslim, kita tentu tidak asing lagi dengan dua kalimat syahadat atau yang biasa dikenal sebagai syahadatain. Bagaimana tidak? Semenjak kecil kalimat ini sudah diajarkan pada kita. Setiap hari paling tidak kita mengucapkan kalimat ini berkali-kali dalam tasyahud shalat kita. Belum lagi dalam dzikir-dzikir yang kita ucapkan. Namun, meski kita sudah sedemikian akrab dengan kalimat ini, kita harus bertanya pada diri kita apakah kita sudah menghayatinya dengan penghayatan yang sebenar-benarnya untuk kemudian mengejewantahkannya dalam kehidupan?

ImageKalimat syahadat terdiri dari dua bagian. Yang pertama disebut syahadat tauhid. Yang kedua disebut syahadat kerasulan. Dalam syahadat tauhid, kita mempersaksikan, berikrar dan berjanji bahwa laa ilaha illallah ’tidak ada ilah selain Allah’. Pernyataan ini pertama-tama bermakna bahwa tidak ada yang memiliki sifat-sifat rububiyah kecuali Allah. Maknanya, Allah sajalah pencipta alam semesta ini sekaligus pemelihara urusan-urusannya, pemberi rizki kepada semua makhluq dan pemilik hakiki dari semua yang ada di alam ini. Namun, kesaksian atas rububiyah ini tidak serta merta membuat seseorang menjadi seorang muslim. Untuk menjadi seorang muslim, seseorang harus melangkah pada makna syahadat tauhid yang lebih jauh, yakni tidak ada yang berhak diibadahi dalam hidup ini kecuali Allah. Sebenarnya, makna ini adalah konsekuensi logis dari makna rububiyah tadi. Bukankah jika seseorang telah mengakui bahwa satu-satunya pemilik sifat rububiyah adalah Allah maka tidak ada lagi pilihan lain baginya kecuali tunduk patuh beribadah kepada-Nya?

Selengkapnya...

Sebab-sebab "Tidak Dikabulkannya" Doa

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Setiap kita tentunya biasa berdoa kepada Allah. Kita memohon kepada-Nya agar hajat dan keinginan kita Ia kabulkan. Ketika kita benar-benar butuh, tidak jarang kita berdoa sambil mengiba kepada Allah. Namun barangkali tidak jarang kita merasa doa kita tidak dikabulkan, atau setidak-tidaknya tidak segera dikabulkan.

ImageKetika seseorang merasa doanya tidak kunjung dikabulkan, tidak jarang sejak saat itu ia pun tidak lagi berdoa dan tidak punya harapan bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah. Padahal sikap seperti ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selagi ia tidak buru-buru. (Yakni jika) ia berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Dalam lafazh Muslim disebutkan: “Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan minta agar doa segera dikabulkan?’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ’(Yakni) hamba itu berkata, ‘Aku berdoa dan berdoa, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (HR Muslim)

Selengkapnya...

Ciri-ciri Taqwa

Ditulis oleh Abdur Rosyid

ImageTaqwa merupakan status yang sangat mulia bagi seorang manusia. Hanya saja, yang berhak menetapkan status ini pada diri seorang manusia hanyalah Allah. Taqwa merupakan orientasi yang sering dinyatakan dari ditetapkannya berbagai bentuk perintah dan larangan: la’allakum tattaqun ‘agar kalian bertaqwa’.

Di beberapa tempat dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan kepada kita gambaran tentang orang-orang yang bertaqwa, agar kita mengetahui potret dan ciri-ciri mereka. Sebagian diantara ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut.

Menegakkan shalat (Lihat QS 2 : 3, 177)

Shalat adalah sarana untuk mengingat Allah secara kontinyu dalam kehidupan kita, setidak-tidaknya lima kali dalam sehari semalam, sehingga kita tidak akan hanyut dan terbuai oleh tipu daya kehidupan dunia. Menegakkan shalat tidaklah semata-mata mengerjakan shalat, akan tetapi juga menjaga bekasnya diluar shalat, yaitu tercegahnya diri kita dari perbuatan keji dan munkar.

Selengkapnya...

Makna dan Tingkatan-tingkatan Riya'

Ditulis oleh Abdur Rosyid

ImageDari segi bahasa, riya’ masih satu akar dengan kata ru’yah yang berarti penglihatan. Riya’ artinya melakukan suatu amalan karena ingin dilihat oleh manusia. Orang yang riya’ ingin agar orang lain mengetahui amalannya kemudian merasa takjub dan memberikan pujian kepadanya. Disinilah kita paham bahwa riya’ adalah lawan dari ikhlas, karena riya’ berarti pamrih kepada manusia, sedangkan ikhlas hanya ‘pamrih’ kepada Allah Ta’ala.

Para ulama sendiri menyebut riya’ sebagai syirik tersembunyi (al-syirk al-khafiyy). Riya’ dikategorikan sebagai syirik karena orang yang riya’ berarti telah menyekutukan tujuan ibadahnya. Ia tidak hanya menjadikan Allah sebagai tujuan, tetapi telah menjadi manusia sebagai sekutu bagi Allah. Allah sendiri sangat tidak suka dengan orang-orang yang riya’. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman: “Ana aghnasy syuraka’ ‘anis syirk. Faman ‘amila ‘amalan asyraka fiihi ghairii fahuwa lilladzii asyraka, wa ana minhu barii’ (Aku adalah Dzat yang sama sekali tidak butuh sekutu. Maka barangsiapa melakukan suatu amal perbuatan dengan menyekutukan Aku, maka amal perbuatan itu adalah untuk sekutunya, dan Aku berlepas darinya).” (HR Muslim, Ibnu Majah, Ahmad) Alangkah ruginya kita jika berbuat riya’ karena Allah akan berlepas diri dari kita dan tidak akan mau menerima amalan kita.

Selengkapnya...

Halaman 46 dari 69

  • 41
  • 42
  • 43
  • 44
  • ...
  • 46
  • 47
  • 48
  • 49
  • ...
  • Halaman Depan
  • Fawaid
  • Bahasa Arab
  • Aqidah & Ushuluddin
  • Dirasat fil Adyan
  • Dirasat fil Firaq
  • Ulumul Qur'an
  • Tadabbur Al-Qur'an
  • Ulumul Hadits
  • Telaah Hadits
  • Ushul Fiqih
  • Fiqih Islam
  • Fiqih Siyasah
  • Akhlaq
  • Dakwah
  • Sirah, Kisah, Tarikh
  • Afkaar & 'Ibar
  • Hadharatuna
  • Islam & Iptek
  • Al-Qur'an & Iptek
  • Murattal Al-Qur'an
  • Mujawwad, Adzkar & Qashaid

Kembali ke Atas

© 2026 Menara Islam