Asal-usul Sains Modern dan Kontribusi Muslim (Bag 2)
- Ditulis oleh Cemil Akdogan
Revolusi Ilmiah
Dalam rangka membangun sains baru, Francis Bacon menulis Novuni Organum (Instrumen Baru), Tartaglia menulis Nova Scientia (Sains Baru), Giambattista Vico Nova Scienza (Sains Baru), Kepler Astronomia Nova (Astronomi Baru), dan Galileo Two New Sciences (Dua Sains Baru).
Dalam astronomi lama, sistem Ptolemaik itu lebih dominan daripada sistem Aristotelian, tetapi dalam kedua sistem itu bumi adalah sentral dan tetap, benda-benda langit bergerak dalam orbit-orbit sirkular, dan alam semesta itu terbatas.
Meskipun dominan, sistem Ptolemaik berada di ujung tanduk. Ia tidak lagi menggambarkan realitas seperti yang sebenarnya. Misalnya, sebagai sebuah sistem matematis, ia membahas bulan, matahari, dan planet-planet secara terpisah dan menggunakan dua konstruksi independen agar dapat menentukan property simultan bulan, yaitu ukuran dan posisi bulan.
Demikian juga, ia tidak lagi sesuai dengan fenomena, dan kalender yang bergantung pada sistem ini adalah menyesatkan. Equant, salah satu model geometris Ptolemy, memperkenalkan ketidakseragaman (non-uniformity).
Asal Usul Sains Modern dan Kontribusi Muslim (Bag 1)
- Ditulis oleh Cemil Akdogan
Peradaban Barat menjadi lebih berbeda dan lebih kuat dibandingkan dengan peradaban-peradaban lain disebabkan oleb adanya perubahan revolusioner seperti Revolusi Keilmuan, Revolusi Perancis, Revolusi Industri, profesionalisasi ilmu, interaksi rapat antara ilmu dan teknologi dan revolusi-revolusi abad ke-20 dalam ilmu yang saling berkesinambungan yang pada akhirnya tidak hanya mempengaruhi Barat itu sendiri, tetapi juga seluruh dunia. Jika kita perhatikan, faktor-faktor yang paling penting dalam revolusi-revolusi ini ada!ah teknologi dan sains. Teknologi, yang meliputi pengetahuan praktis, telah dirnulai oleh manusia pertama dan sains telah dimulai oleh para filosof Yunani pertama sekitar 600 SM. Namun, sains sebelum Revolusi llmiah serta sebelum Revolusi Industri, merupakan subyek yang timbul tenggelam secara bergantian dalam peradaban-peradaban yang berbeda. Dengan Revolusi llmiah dan Industri, sains maupun teknologi menjadi tiang utama dalam peradaban Barat, tetapi sampai dekade pertengahan abad ke- 19, keduanya mengikuti jalan-jalan yang berbeda dan independen. Teknologi, terutamanya, telah berkembang tanpa suatu input ilmiah.
Sekilas Islamisasi Ilmu: Antara Al-Attas dan Al-Faruqi
- Ditulis oleh Rosnani Hashim
Sejak Eropa mengalami Renaisans hingga saat ini, perkembangan ilmu-ilmu rasional (’aqliyah) dalam semua bidang kajian sangat pesat dan hampir keseluruhannya dipelopori oleh ahli sains dan cendekiawan Barat. Sudah tentu ilmu yang dikembangkan ini dibentuk dari acuan pemikiran falsafah Barat, yang dituangkan dalam pemikiran yang paling berpengaruh yaitu sekularisme, utilitiarianisme dan materialisme. Pemikiran ini mempengaruhi konsep, penafsiran, dan makna ilmu itu sendiri. Sekularisasi yang melibatkan tiga komponen terpadu (penolakan unsur transenden di alam semesta, pemisahan agama dari politik, dan ketidakmutlakan atau relativitas) bukan saja bertentangan dengan fitrah manusia (yang merupakan tashawwur ’world view’ Islam), tetapi juga memutuskan ilmu dari pondasinya dan mengalihkannya dari tujuannya yang hakiki. Karenanya ilmu Barat justru menimbulkan lebih banyak masalah dan kekeliruan daripada melahirkan keharmonisan, kebaikan dan keadilan.
Kerangka Islamisasi Ilmu Pengetahuan Menurut Al-Faruqi
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Salah satu tokoh utama yang mencetuskan ide islamisasi ilmu adalah Ismail Raji’ Al-Faruqi, seorang sarjana muslim Palestina dengan spesialisasi filsafat, dan lama tinggal, belajar, dan mengajar di Amerika Serikat (Temple University). Pada tahun 1982 telah diselenggarakan Seminar Islamisasi Ilmu Pengetahuan di Islamabad, Pakistan, dan dihadiri oleh para sarjana (ilmuwan) berbagai disiplin ilmu dari berbagai negara muslim.
Berikut ini kerangka (outline) dari tulisan Ismail Raji’ Al-Faruqi dibawah judul “Islamization of Knowledge : General Principles and Workplan”, diterbitkan oleh International Institute of Islamic Thought (IIIT) tahun 1402 H / 1982 M. Untuk mendapatkan detail tulisan beliau, Anda bisa merujuk langsung pada bukunya, yang juga pernah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.
Meneropong Dunia Islam Kontemporer
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Pendahuluan
Dunia Islam saat ini memiliki dua tantangan: tantangan dari dalam diri sendiri (internal) dan tantangan yang datang dari luar (eksternal). Namun mengatasi tantangan internal lebih krusial, karena kita kalah sebetulnya bukan karena musuh kuat, tetapi karena kita lemah. Meskipun musuh kita kuat (dan amat wajar jika musuh senantiasa berusaha menguatkan dirinya), namun jika kita lebih kuat niscaya kita tidak akan bisa dikalahkan. Jadi, problem terbesar umat ini adalah mengatasi tantangan yang ada dalam dirinya sendiri.
Sekarang ini era global. Setiap negara di muka bumi ini pasti dipengaruhi secara kuat oleh kekuatan global, atau lebih tepatnya konspirasi global. Tidak terkecuali dunia Islam. Yang menjadi masalah adalah bahwa kekuatan global saat ini tidak berada di tangan kita. Dan yang lebih parah lagi adalah ketika kekuatan global yang ada saat ini memaksakan program “globalisasi” ke dunia Islam. Program ini tidak lain tujuannya adalah untuk semakin menggencet, menekan, dan melemahkan dunia Islam.
Halaman 38 dari 69