Surat ini adalah induk dan sekaligus pembuka Al-Qur'an. Tadabbur ini berfokus pada penghayatan makna, yang merupakan hal yang sangat kita butuhkan karena surat ini wajib kita baca setiap kali kita sholat. Mengenai lafazh basmalah, terdapat perbedaan pendapat apakah ini termasuk dalam surat atau tidak, dan mereka yang berpendapat bahwa ia bagian dari surat pun berbeda pendapat apakah ia dibaca secara keras atau pelan dalam sholat jahr. 

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Kalimat ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ bermakna bahwa segala pujian memang milik Allah, yang memang hanya untuk Allah bahkan sebelum kita memujinya. Ini berbeda dengan kalimat "AhmaduLlah, Aku memuji Allah" yang seolah-olah bermakna pujian itu baru menjadi milik Allah setelah kita mengucapkan kalimat pujian. Dengan mengucapkan  ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ, kita merasa "Siapa saya kok layak memuji Allah, padahal Allah sudah terpuji sebelum mendapatkan pujian dari semua makhluq yang memujinya." 

"Al-hamd" adalah pujian dengan hati dan lisan sekaligus atas sifat-sifat yang baik dan terpuji. Berbeda dengan "al-madh" yang berarti pujian dengan lisan saja. Dan "al-hamd" adalah pujian yang diberikan baik karena telah memberikan nikmat maupun secara mutlaq tanpa ada kaitannya dengan pemberian nikmat. Ini berbeda dengan "al-syukr" yang hanya terkait dengan pemberian nikmat. Adapun alif dan lam dalam kata "al-hamd" bermakna "istighraqul jins", yakni mencakup segala pujian. Artinya, segala pujian itu pada dasarnya milik Allah atau kembali kepada Allah. 

Nama "Allah" berasal dari kata "Ilah". Artinya nama Allah ini mengandung makna "uluhiyah", yakni bahwa Allah adalah Dzat yang wajib disembah. Adapun "Rabbul 'Alamin" mengandung makna "rububiyah", yakni bahwa adalah Pencipta dan Pengatur alam semesta.

ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Dua nama Allah ini sama-sama menunjukkan sifat al-rahmah. Sebagian ulama mengatakan bahwa sifat al-rahmah dalam Al-Rahman mencakup semua makhluq-Nya tanpa terkecuali, termasuk mereka yang beriman maupun yang kafir, sementara sifat al-rahmah dalam Al-Rahiim hanya khusus untuk hamba-hamba-Nya yang beriman dan taat saja. Sebagian lagi mengatakan bahwa sifat al-rahmah dalam Al-Rahman bermakna positif, yakni memberikan kasih sayang secara positif dan bersifat umum, sedangkan sifat al-rahmah dalam Al-Rahiim artinya memberikan kasih sayang dalam bentuk menghindarkan dari hal-hal yang tidak menyenangkan, musibah, adzab, dan semacamnya. Jika digabungkan dengan pendapat sebelumnya, maknanya Allah dengan sifat Rahiim-Nya memberikan kasih sayang secara khusus kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di akhirat dan menghindarkan mereka dari adzab akhirat.

مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

Terdapat dua qiraat, yang satu dengan mim panjang yang bermakna "Yang menguasai Hari Pembalasan", yang satunya lagi dengan mim pendek yang bermakna "Raja Hari Pembalasan". Sifat Allah mencakup dua qiraat tersebut. Artinya, Allah adalah yang menguasai dan sekaligus Raja pada Hari Pembalasan. Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, bahwasanya beliau bersabda,"Allah akan menggenggam bumi dan melipat langit pada Hari Kiamat, kemudian berkata,'Aku adalah Raja. Mana para raja di bumi?"

Sampai disini, kita telah menyebutkan dan merangkum sifat-sifat Allah yang utama. Yang pertama, sifat uluhiyyah yang terkandung dalam nama "Allah". Yang kedua, sifat rububiyah yang terkandung dalam nama-Nya "Rabbul 'Alamin". Yang ketiga adalah sifat rahmah (kasih sayang), yang terkandung dalam nama Allah "Al-Rahman" dan "Al-Rahiim". Yang keempat adalah sifat kekuatan dan keadilan, yang terkandung dalam nama-Nya "Maaliki Yaumid Diin". Keempat sifat ini merangkum keseluruhan sifat Allah, yaitu uluhiyah, rububiyah, dan Asama wa Shifat. Adapun Asma dan Shifat yang disebutkan dalam surat ini mencakup dua sifat yang paling utama yaitu rahmah (kasih sayang) dan 'adalah (keadilan), atau rahmah dan kekuatan, sekaligus.

Sampai disini adalah untuk Allah. 

---------------------------------------------------------------------------

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Ini adalah antara Allah dan hamba-Nya. Separuh untuk Allah, yaitu إِيَّاكَ نَعْبُدُ. Dan separuhnya lagi untuk hamba-Nya, yaitu إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ.

