Syarah Hadits Arba'in Nomor 1: “Faman kaana hijratuhu...”
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
"Faman kaana hijratuhu ilallahi wa rasuulihi…"
Makna asal dari hijrah adalah meninggalkan. Hijrah memiliki beberapa pengertian.
Pengertian pertama, hijrah para sahabat radhiyallahu ‘anhum dari Mekah ke Habasyah (Etiopia) ketika orang-orang musyrik mengintimidasi Rasulullah saw dan para sahabat beliau sehingga para sahabat diperintahkan untuk mengungsi ke negeri Raja Najasyi. Ini terjadi pada tahun kelima sesudah Kenabian.
Pengertian kedua, hijrah dari Mekah ke Madinah, yang terjadi pada tahun ketiga belas setelah Kenabian. Setiap muslim di Mekah wajib hijrah kepada Rasulullah saw menuju Madinah. Menurut sebagian ulama, hijrah diwajibkan semata-mata dari Mekah ke Madinah. Namun sebetulnya tidak demikian, karena sebetulnya tidak mesti harus ke Madinah. Yang betul adalah wajibnya hijrah kepada Rasulullah saw, kemanapun yang beliau perintahkan, termasuk ke Madinah.
Ibnul ‘Iraqi berkata, “Para ulama membagi perjalanan diatas bumi menjadi dua kategori: haraban (karena lari dari sesuatu) dan thalaban (karena mencari atau menuntut sesuatu). Adapun kategori yang pertama (haraban) bisa dibagi menjadi enam jenis:
- Pertama, keluar dari Darul Harb menuju Darul Islam. Perintah ini senantiasa berlaku hingga Hari Kiamat. [Komentar penulis: Darul Harb adalah negeri yang sedang berperang dengan Darul Islam]. Adapun hijrah yang selesai dengan peristiwa Fathu Makkah (sebagaimana dalam hadits “Tidak ada hijrah sesudah Fathu Makkah”) maka maksudnya adalah hijrah kepada Rasulullah saw pada masa beliau hidup [yang dimaksud adalah hijrah dari Mekah karena Mekah telah menjadi Darul Islam sesudah Fathu Makkah].
- Kedua, keluar dari negeri bid’ah. Ibnul Qasim mengatakan bahwa ia mendengar seorang penguasa pernah berkata, “Tidak halal seseorang bermukim di suatu negeri yang didalamnya para generasi salaf dicaci-maki.” [Komentar penulis: Yang dimaksudkan dengan bid'ah dalam hal ini terutama adalah bid'ah dalam perkara-perkara pokok, yakni masalah aqidah].
- Ketiga, keluar dari negeri yang didominasi oleh perkara-perkara yang haram, karena mencari yang halal adalah kewajiban bagi setiap muslim.
- Keempat, melarikan diri dari hal-hal yang menyakiti badan. Ini adalah dalam rangka mencari karunia Allah yang diberikan sebagai keringanan bagi hamba-hamba-Nya. Jika seseorang takut akan dirinya di suatu tempat, maka Allah Ta’ala mengijinkan baginya untuk keluar dari negeri tersebut dikarenakan keluar dari negeri tersebut akan menghindarkan dirinya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Yang pertama kali melakukan hal ini adalah Nabi Ibrahim as ketika beliau merasa takut terhadap kaumnya, lalu beliau berkata, “Sesungguhnya aku berhijrah kepada Tuhanku.” Demikian pula Nabi Musa as yang diceritakan dalam Al-Qur’an: “Maka (Musa) keluar dari negeri tersebut (Mesir) dalam keadaan takut dan waspada.”
- Kelima, keluar dari suatu tempat atau suatu negeri karena takut terkena penyakit.
- Keenam, keluar dari suatu tempat karena takut hartanya rusak atau terampas, karena harta seorang muslim itu harus dijaga sebagaimana darahnya juga harus dijaga.
Syarah Hadits Arba'in Nomor 1: “Innamal a’maalu bin niyyaat”
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Hadits ini menunjukkan bahwa niat merupakan ukuran sah tidaknya amal. Jika baik niatnya maka baiklah amalnya. Dan sebaliknya, jika rusak niatnya maka rusak pula amalnya. Berdasarkan kaitan antara niat dan amal yang dilakukan, ada tiga keadaan. Pertama, suatu amal dilakukan karena rasa takut kepada Allah. Ini adalah ibadah seorang hamba sahaya. Kedua, suatu amal dilakukan karena mengharapkan surga atau ganjaran. Ini adalah ibadah seorang pedagang. Ketiga, suatu amal dilakukan karena rasa malu (haya') kepada Allah, karena ingin menunaikan kewajiban ibadah dan menunaikan rasa syukur, dan merasa bahwa yang dilakukan pun masih kurang, dan pada saat yang sama hatinya takut karena tidak tahu apakah amalnya diterima atau tidak. Ini adalah ibadah orang yang merdeka. Inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah saw pada saat beliau melakukan sholat malam hingga bengkak kedua kakinya lalu ditanya oleh Aisyah ra, “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau melakukan hal ini padahal Allah telah mengampuni apapun yang engkau lakukan di masa lalu dan masa yang akan datang?” Beliau saw menjawab, “Apakah aku tidak ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur?” Manakah yang lebih utama antara ibadah karena rasa takut (khawf) dan ibadah karena rasa harap (raja’)? Dikatakan bahwa Imam Al-Ghazali berkata, “Ibadah karena rasa harap lebih utama, karena rasa harap melahirkan rasa cinta sedangkan rasa takut melahirkan pesimisme.”
