Menara Islam
Toggle Navigation
  • Tentang Penulis
  • Peta Situs
  • Pencarian

Tadabbur QS Al-Fatihah

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Surat ini adalah induk dan sekaligus pembuka Al-Qur'an. Tadabbur ini berfokus pada penghayatan makna, yang merupakan hal yang sangat kita butuhkan karena surat ini wajib kita baca setiap kali kita sholat. Mengenai lafazh basmalah, terdapat perbedaan pendapat apakah ini termasuk dalam surat atau tidak, dan mereka yang berpendapat bahwa ia bagian dari surat pun berbeda pendapat apakah ia dibaca secara keras atau pelan dalam sholat jahr. 

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Kalimat ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ bermakna bahwa segala pujian memang milik Allah, yang memang hanya untuk Allah bahkan sebelum kita memujinya. Ini berbeda dengan kalimat "AhmaduLlah, Aku memuji Allah" yang seolah-olah bermakna pujian itu baru menjadi milik Allah setelah kita mengucapkan kalimat pujian. Dengan mengucapkan  ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ, kita merasa "Siapa saya kok layak memuji Allah, padahal Allah sudah terpuji sebelum mendapatkan pujian dari semua makhluq yang memujinya." 

"Al-hamd" adalah pujian dengan hati dan lisan sekaligus atas sifat-sifat yang baik dan terpuji. Berbeda dengan "al-madh" yang berarti pujian dengan lisan saja. Dan "al-hamd" adalah pujian yang diberikan baik karena telah memberikan nikmat maupun secara mutlaq tanpa ada kaitannya dengan pemberian nikmat. Ini berbeda dengan "al-syukr" yang hanya terkait dengan pemberian nikmat. Adapun alif dan lam dalam kata "al-hamd" bermakna "istighraqul jins", yakni mencakup segala pujian. Artinya, segala pujian itu pada dasarnya milik Allah atau kembali kepada Allah. 

Nama "Allah" berasal dari kata "Ilah". Artinya nama Allah ini mengandung makna "uluhiyah", yakni bahwa Allah adalah Dzat yang wajib disembah. Adapun "Rabbul 'Alamin" mengandung makna "rububiyah", yakni bahwa adalah Pencipta dan Pengatur alam semesta.

ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Dua nama Allah ini sama-sama menunjukkan sifat al-rahmah. Sebagian ulama mengatakan bahwa sifat al-rahmah dalam Al-Rahman mencakup semua makhluq-Nya tanpa terkecuali, termasuk mereka yang beriman maupun yang kafir, sementara sifat al-rahmah dalam Al-Rahiim hanya khusus untuk hamba-hamba-Nya yang beriman dan taat saja. Sebagian lagi mengatakan bahwa sifat al-rahmah dalam Al-Rahman bermakna positif, yakni memberikan kasih sayang secara positif dan bersifat umum, sedangkan sifat al-rahmah dalam Al-Rahiim artinya memberikan kasih sayang dalam bentuk menghindarkan dari hal-hal yang tidak menyenangkan, musibah, adzab, dan semacamnya. Jika digabungkan dengan pendapat sebelumnya, maknanya Allah dengan sifat Rahiim-Nya memberikan kasih sayang secara khusus kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di akhirat dan menghindarkan mereka dari adzab akhirat.

Selengkapnya...

Syarah Hadits Arba'in Nomor 4: Takdir Seorang Manusia dan Akhir Kehidupannya

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Sebagaimana dibahas dalam syarah hadits ke-2, ada beberapa jenis taqdir yang ditetapkan oleh Allah.

  • Pertama, taqdir dalam ilmu (pengetahuan) Allah di zaman azali yang mencakup segala yang akan terjadi.
  • Kedua, taqdir yang dituliskan di Lauh Mahfuzh sebelum diciptakannya langit dan bumi. Rasulullah saw bersabda,”Allah telah menuliskan taqdir terhadap ciptaan-ciptaan-Nya 50 ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.”
  • Ketiga, taqdir ‘umri, yaitu taqdir yang dicatat untuk setiap manusia ketika ia berada di rahim ibunya. Inilah taqdir yang disampaikan dalam hadits Ibnu Mas’ud ini.
  • Keempat, taqdir atas sesuatu yang baik ataupun yang buruk yang terjadi pada waktu yang sesuai dengan ketentuan dan ketetapan Allah.

