Makna dan Hakikat Ramadhan
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Sudah berapa kali kita berjumpa Ramadhan? Bagaimana kita memaknai Ramadhan selama ini? Apakah kita biasa melaluinya begitu saja? Ataukah kita menjalaninya dengan biasa-biasa saja? Ataukah kita benar-benar mengistimewakan dan mengoptimalkannya untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik lagi?
Jika kita ingin benar-benar mengistimewakan dan mengoptimalkan Ramadhan, tidak bisa tidak kita harus memahami hakikat Ramadhan. Berikut ini beberapa makna dan hakikatnya.
Bulan Ramadhan adalah Bulan Bercermin Diri (Syahrul Muhasabah)
Seberapa bersemangat dan seberapa mampu kita memanfaatkan Ramadhan pada setiap menit dan detiknya, merupakan indikasi ketaqwaan kita kepada Allah. Dari sini kita bisa menilai diri kita, apakah kita termasuk hamba Allah yang dzalimun linafsihi (masih suka menganiaya diri sendiri), atau yang muqtashid (yang pas-pasan saja), ataukah yang sabiqun bil khairat (yang bergegas dalam melaksanakan berbagai kebaikan).
Ponari Sweat, Masyarakat Klenik, dan Masyarakat Madani
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Di negeri kita ini memang banyak fenomena yang aneh-aneh. Pernah kita dibuat gedheg-gedheg oleh fenomena ‘batu-batu ajaib’ yang konon diyakini bisa menyembuhkan ‘segala macam’ penyakit. Saya sebut ‘batu-batu ajaib’ dan bukan sekadar ‘batu ajaib’ karena batu tersebut ternyata jumlahnya tidak hanya satu. Setelah ada satu orang mengaku punya (baca: Ponari), ada saja orang lain yang bilang bahwa ia juga punya.
Anda yang gemar kartun silat tentunya masih belum lupa dengan serial Dragon Ball. Dalam serial tersebut diceritakan adanya beberapa batu ajaib yang jika seseorang berhasil mengumpulkannya maka ia akan menjadi maha sakti dan juga awet muda. Seolah tidak mau kalah dengan batu-batu ajaib ala Dragon Ball, tidak jauh dari kita dan tidak lagi hanya ada dalam film kartun, ada batu-batu yang diyakini memiliki kesaktian serupa.
Berbondong-bondong, dan katanya ribuan jumlahnya, orang-orang datang dari berbagai penjuru daerah hanya untuk ngalap berkah dari batu-batu tersebut. Mereka bahkan rela berdesak-desakan dan ngantre berjam-jam bahkan sampai nginap hanya untuk tujuan tersebut.
Solusi bagi Korupsi di Negeri Ini
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Semua orang pasti tahu bahwa penyakit terparah negeri ini adalah budaya korupsi, suap, dan kolusi. Koran Singapura The Straits Times sekali waktu pernah menjuluki Indonesia sebagai the envelope country, karena segala hal bisa dibeli, entah itu lisensi, tender, wartawan, hakim, jaksa, polisi, petugas pajak atau yang lain. Pendek kata segala urusan semua bisa lancar bila ada “amplop”.
Hasil survei terbaru Political and Economic Risk Consultancy (PERC) menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup dari 16 negara se Asia Pasifik. Indonesia terkorup dengan skor 8,32 atau lebih buruk jika dibandingkan dengan Thailand (7,63). Sedangkan negara yang paling bersih dari korupsi adalah Singapura dengan skor 1,07.
Ini tentu saja sebuah ironi. Bukankah negeri ini adalah negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia? Tetapi mengapa justru menjadi negeri yang paling korup? Bukankah pula ajaran Islam melarang dengan keras dan bahkan mengutuk perbuatan korupsi, suap, dan kolusi? Apakah umat Islam di negeri ini tidak mengetahui hal itu?
Menyikapi Bencana
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Tidak hanya sekali dua kali bencana terjadi di negeri ini. Mulai dari banjir bandang, semburan lumpur, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, sampai tsunami. Semuanya silih berganti melanda negeri ini.
Mengapa bencana demi bencana senantiasa melanda? Para ilmuwan barangkali memiliki alasan-alasan ilmiah yang bisa menjelaskan rawannya negeri kita akan bencana. Namun apapun itu, kita harus percaya bahwa semua bencana tersebut tidak terlepas dari kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya dengan izin Allah sajalah semua bisa terjadi.
Menyikapi terjadinya berbagai macam bencana, janganlah sekali-kali kita berburuk sangka kepada Allah. Dia tidak akan sekali-kali berbuat zhalim kepada hamba-hamba-Nya. Setiap yang Allah kehendaki pasti penuh dengan hikmah dan kebijaksanaan. Apalagi terhadap hamba-hamba-Nya yang mukmin, Allah pasti selalu memberikan yang terbaik, meski seringkali hal tersebut dianggap tidak menyenangkan. ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. (QS Al-Baqarah: 216)
Memaknai Hari Kemerdekaan
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Tanggal 17 setiap bulan Agustus kita memperingati hari kemerdekaan negeri kita. Pertanyaan klasik tapi selalu relevan untuk dipertanyakan: apakah kita sudah benar-benar merdeka?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka artinya bebas dari penghambaan, penjajahan, dll; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa. Dari definisi ini, mari kita bertanya kembali: apakah kita sudah benar-benar merdeka?
Kita memang sudah merdeka dari penjajahan secara fisik. Namun kita harus sadar bahwa kita sekarang ini sebetulnya masih terkungkung dan terbelenggu oleh penjajahan yang bersifat nonfisik.
Negeri kita adalah negeri yang kaya dengan berbagai macam sumber daya alam, baik yang terpendam didalam tanah, diatas tanah, maupun yang ada di lautan kita yang luas. Namun semua itu seolah-olah tidak ada bekasnya. Negara-negara kapitalis telah mengeruk dan mengeksploitasinya. Kapal-kapal asing dengan leluasa menjarah hasil lautan kita. Bahkan negeri kita justru dililit utang yang luar biasa jumlahnya, yang kita sendiri belum tahu berapa generasi lagi hutang itu bisa kita lunasi. Apakah ini yang disebut kemerdekaan?
Halaman 43 dari 69