Konsepsi Islam tentang Ilmu dan Orang yang Berilmu
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Dengan ilmu pengetahuan, Allah telah memuliakan manusia. Adam ’alaihis salam, bapak kita semua, diangkat derajatnya oleh Allah diatas para malaikat karena Allah telah menganugerahkan kepadanya ilmu pengetahuan, yang tidak diberikan kepada para malaikat. Allah juga berjanji bahwa Dia akan mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. Semua ini mempertegas kemuliaan orang yang berilmu pengetahuan.
Pertanyaannya, siapakah orang yang berilmu pengetahuan itu? Apakah seorang profesor? Atau seorang ilmuwan terkemuka? Atau seorang penemu macam Thomas Alfa Edison? Atau siapa? Jawabannya ada dalam Al-Qur’an. Di bagian akhir QS Ali ’Imran Allah Ta’ala menggambarkan tanda-tanda kekuasannya yang terbentang di alam semesta ini (ayat kauniyah), lalu persis sesudah itu memberikan deskripsi kepada kita tentang sosok ulul albab (orang yang berilmu pengetahuan). Dia berfirman,”(Ulul albab ialah) orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Dan mereka senantiasa memikirkan penciptaan langit dan bumi, lalu berkata,’Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka hindarkanlah kami dari siksa api neraka”.
Memaknai Ilmu
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
TENTANG PENGETAHUAN : Manusia pertama, Adam as, telah dimuliakan karena pengetahuan. Namun, pengetahuan yang dimaksud bukanlah berasal dari Adam sendiri, namun diajarkan oleh Allah. Yang diajarkan oleh Allah kepada Adam adalah nama-nama (al-asma’). Nama-nama tersebut bisa dipahami sebagai satuan terkecil bahasa manusia, yang membentuk struktur bahasa yang lebih kompleks. Jadi, bahasa tidak bisa diciptakan sendiri tetapi harus diajarkan. Adapun pola berpikir, maka hal itu sudah diciptakan oleh Allah dalam pikiran manusia secara built-in. Sebagai deskripsi, marilah kita amati seorang bayi. Ia mengenal kata-kata dari lingkungan yang mengajarinya. Namun kata-kata haruslah disusun sedemikian rupa sehingga bermakna dan logis. Pekerjaan menyusun ini dilakukan oleh pikiran manusia. Kemampuan tersebut sudah built-in dalam pikiran manusia, yang akan mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan hidupnya.
Allah telah menciptakan pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai gerbang utama dalam mencerap pengetahuan. Pendengaran dan penglihatan merupakan indera utama bagi obyek-obyek fisik. Adapun hati, maka ia merupakan indera utama bagi obyek-obyek nonfisik.
Mengapa Revolusi Ilmu Pengetahuan Terjadi di Eropa dan Bukan di Dunia Muslim?
- Ditulis oleh Umar A. M. Kasule
Sejarah sains memfokuskan kajiannya dengan apa yang terjadi di masa yang lalu berkaitan dengan penemuan-penemuan ilmiah dan juga proses penemuan yang kompleks dan ide yang berkembang dari waktu ke waktu. Fokus ini perlu untuk melihat perilaku suatu masyarakat yang diduga telah memberikan sumbangan terhadap fenomena ilmiah sepanjang sejarah. Dalam rangka inilah suatu peradaban bangsa tertentu patut dihargal atas konstribusinya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang saat ini menjadi monopoli Barat dan Amerika.
Banyak penulis sejarah ilmu pengetahuan berpendapat bahwa fenomena ilmu pengetahuan sekarang ini merupakan hasil mutlak dan akal barat dan berusaha mengesampingkan sumbangan bangsa lain. Mereka tertanik dengan keyakinan ini, karena fakta menunjukkan bahwa revolusi ilmu pengetahuan memang terjadi di Eropa Barat. Bagaimanapun, melabelkan semua khazanah ilmu pengetahuan hanya kepada Barat adalah kurang tepat. Padahal pada kenyataannya bangsa dan peradaban lainnya seperti Yunani, Gina, India dan Muslim mempunyai konstribusi yang sangat hebat, baik Iangsung maupun tak langsung kepada fenomena ilmu pengetahuan.
Westernisasi dan Islamisasi Ilmu
- Ditulis oleh Adnin Armas
Hegemoni peradaban Barat yang didominasi oleh pandangan hidup saintifik (scientific worldview) telah membawa dampak negatif terhadap peradaban lainnya, khususnya dalam bidang epistemologi. Barangkali, “westernisasi ilmu pengetahuan” adalah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi ini. Jika hal ini difahami dengan bâik, maka terma Islamisasi Ilmu Pengetahuan kontemporer” bukan hanya istilah yang wajar dan mudah diterima, tapi lebih merupakan proyek yang membawa keharusan konseptual. Oleh sebab itu, substansi Islamisasi tidak dapat sepenuhnya dimengerti jika tidak dikaitkan dengan persoalan epistemologis yang melanda dunia Islam, dan tantangan yang menjadi sumbernya. Kajian ini akan memaparkan secara singkat Westernisasi ilmu pengetahuan yang menjadi tantangan bagi bangunan ilmu pengetahuan Islam untuk dapat memaharni makna dan relevansi islamisasi.
Tantangan dan Perkembangan Islamisasi Ilmu
- Ditulis oleh Rosnani Hashim
Usaha ke arab proses Islamisasi ilmu pengetahuan menghadapi beberapa tantangan, khususnya justru dan kalangan cerdik pandai Islam sendiri. Mereka terdiri dan beberapa golongan. Pertama, golongan yang sependapat dengan gagasan ini secara teori dan konsepnya dan berusaha untuk menjelmakannya dan menghasilkan karya yang menepati maksud Islamisasi dalam disiplin ilmu mereka.
Kedua, golongan yang sependapat dengan gagasan ini secara teori dan konsepnya tetapi tidak mengusahakannya secara praktis.
Ketiga, terdapat golongan yang tidak sependapat dan sebaliknya mencemôoh, mengej ek dan mempermainkan gagasan ini. Golongan ini lazimnya berargumen bahwa semua ilmu datangnya dan Allah dan justru itu semua ilmu adalah benar dan secara tabiatnya sudah Islam.
Golongan keempat adalah di kalangan mereka yang tidak mempunyai pendinan terhadap isu ini. Mereka lebih suka mengikut perkembangan yang dirintis oleh sarjana lain atau pun mereka tidak perduli dengannya.
Halaman 37 dari 69