Dalam sejarah Islam, terdapat dua firqah sesat yang bertolak-belakang satu sama lain dalam memahami taqdir. Pertama, firqah qadariyah yang menafikan taqdir Allah. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui amal perbuatan seorang manusia sampai ia terjadi. Mereka berdalih dengan pemahaman ini untuk menyucikan Allah dari sifat zhalim. Namun pada saat yang sama pada dasarnya mereka telah menyifati Allah dengan sifat keterbatasan pengetahuan atau kebodohan. Maha Suci Allah dari yang demikian. Kedua, firqah jabriyah, yang memiliki paham berkebalikan dari firqah qadariyah. Mereka mengatakan bahwa Allah telah mengetahui amal perbuatan manusia sebelum manusia tersebut melakukan perbuatan tersebut, dan mereka meyakini bahwa Allah amal perbuatan manusia itu dipaksakan oleh Allah Ta’ala. Termasuk bahwa Allah memaksakan perbuatan buruk kepada sebagian manusia lalu kemudian mengadzab mereka. Mereka meyakini hal ini dalam rangka ingin menyucikan Allah dari sifat keterbatasan pengetahuan dan kebodohan akan tetapi pada saat yang sama menyematkan sifat zhalim kepada Allah. Maha Suci Allah dari yang demikian.

Kedua firqah diatas sama-sama ekstrim. Prof. Dr. Syaraf Qudhat dalam Syarh Al-Arba’in Al-Nawawiyah mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia dengan membawa dua sisi: sisi iraadiy (kemampuan untuk memilih) dan sisi ghayr iraadiy (tidak bisa memilih). Sisi yang tidak bisa memilih misalnya jenis kelaminnya, warna kulitnya, bentuk rupanya, waktu dan tempat kelahirannya, siapa orangtua yang melahirkannya, dan semacamnya. Mengenai hal-hal seperti ini, seorang manusia tidak akan ditanya. Adapun di sisi kemampuan untuk memilih, seorang manusia akan ditanya karena ia bertanggung jawab atas pilihannya. Artinya, tidak ada taqdir yang bersifat memaksa manusia untuk melakukan suatu amal perbuatan.

Selengkapnya...

Syarah Hadits Arba'in Nomor 4: Proses Penciptaan Manusia

Ditulis oleh Abdur Rosyid

QS Al-Mu’minun: 12-14 menjelaskan secara cukup rinci proses penciptaan manusia: “Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah. Kemudian kami jadikan (saripati tanah tersebut) nutfah di tempat yang kokoh. Kemudian Kami ciptakan (dari) nutfah itu sesuatu yang menggantung, lalu Kami ciptakan (dari) yang menggantung itu mudhghah, lalu Kami ciptakan (dari) mudhghah itu tulang-belulang, lalu Kami bungkus tulang-belulang itu dengan daging, kemudian Kami jadikan ia menjadi ciptaan yang lain. Maka Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta.” Proses penciptaan manusia yang dijelaskan dalam hadits ini selaras dengan ayat Al-Qur’an yang disebutkan diatas.

Kemajuan di bidang kedokteran sangat membantu kita memaknai dengan lebih baik ayat dan hadits tentang penciptaan manusia seperti ayat diatas dan hadits yang sedang dibahas ini, dimana penciptaan manusia melalui beberapa tahapan sebagai berikut.

  • Tahapan pertama adalah tanah. Makna pertama, Nabi Adam as diciptakan dari tanah. Makna lainnya, setiap manusia diciptakan dari saripati tanah. Ini karena mani laki-laki (sel sperma) dan mani perempuan (sel telur) keduanya berasal dari gizi tubuh. Dan gizi tubuh berasal dari makanan, berupa hewan atau tanaman yang dimakan. Hewan yang dimakan pada akhirnya juga berasal dari tanaman. Jadi, semuanya berasal dari tanaman. Sedangkan tanaman tumbuh dari saripati tanah.
  • Tahapan kedua adalah nutfah, yaitu sel sperma dan sel telur yang bertemu, melakukan pembuahan, dan berubah menjadi zygot. “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya” dalam hadits ini bermakna bahwa pada mulanya manusia itu terbentuk dari berbagai komponen yang kemudian bertemu di rahim ibunya. Sains membuktikan bahwa manusia terdiri dari 46 kromosom, separuhnya berasal dari sel sperma dan separuhnya lagi dari sel telur. Setelah kromosom tersebut menyatu maka terbentuklah janin yang berkembang di dalam rahim. 
  • Tahapan ketiga, ‘alaqah, yakni sesuatu yang menggantung. Dulu para ulama biasa mengatakan bahwa ‘alaqah adalah segumpal darah, padahal ini tidak benar. Yang benar adalah sesuatu yang menggantung di dinding atas rahim, pokoknya diatas dan bakal janinnya menggantung kebawah.
  • Tahapan keempat, mudhghah. Tidak ada nash yang menjelaskan definisi mudhghah. Sebagian ulama mengatakan bahwa mudhghah adalah segumpal daging, namun ini juga tidak benar. Yang benar, mudhghah adalah al-luqmah yang ukurannya sebesar biji gandum.
  • Tahapan kelima, tulang-belulang (‘izham).
  • Tahapan keenam, daging (lahm).
  • Tahapan ketujuh, ciptaan yang lain. 