Didahulukannya kata "إِيَّاكَ " mengandung makna "hanya". Artinya, hanya kepada Allah sajalah kami menyembah, dan hanya kepada Allah sajalah kami memohon pertolongan. Ini berbeda dengan jika kita mengatakan "na'buduka dan nasta'iinuka" yang artinya kami menyembah-Mu dan kami memohon pertolongan kepada-Mu namun bisa saja pada saat yang sama kami menyembah selain-Mu dan memohon pertolongan kepada selain-Mu.

Digunakannya dhamir "nahnu, kami" pada ayat ini adalah dalam rangka ta'zhim. Artinya, sang pembaca menyatakan bahwa bukan hanya dia seorang yang mesti menyembah dan meminta pertolongan kepada Allah, namun juga semua manusia dan jin. Ini menunjukkan keagungan dan ketinggian Allah sehingga semua makhluq-Nya, bukan hanya satu, dua, atau sebagiannya saja, mesti menyembah dan meminta pertolongannya. Kesannya berbeda jika kita mengucapkan "Iyaaka a'budu wa iyyaka asta'iin, Hanya kepadamu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan." Ada juga yang mengambil ibrah dari sini bahwasanya ini mengisyaratkan pentingnya berjamaah. Artinya, berbuat kebaikan itu dianjurkan untuk dilakukan secara berjamaah, bukan nafsi-nafsi.

Pernyataan "إِيَّاكَ نَعْبُدُ" merupakan implementasi dari tauhid uluhiyah, sedangkan pernyataan "إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ" merupakan implementasi dari tauhid rububiyah. Dan inti dari syariat itu dua: ibadah dan isti'anah (memohon pertolongan) kepada Allah.

Al-Hasan Al-Bashri berkata,"Sesungguhnya Allah Ta'ala telah menurunkan seratus kitab dan empat kitab utama (yaitu Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur'an). Kandungan semua kitab tersebut terangkum dalam empat kitab utama. Dan kandungan empat kitab utama terangkum dalam Al-Qur'an. Dan kandungan Al-Qur'an terangkum dalam surat-surat mufashshal. Dan kandungan surat-surat mufashshal terangkum dalam Al-Fatihah. Dan kandungan Al-Fatihah terangkum dalam ayat "إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ".

Karena pentingnya ayat ini, sebagian salaf betul-betul berusaha menghayati ayat ini ketika membaca Al-Fatihah dalam sholat. Diantaranya dengan cara mengulang-ulang membaca ayat ini. Sufyan Al-Tsauri suatu ketika mengimami sholat maghrib, dan ketika membaca Al-Fatihah beliau menangis ketika sampai pada ayat ini. 

Pada ayat ini, terjadi iltifaat dhamir. Sebelumnya, Allah disebut sebagai pihak ketiga namun kemudian berubah menjadi pihak kedua (yang diajak bicara) pada ayat ini. Hal ini karena setelah kita menyadari keagungan dan ketinggian sifat-sifat Allah yang kita nyatakan di ayat-ayat sebelumnya, maka kita menjadi larut dengan rasa takjub, ta'zhim, dan rendahnya diri kita sehingga kita kini benar-benar menyaksikan, kita menjadi langsung berbicara kepada Allah. Ini adalah maqam ihsan, "bahwa engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya."

Diulangnya kata "إِيَّاكَ " di ayat ini adalah untuk menegaskan bahwa baik menyembah maupun memohon pertolongan kedua-duanya hanya kepada-Nya. 

Sekarang, apa makna "al-'ibadah, menyembah"? Sebetulnya dalam Al-Qur'an ada dua makna lafazh ibadah. Pertama, ibadah yang bersifat umum, yakni ketundukan semua makhluq kepada Allah, baik yang beriman ataupun yang kufur. Misalnya dalam firman Allah: "Tidaklah setiap yang di langit dan di bumi kecuali datang kepada Al-Rahman dalam keadaan tunduk." Kedua, ibadah yang bersifat khusus, yaitu ibadah al-tauhid, yakni dengan cara menaati semua perintah Allah. Ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Kedua makna ibadah diatas wajib kita lakukan. Jika makna yang pertama sifatnya "given" maka makna yang keduanya sifatnya "pilihan". 

Ibadah (yang bersifat khusus) biasa diartikan segala hal berupa sikap, ucapan, dan perbuatan, yang bersifat lahiriyah atau batiniyah, yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Dengan makna ibadah seperti ini, mengapa isti'anah masih disebutkan sesudah ibadah? Ada dua kemungkinan jawaban untuk ini.

Jawaban pertama, ini ada dua hal yang bisa diperlakukan dengan cara "ifraad" atau "iqtiraan". Seperti halnya pada lafzah fakir dan miskin, atau birr dan taqwa, atau iman dan amal shalih. Jika digunakan secara "ifraad" maka keduanya identik satu sama lain. Namun jika digunakan secara "iqtiraan" maka masing-masing memiliki makna khusus yang berbeda satu sama lain.