[Komentar penulis: Yang lebih tepat adalah beramal dengan menggabungkan semua motivasi secara proporsional, yakni menggabungkan antara khawf, raja', dan juga haya'. Yang demikian ini karena Allah dan Rasul-nya memerintahkan dan membenarkan semua motivasi tersebut. Terkadang Allah memerintahkan kita untuk takut, misalnya ketika berfirman, "Dan takutlah neraka...". Terkadang pula memerintahkan kita untuk berharap, misalnya ketika befirman, "Dan bergegaslah kepada ampunan Tuhan kalian dan surga yang luasnya meliputi segenap langit dan bumi." Maka yang tepat adalah beribadah karena "raghaban wa rahaban", yakni karena berharap ridha dan pahala dari Allah dan sekaligus karena takut akan ancaman dan siksaan dari Allah. Justru akan menjadi tidak seimbang jika seseorang beribadah hanya semata-mata karena rasa takut atau semata-mata karena rasa harap. Demikian pula nash-nash Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi juga menyiratkan agar kita malu jika tidak berbuat ketaatan kepada Allah. Demikian pula lumrah seseorang beribadah dengan keinginan dimasukkan kedalam surga dan dijauhkan atau dibebaskan dari neraka karena memang Allah dan Rasul-Nya sendiri menyatakan motivasi tersebut. Memang pada dasarnya seseorang itu beribadah karena ingin mendapatkan ridha Allah. Namun Allah juga menjanjikan bahwa manusia yang Dia ridhai akan dimasukkan kedalam surga dan dijauhkan dari neraka. Jadi tidak perlu dipertentangkan. Sikap mempertentangkan adalah sikap yang berlebihan. Dan memang Allah telah menetapkan sunnatullah bahwa manusia itu menginginkan kebahagiaan dan takut kepada hal-hal yang menyakitkan. Karena itulah tidak jarang Allah dan Rasul-Nya mengiming-imingi manusia dengan surga dan menakut-nakuti manusia dengan siksa dan neraka. Intinya, sepanjang motivasi itu kembali kepada Allah atau sifatnya ukhrawi, bukan duniawi, maka itu benar dan bahkan dengan hal-hal itulah Allah dan Rasul-Nya sering memotivasi.]
Adab-adab Berdoa
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Berdoa dari sisi bahasa artinya memanggil, memohon, atau meminta. Ketika kita berdoa, kita sedang memanggil, memohon, dan meminta kepada Allah, Dzat Yang Maha Agung, Pencipta dan Raja Diraja Seluruh Alam. Disamping itu, berdoa adalah ibadah, bahkan inti dari ibadah. Oleh karena itu, hendaknya kita memperhatikan adab-adab ketika berdoa. Diantara adab-adab berdoa adalah sebagai berikut:
1. Ikhlash; totalitas berserah diri hanya kepada Allah.
وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ
"Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus..." (QS Luqman: 32)
Ayat diatas mengisyaratkan bahwa doa yang dilakukan dengan penuh ketulusan, penuh kepasrahan, dan secara total berserah diri dan berharap hanya kepada Allah sebagaimana orang-orang yang tengah diigulung oleh badai di tengah samudera adalah doa yang disukai oleh Allah.
2. Menghadirkan hati dan bersungguh-sungguh dalam berdoa.
"Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah (dengan doanya).” (HR. Tirmidzi; dishahihkan oleh Al-Albani)
"Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan do’a dari hati yang lalai.” (HR. Ahmad).