Selengkapnya...

Syarah Hadits Arba'in Nomor 3: Islam Dibangun Diatas Lima Rukun

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Hadits ini menggambarkan Islam dengan cara tasybih (penyerupaan), yakni menyerupakannya dengan suatu rumah atau bangunan. Rumah hanya bisa berdiri tegak jika ada tiang-tiangnya. Rasulullah saw menggambarkan bahwa Islam itu seperti bangunan yang berdiri dengan lima tiang (rukun), yaitu dua kalimat syahadat, sholat, zakat, haji bagi yang mampu melakukan perjalanan ke Baitullah, dan puasa. Dalam riwayat lain, puasa disebutkan terlebih dahulu baru kemudian haji. Penyerupaan lima rukun ini dengan rumah atau bangunan menunjukkan bahwa lima rukun tersebut hanyalah bagian dari Islam, bukan keseluruhan Islam itu sendiri. Karena memang Islam memiliki banyak sekali aspek, yang meliputi ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibarat rumah, tidak cukup hanya dengan tiang-tiangnya saja, namun juga membutuhkan bagian-bagian lain seperti dinding, pintu, jendela, atap, perabotan, hiasan, dan sebagainya. Aspek-aspek tersebut meliputi muamalah, ekonomi, politik, sosial kemasyarakatan, hukum, dakwah, dan sebagainya.

Bagaimana hukum meninggalkan salah satu atau sebagian dari kelima rukun Islam? Setelah menggabungkan berbagai dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, bisa ditarik kesimpulan bahwa seseorang yang meninggalkan salah satu atau sebagian dari kelima rukun Islam karena mengingkarinya (padahal kelima hal tersebut termasuk al-ma'lum minad diin bidh-dharurah) maka dia telah kafir (keluar dari Islam). Namun jika seseorang tidak mengerjakan salah satu atau sebagian rukun tersebut karena alasan atau sebab lainnya, misalnya karena malas, maka dia telah berbuat fasiq, yang bisa menyebabkannya dimasukkan kedalam neraka selama waktu tertentu tapi tidak selamanya.

Rukun pertama, dua kalimat syahadat, yaitu syahadat al-tauhid (kesaksian akan keesaan Allah) dan syahadat al-risalah (kesaksian akan kerasulan Muhammad saw). Kesaksian akan keesaan Allah meliputi 1) keesaan-Nya dalam rububiyah, yakni bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur, 2) keesaan-Nya dalam uluhiyah, yakni satu-satunya yang berhak mendapatkan 'ubudiyah (penyembahan), dan 3) keesaan-Nya dalam Asma'-Nya dan Shifat-Nya. Adapun kesaksian akan kerasulan Muhammad saw artinya membenarkan bahwa beliau adalah utusan Allah untuk seluruh alam, membenarkan apa yang dibawanya, dan menaati Allah dengan cara yang telah diajarkan dan dituntunkan oleh beliau. Dan bahwa manhaj yang beliau bawa menggantikan dan menyempurnakan manhaj yang dibawa oleh para nabi dan rasul sebelum beliau.

Selengkapnya...

