Indeks Artikel

 

SUNGGUH TELAH KUTEMUKAN AL-QUR’AN!!

Aku mempunyai cerita tentang kitab ini.

Adalah cerita itu hakku, untuk diriku sendiri, ketika kitab ini masih berupa goresan-goresan dalam pikiranku. Namun ketika kitab ini sudah dicetak, tentu saja cerita itu bukan lagi kepunyaanku semata, dan tidak lagi hanya khusus untukku.

Sungguh, aku telah membaca Al-Qur’an tatkala aku masih kecil. Saat itu pikiranku masih belum bisa menggapai makna-maknanya.  Pemahamanku juga masih belum bisa meliputi maksud-maksudnya. Namun saat itu aku mendapatkan sesuatu dalam diriku.

ImageKetika itu imajinasiku sebagai anak kecil senantiasa membayangkan gambaran-gambaran yang ada dalam ungkapan-ungkapan Al-Qur’an. Meskipun gambaran-gambaran itu sangat lugu, namun jiwaku senantiasa merindukannya dan perasaanku bisa menikmatinya. Yang demikian itu aku alami dalam waktu yang cukup lama. Aku merasa senang sekali dan gandrung.

Diantara gambaran-gambaran lugu yang sempat terbayang dalam anganku kala itu ialah yang muncul saat aku membaca ayat berikut:

((و من الناس من يعبد الله على حرف, فان أصابته خير اطمأن به, وان أصابته فتنة انقلب على وجهه, خسر الدنيا والآخرة))

"Dan diantara manusia ada yang menyembah kepada Allah ‘diatas satu sisi saja’. Apabila kebaikan menimpa padanya maka ia pun menjadi tenang dengannya. Namun jika cobaan menimpanya maka ia ‘membalikkan wajahnya’. Dia itu  orang yang akan merugi di dunia dan juga di akhirat”. (QS Al-Hajj : 11)

Tidak mungkin ada orang yang akan bisa tertawa andaikata ia membayangkan seperti bayanganku berikut ini:

Aku membayangkan seseorang yang sedang berdiri di tepian tempat yang tinggi: dudukan yang tinggi – yang biasa aku lihat di kampung – atau puncak dari sebuah bukit yang sempit – yang biasa aku lihat disamping lembah – dan dia sedang melakukan shalat. Akan tetapi, dia tidak mendapatkan tempat yang cukup. Karenanya dia bergoyang-goyang setiap kali melakukan gerakan shalat dan hampir-hampir dia terjatuh. Saya saat itu bisa melihatnya dan aku tirukan gerakan-gerakan shalatnya dengan rasa riang tetapi dengan penuh rasa heran!

Dan diantara gambaran-gambaran lugu lainnya ialah yang muncul saat aku membaca ayat berikut:

((واتل عليهم نبأ الذي آتيناه آياتنا فانسلخ منها, فأتبعه الشيطان, فكان من الغاوين ولو شئنا لرفعناه بها, ولكنه أخلد إلى الأرض واتبع هواه, فمثله كمثل الكلب: إن تحمل عليه يلهث, أو تتركه يلهث))

“Dan bacakanlah kepada mereka berita mengenai orang yang Kami telah memberikan kepadanya ayat-ayat Kami lalu ia melepaskan diri darinya dan syetan pun mengikutinya, sehingga ia termasuk orang-orang yang sesat. Andai saja Kami kehendaki tentu Kami akan meninggikannya dengan ayat-ayat Kami. Akan tetapi, ia mengekalkan diri kepada bumi dan memperturutkan hawa nafsunya. Perumpamaan orang itu ialah seperti anjing: apabila dihalau ia menjulurkan lidahnya dan apabila dibiarkan ia juga menjulurkan lidahnya”. (QS Al-A’raf : 176)

Saat itu aku sama sekali belum bisa memahami makna ataupun maksud ayat ini. Akan tetapi, dalam anganku muncul sebuah gambaran: gambaran seorang laki-laki dengan mulut ternganga dan lidah yang panjang, menjulur-julurkan lidahnya tanpa henti, dan saya tidak jauh darinya. Aku tidak suka melihatnya. Aku tidak paham mengapa dia menjulur-julurkan lidahnya. Dan aku tidak berani dekat-dekat dengannya!

Gambaran-gambaran semacam itu sangat banyak dan bermacam-macam, yang terbayang sewaktu aku masih kecil. Aku bisa menikmati khayalan-khayalan itu. Karenanya aku jadi gandrung untuk membaca Al-Qur’an. Aku senantiasa mencari gambaran dalam lembaran-lembaran Al-Qur’an, setiap kali aku membacanya.

 * * *

Itu hari-hari kecilku… Dan itu sudah berlalu dengan kenangannya yang manis dan bayangan-bayangannya yang lugu. Setelah itu menyusul hari-hariku yang baru. Aku masuk ke pesantren-pesantren ilmiah. Disana aku membaca tafsir Al-Qur’an dalam buku-buku tafsir dan aku juga mendengarkan tafsirnya dari para ustadz. Namun, aku tidak lagi bisa membaca atau mendengarkan Al-Qur’an yang nikmat dan indah, yang aku dapati di masa kanak-kanakku.