Doa yang Mustajab
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Doa yang mustajab (yang mudah dikabulkan oleh Allah) terkait dengan beberapa hal, yang meliputi siapa yang berdoa, kapan (waktu) berdoa, dan dimana (tempat) berdoa. Diantara orang-orang yang doanya mustajab adalah sebagai berikut:
1. Doa nabi; Dalam Al-Qur'an banyak diceritakan doa para nabi yang dikabulkan oleh Allah. Demikian juga dalam hadits banyak diceritakan doa Rasulullah saw untuk para sahabat beliau dan dikabulkan oleh Allah. Misalnya doa untuk Abu Hurairah agar Allah memberinya kemampuan menghafal banyak hadits, doa untuk Ibnu Abbas agar diberikan kedalaman pemahaman terhadap Al-Qur'an, doa untuk seorang sahabat agar dijauhkan dari keinginan untuk berzina, dan masih banyak lagi yang lainnya.
2. Doa orang shalih; Orang yang shalih, yang menjaga makanan dan minumannya, bertaqwa, dan dekat kepada Allah akan lebih mudah dikabulkan doanya oleh Allah. Hal ini diisyaratkan dalam QS Al-Baqarah: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat; Aku mengabulkan doa yang berdoa ketika ia berdoa. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-perintah-Ku..."
3. Doa yang dipanjatkan dengan penuh ketulusan.
4. Doa yang dipanjatkan ketika semua ikhtiar sudah dilakukan.
5. Doa orang tua kepada anaknya
6. Doa orang yang berpuasa ketika berpuasa dan berbuka puasa
7. Doa musafir
8. Doa pemimpin yang adil
9. Doa orang yang terzhalimi
10. Doa untuk sesama muslim tanpa sepengetahuannya
Buah Ibadah Ramadhan
- Ditulis oleh Abdur Rosyid
Allat Ta'ala menjelaskan dalam QS Al-Baqarah: 183 bahwa tujuan berpuasa adalah la'allakum tattaquun, 'agar kalian bertaqwa'. Dari sini kita bisa mengatakan bahwa buah yang kita harapkan dari ibadah Ramadhan adalah taqwa, yang juga merupakan sebaik-baik bekal dalam mengarungi kehidupan. Lalu, seperti apakah ciri-ciri taqwa yang merupakan buah dari ibadah Ramadhan? Jika kita amati, diantara ciri-ciri taqwa yang insyaallah kita dapatkan dari ibadah Ramadhan tercermin dari amalan-amalan utama di bulan Ramadhan itu sendiri. Apakah sajakah itu?
Pertama, keimanan yang kuat pada perkara-perkara ghaib. Ini sesuai dengan firman Allah Ta'ala mengenai orang yang bertaqwa di awal QS Al-Baqarah: "Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib". Iman kepada yang ghaib meliputi iman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, pahala dan dosa, Hari Akhir, Hari Kebangkitan, Hari Pembalasan, Surga dan Neraka. Iman kepada perkara-perkara yang ghaib ini adalah suatu ujian, dimana kita diuji apakah kita mampu mempercayai hal-hal yang tidak tampak. Ketika perkara-perkara tersebut sudah tidak ghaib lagi maka tidak ada lagi gunanya keimanan, karena ketika sudah tampak nyata tentu saja semua orang pasti akan beriman. Inilah mengapa orang yang sebelumnya tidak beriman tidak akan lagi diterima imannya ketika maut sudah menjemput (sakaratul maut) dan Hari Kebangkitan telah tiba. Saat sakaratul maut pandangan manusia akan menjadi tajam, akan ditampakkan kepadanya sebagian dari hakikat-hakikat yang ghaib. Dan saat Hari Kebangkitan tiba, semua orang akan menyadari bahwa Hari Kebangkitan memang ada, dan setiap perbuatan akan dihitung dan dibalas.
Orang yang bertaqwa senantiasa merasakan kehadiran Allah, senantiasa merasakan bahwa Allah senantiasa melihat dan mengawasinya. Karena itu ia akan senantiasa melihat apa yang ia pikirkan, apa yang ia ucapkan, dan apa yang ia perbuat, berharap agar Allah meridhainya dan takut serta khawatir jika Allah membencinya. Demikian pula ia tidak akan pernah merasa takut karena merasakan kebersamaan Allah ketika ia hidup dalam ketaaatan kepada-Nya. Ini adalah buah dari orang yang berpuasa, yang rela tidak makan dan tidak minum meski tidak ada manusia lain yang melihat, karena ia menyadari Allah selalu melihat.
Orang yang bertaqwa akan memperhitungkan segala sesuatu yang ia ucapkan dan ia perbuat karena ia menyadari bahwa semuanya akan dibalas oleh Allah; kebaikan dibalas kebaikan dan keburukan dibalas keburukan. Jika tidak di dunia ini, semua akan disempurnakan pada Hari Akhir. Itulah mengapa orang-orang yang bertaqwa tidak akan pernah bersikap aji mumpung di dunia ini. Ia menyadari bahwa dunia ini hanya sementara, sangat singkat, dan semuanya akan dibalas pada Hari Pembalasan.
Halaman 30 dari 69