Syarah Hadits Arba'in Nomor 2: Iman, Islam, Ihsan, dan Tanda-tanda Hari Kiamat

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Iman dari sisi bahasa artinya membenarkan. Adapun secara syara’ artinya pembenaran (oleh hati) dengan makna khusus, yakni membenarkan Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, Hari Akhir, dan ketentuan-Nya yang baik maupun yang buruk (yakni enam rukun iman). Adapun Islam disini dimaknai melakukan kewajiban-kewajiban yang sifatnya lahiriyah. Allah Ta’ala membedakan antara Islam dan iman dalam firmannya: “Orang-orang Arab badui itu mengatakan ‘Kami beriman’. Katakanlah, wahai Muhammad, ‘Kalian belum beriman; Akan tetapi katakanlah ‘Kami telah ber-Islam”. Ini dikarenakan orang-orang munafik ketika itu secara lahiriyah melakukan sholat, ikut berpuasa, dan membayar zakat, namun hati mereka mengingkari. Maka ketika mereka mengaku beriman, Allah mengingkari pengakuan mereka karena hati mereka memang tidak beriman. Namun Allah membenarkan pengakuan keislaman mereka karena mereka memang telah melakukan kewajiban-kewajiban Islam yang sifatnya lahiriyah. Pengingkaran Allah atas pengakuan iman orang-orang munafik ini juga dinyatakan di bagian awal QS Al-Munafiqun.

Pembahasan mengenai masalah ketentuan dan ketetapan (qadar) Allah: Yang benar, qadar Allah itu benar adanya. Artinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan segala sesuatu di awal dan Dia mengetahui bahwasanya ketetapan-ketetapan itu akan terjadi pada waktu dan tempat yang telah Dia ketahui, dan dengan cara yang telah Dia tetapkan.

Ketahuilah bahwa taqdir itu ada empat. Pertama, taqdir dalam pengetahuan Allah. [Komentar penulis: Artinya, segala sesuatu sebetulnya sudah ada dalam pengetahuan Allah. Dan pengetahuan Allah mendahului segala sesuatu.] Kedua, taqdir di Lauh Mahfuzh. Ini adalah taqdir yang bisa berubah. Allah Ta’ala berfirman, “Allah menghapus dan menetapkan apapun yang Dia kehendaki, dan disisi-Nya terdapat Induk dari Kitab.” Dari Ibnu Umar ra, bahwasanya beliau pernah berdoa, “Ya Allah, jika Engkau mencatatku sebagai orang yang celaka, maka hapuslah aku (dari catatan tersebut) dan catatlah aku sebagai orang yang Bahagia.” Ketiga, taqdir (yang ditetapkan) dalam rahim ibu. Yakni ketika malaikat diperintahkan untuk mencatat rizqi, ajal, amalan, dan bahagia atau celaka atas janin ketika berada di rahim ibunya. Keempat, taqdir baik ataupun buruk yang bisa menimpa pada waktunya, tetapi mungkin untuk dihindari. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwasanya “sedekah dan silaturrahim (menjaga hubungan kekerabatan) menolak kematian dalam keadaan buruk (su’ul khatimah)…” Dalam hadits yang lainnya disebutkan bahwasanya “doa dan bala’ bertempur diantara langit dan bumi, dan doa menghalangi bala’ sebelum bala’ tersebut menimpa”.

[Komentar penulis: taqdir ketiga diatas disebut juga sebagai taqdir 'umri karena taqdir tersebut ditetapkan di awal kehidupan seseorang. Satu jenis taqdir lagi dengan pengertian yang tidak sama dengan jenis-jenis taqdir yang dipaparkan diatas adalah taqdir sanawi yaitu taqdir yang ditetapkan atas segala sesuatu setiap tahun oleh Allah, yakni pada malam Lailatul Qadr setiap tahunnya.]

Selengkapnya...

Halaman 29 dari 69

  • 24
  • ...
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • ...
  • 31
  • 32
  • 33
  • Halaman Depan
  • Fawaid
  • Bahasa Arab
  • Aqidah & Ushuluddin
  • Dirasat fil Adyan
  • Dirasat fil Firaq
  • Ulumul Qur'an
  • Tadabbur Al-Qur'an
  • Ulumul Hadits
  • Telaah Hadits
  • Ushul Fiqih
  • Fiqih Islam
  • Fiqih Siyasah
  • Akhlaq
  • Dakwah
  • Sirah, Kisah, Tarikh
  • Afkaar & 'Ibar
  • Hadharatuna
  • Islam & Iptek
  • Al-Qur'an & Iptek
  • Murattal Al-Qur'an
  • Mujawwad, Adzkar & Qashaid

Kembali ke Atas

© 2026 Menara Islam