Jawaban kedua, ini adalah melekatkan yang khash pada yang 'aam. Seperti dalam firman Allah Ta'ala: "Maka sembahlah aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku (Thaha: 14)", atau "Dan para malaikat-Nya dan para rasul-Nya dan Jibril dan Mikail (Al-Baqarah: 98), atau "Didalamnya ada buah-buahan dan kurma dan delima." (Al-Rahman: 68). Penyebutan yang khash sesudah yang 'aam memiliki dua tujuan. Pertama, untuk mengutamakan atau mengistimewakan yang khash, seperti untuk mengutamakan Jibril dan Mikail atas para malaikat-malaikat yang lainnya. Kedua, karena seringkali yang khash tidak dianggap masuk dalam cakupan yang 'aam.

Adapun "إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ" disebutkan setelah "إِيَّاكَ نَعْبُدُ" adalah karena ibadah merupakan konsekuensi atau tuntutan dari kesadaran akan keagungan dan ketinggian sifat-sifat Allah yang dinyatakan dalam ayat-ayat sebelumnya, sedangkan "memohon pertolongan" sangat terkait dengan ayat sesudahnya, yaitu permintaan agar ditunjukkan jalan yang lurus.

---------------------------------------------------------------------------

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ 

Mulai dari sini sampai akhir surat adalah milik hamba Allah. Jalan lurus yang dimaksud dijelaskan dalam ayat berikutnya.

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

Jalan yang lurus adalah jalan orang-orang yang Allah beri nikmat atas mereka. Nikmat yang dimaksud disini adalah nikmat ketaatan dan ibadah. Siapa saja yang dimaksud dengan orang-orang yang Allah beri nikmat? Allah menjelaskan di bagian lain Al-Qur'an, bahwa mereka adalah para Nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada', dan orang-orang yang shalih.

Kemudian dijelaskan bahwa jalan yang lurus itu bukanlah jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat. Penafsiran yang masyhur berdasarkan hadits adalah, orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi sedangkan orang-orang yang tersesat adalah orang-orang Nasrani. Namun sebetulnya penafsirannya tidak hanya terbatas pada orang-orang Yahudi dan Nasrani saja, namun juga mencakup siapapun yang memiliki sifat-sifat seperti Yahudi dan Nasrani. Apakah sifat-sifat tersebut? Orang-orang Yahudi dimurkai karena mereka mengingkari kebenaran setelah mereka mengetahuinya. Sedangkan orang-orang Nasrani tersesat karena pemahaman yang salah. Dengan istilah lain, yang pertama karena syahwat, termasuk diantaranya syahwat kesombongan, kedengkian, dan menolak kebenaran, sedangkan yang kedua karena syubhat yaitu pemahaman yang salah. Yang pertama memilki ilmu tapi tidak diamalkan, sedangkan yang kedua beramal dan berperilaku zuhud tapi tanpa ilmu yang benar. Jalan yang lurus adalah yang menggabungkan antara ilmu dan amal, yakni memiliki ilmu yang benar dan mengamalkannya.

Kemurkaan Allah kepada orang-orang Yahudi banyak dinyatakan dalam berbagai ayat Al-Qur'an, diantaranya adalah QS Al-Baqarah: 90. Adapun sesatnya orang-orang Nasrani diantaranya dinyatakan dalam QS Al-Maidah: 77. Mengapa orang-orang yang dimurkai, yakni Yahudi dan yang semacamnya, disebutkan terlebih dulu dari orang-orang yang tersesat? Diantara jawabannya adalah karena kekufuran Yahudi lebih besar daripada kekufuran Nasrani, meski dua-duanya kufur. Yang demikian ini karena orang-orang Yahudi sudah mengetahui kebenaran namun menyembunyikan dan mengingkarinya. Juga karena kemurkaan adalah kebalikan dari nikmat, karena itu keduanya disandingkan secara langsung. Jawaban lainnya adalah karena orang-orang Yahudi terlebih dulu ada sebelum orang-orang Nasrani dari sisi waktu. 

Kemudian muncul pertanyaan, apakah hanya orang-orang yang beriman dan taat saja yang mendapatkan nikmat? Atau dengan kata lain, apakah orang-orang kafir juga mendapatkan nikmat? Jawabannya, sesungguhnya nikmat yang diberikan kepada orang kafir adalah nikmat yang terbatas, yakni di dunia saja, dan pada hakikatnya bukanlah nikmat melainkan niqmah. Adapun nikmat yang diberikan kepada orang-orang yang beriman dan taat adalah nikmat yang sempurna, yang akan berlanjut di akhirat. Imam Al-Tirmidzi meriwayatkan hadits marfu': "Sesungguhnya kesempurnaan nikmat adalah selamat dari neraka dan masuk surga." (hadits hasan menurut Al-Tirmidzi).

Terakhir, jika kita sudah mendapatkan petunjuk dari Allah dan berada diatas jalan yang lurus, mengapa kita masih terus minta kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus? Jawabannya adalah karena kita ingin tetap konsisten selalu berada diatas jalan yang lurus, karena syetan senantiasa terus menggoda kita untuk menyimpang dari jalan yang lurus. Karenanya kita selalu minta kepada Allah agar ditunjukkan dan dijaga untuk senantiasa berada diatas jalan yang lurus.

Disarikan dari Tafsir Al-Fatihah karya Imam Ibnu Rajab.