Alangkah malangnya! Aku telah kehilangan setiap keindahan dalam Al-Qur’an. Telah sirna pula kenikmatan dan kerinduan. Apakah memang ada dua Al-Qur’an? Al-Qur’an anak-anak yang menarik, mudah, dan menyenangkan ; dan Al-Qur’an para pemuda yang sulit, terikat, dan ruwet? Ataukah itu semua adalah dampak buruk yang muncul dari tafsir?

Akhirnya aku kembali lagi pada Al-Qur’an, aku baca. Tetapi dalam mushaf, bukan dalam kitab-kitab tafsir. Aku menemukan kembali Al-Qur’an-ku yang indah dan menyenangkan itu, dan aku mendapatkan kembali gambaran-gambaranku yang menimbulkan kenikmatan itu. Namun gambaran-gambaran itu tidak lagi lugu seperti dulu. Pemahamanku telah berubah. Sekarang aku telah bisa memahami maksud-maksud dan tujuannya. Aku telah memahaminya sebagai perumpamaan-perumpamaan dan bukan sekedar ucapan-ucapan. Namun, “‘sihir’”nya dan daya tariknya tetap ada. Alhamdulillah, telah kutemukan Al-Qur’an.

 * * *

Terlintas dalam benakku untuk menyebarkan kepada khalayak sebagian contoh mengenai gambaran-gambaran yang aku dapatkan dalam Al-Qur’an. Maka aku pun melakukannya. Aku menulis sebuah bahasan di majalah Al-Muqtathif tahun 1939 dengan judul “Penggambaran Artistik dalam Al-Qur’an”. Disana aku menjelaskan sejumlah gambaran,  kuungkap keindahan artistiknya, dan aku terangkan kekuatannya yang hanya muncul dari lafazh-lafaznya, yang terlalu sulit untuk bisa digambarkan dengan tinta pena atau gambar-gambar film. Lalu aku katakan,”Sesungguhnya bahasan ini akan lebih baik jika dijadikan tema untuk karya tulis mahasiswa”.

 * * *

Tahun-tahun telah berlalu. Gambaran-gambaran Al-Qur’an terbayang-bayang dalam diriku. Aku memandangnya sebagai efek dari keajaiban Al-Qur’an yang sangat artistik. Setiap kali aku mengingatnya, dorongan jiwaku bertambah kuat untuk memperdalam, menyempurnakan, dan memperluas bahasan ini. Maka aku pun mencurahkan perhatianku dari waktu ke waktu terhadap Al-Qur’an. Aku lengkapi gambaran-gambaran yang khas tersebut. Akibatnya pemikiran-pemikiranku tentang bahasan ini semakin mendalam. Lalu aku pun disibukkan dengannya. Sampai akhirnya, semua itu justru mendatangkan ketenangan dalam hatiku dan harapan-harapan dalam perasaanku.

Akhirnya, aku pun bermaksud – Insya Allah – untuk menyebarluaskannya setelah genap lima tahun sejak penerbitan awal bahasan ini di majalah Al-Muqtathif.

 * * *

Aku benar-benar telah memulai bahasan ini - dengan menggunakan mushaf sebagai referensi utama – untuk mengumpulkan gambaran-gambaran artistik dalam Al-Qur’an dan  menjelaskan metode penggambarannya serta pautan-pautan artistiknya. Kemauanku saat itu hanyalah mengemukakan aspek artistiknya saja tanpa melibatkan aspek-aspek lain dalam bahasan Al-Qur’an.

Namun apa yang aku dapati?

Hakikat baru muncul dalam pandanganku. Ternyata gambaran-gambaran dalam Al-Qur’an bukanlah bagian yang berseberangan dengan bagian-bagian Al-Qur’an yang lain. Ternyata penggambaran merupakan kaidah pengungkapan dalam kitab suci yang indah itu. Ia merupakan kaidah pokok yang digunakan dalam segenap tujuan-tujuan Al-Qur’an – kecuali tujuan-tujuan tasyri’. Dengan demikian pekerjaanku bukan lagi sekedar mengumpulkan dan merapikan gambaran-gambaran tersebut, akan tetapi memaparkan kaidahnya yang telah terungkap dan tampak didepan mataku.

Itu semua adalah taufiq dari Allah. Pikiranku sebetulnya tidak pernah sampai kesana, sampai aku akhirnya menemukannya begitu saja!

Atas dasar inilah bahasan ini dibangun. Yang akan dikemukakan dalam bahasan ini tidak lain adalah contoh-contoh dan penjelasan tentang kaidah tersebut, sekaligus penyingkapan terhadap keunikan yang orisinil dalam gaya pengungkapan Al-Qur’an.

 * * *

Setelah aku selesai memaparkan bahasan ini, aku menyaksikan dalam diriku kelahiran kembali Al-Qur’an. Sungguh aku telah mendapatkannya tanpa pernah aku perkirakan sebelumnya. Meskipun dahulu, dimasa kanak-kanakku, Al-Qur’an itu terasa indah dalam jiwaku namun keindahannya itu bersifat parsial dan terpecah-pecah. Adapun hari ini, keindahan itu terasa sebagai sebuah kesatuan yang dibangun diatas kaidah tertentu, kaidah yang memiliki pautan-pautan yang menakjubkan, yang belum pernah kuimpikan ataupun aku sangka-sangka sebelumnya.

Apabila Anda setuju agar aku menjelaskan dan menyebarluaskan  bahasan ini sebagaimana pikiran dan kemauanku, maka tanpa keraguan sedikit pun, itu semua sudah terpenuhi dengan terbitnya buku ini.