Diantara nama atau sebutan untuk QS Al-Fatihah adalah Al-Sab'u Al-Matsani. Disebut Al-Sab'u karena ia terdiri dari tujuh ayat. Bagi yang memasukkan basmalah kedalam surat, ayat ketujuh dimulai dari "Shirathal ladziina...". Adapun bagi yang tidak memasukkan basmalah kedalam surat, ayat ketujuh dimulai dari "Ghayril maghdhubi...". Adapun Al-Matsani dari sisi bahasa bermakna yang diulang-ulang atau yang terdiri dari dua-dua. Pertama, Al-Fatihah disebut Al-Matsani karena ia diulang-ulang dalam sholat. Kedua, Al-Fatihah disebut Al-Matsani karena surat ini terdiri dari dua-dua, atau pasangan-pasangan, baik pasangan yang sama ataupun pasangan yang berkebalikan, dan ini mencakup juga makna simetri. 

Mari kita tengok simetri yang ada dalam QS Al-Fatihah.

Pertama, simetri dalam jumlah ayat dan peruntukannya. Surat ini terdiri dari tujuh ayat, dimulai dari "Alhamdulillah..." sebagai ayat pertama: 3 ayat untuk Allah (sampai "Maaliki Yaumid Diin"), 1 ayat antara Allah dan hamba-Nya ("Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin"), dan 3 ayat untuk hamba-Nya ("Ihdinash shirathal mustaqiim... sampai selesai"). Peruntukan menjadi dua ini juga diperindah dengan tujuh sebagai jumlah ayat, sehingga bisa dibagi sama menjadi dua (masing-masing tiga ayat), dengan satu ayat musytarak (shared) antara keduanya.

Kedua, simetri di ayat "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin". Sebagaimana ayat ini separuhnya untuk Allah dan separuhnya untuk hamba-Nya, maka keseimbangan diberikan dengan adanya lafazh "iyyaka" pada masing-masing paruh. Disamping memberikan keseimbangan dalam hitungan lafazh dan panjang penggalan, diulangnya lafazh "iyyaka" ini juga memberikan penegasan bahwa baik "menyembah" maupun "meminta pertolongan" dua-duanya hanya kepada Allah.

Ketiga, simetri dalam akhiran ayat dan keseimbangan makna-maknanya. Tanpa memasukkan basmalah kedalam surat, akhiran dari tiap ayat adalah sebagai berikut. Dari depan: NUN, MIM, NUN. Dari belakang: NUN, MIM, NUN. Tiga yang dari depan adalah puji-pujian untuk Allah, dengan menyebut Allah sebagai pihak ketiga. Tiga yang belakang adalah munajat hamba kepada Allah, dengan menyebut Allah sebagai mukhatab (pihak kedua, yang langsung diajak bicara).

Jika kita memasukkan basmalah kedalam ayat dan memisahkan antara "Shirathal ladziina..." dan "Ghayril maghdhubi..." maka konfigurasinya adalah sebagai berikut. Pertama, ayat kesatu dan kedua berakhiran dengan MIM dan NUN, dimana kedua ayat ini memuat sifat rahmah (ayat pertama) dan sifat kekuasaan dan kekuatan (ayat kedua), dan masing-masing ayat memuat nama Allah yang mengindikasikan uluhiyah. Artinya, Allah mesti kita sembah karena dua hal: karena sifat rahmah-Nya dan karena sifat kekuasaan dan kekuatan-Nya.

Lalu sisanya dari depan adalah: MIM, NUN. Disini diulang lagi sifat rahmah (ayat ketiga) disusul sifat kekuasaan dan kekuatan (ayat keempat). Kemudian dari belakang (penggalan pertama dan kedua ayat ketujuh): NUN, MIM. Dua penggalan ini merepresentasikan dua hal yang bertolak belakang: kenikmatan Allah dan kemurkaan Allah. Kenikmatan Allah berkorespondensi secara langsung dengan sifat rahmah Allah, sedangkan kemurkaan Allah berkorespondensi secara langsung dengan sifat kekuasaan dan kekuatan Allah. Kemudian diantara depan dan belakang: NUN (akhiran ayat kelima), MIM (akhiran ayat keenam). Ayat kelima sendiri terdiri dari dua bagian: Iyyaka na'budu adalah hak Allah, dan Iyyaka nasta'in adalah hak hamba Allah. Demikian pula ayat keenam bisa dibagi menjadi dua bagian: Ihdinaa adalah kebutuhan hamba Allah, dan al-Shirath al-Mustaqiim adalah berasal dari Allah.

Keempat, simetri pada ayat kedua sampai keempat dalam hal sifat-sifat Allah. Ayat kedua menegaskan sifat kekuasaan dan kekuatan Allah, yakni rububiyah Allah, yang meliputi semua makhluq-Nya. Bagian awal ayat ketiga menegaskan nama Allah "Al-Rahmaan" yang bermakna sifat kasih sayang Allah kepada semua makhluq-Nya. Bagian kedua ayat ketiga menegaskan lagi sifat kasih sayang Allah dengan menyebutkan nama-Nya "Al-Rahiim". Ayat keempat menegaskan lagi sifat kekuasan dan kekuatan Allah, yakni mulkiyah Allah, yang meliputi semua makhluq-Nya. Sehingga, jika diurutkan, konfigurasinya adalah: kekuasaan dan kekuatan Allah -- kasih sayang Allah -- kasih sayang Allah -- kekuasaan dan kekuatan Allah. Artinya juga, kasih sayang Allah adalah inti dari sifat Allah (karena posisinya di tengah); kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu.

Kelima, simetri dalam ilmu dan amal. Di ayat ketujuh, disebutkan tiga jenis manusia (dan jin). Pertama adalah manusia (dan jin) yang Allah berikan nikmat. Kedua, manusia (dan jin) yang dimurkai. Ketiga, manusia (dan jin) yang tersesat. Yang pertama adalah yang memiliki ilmu yang benar dan mengamalkannya. Yang kedua memiliki ilmu tapi tidak mengamalkan sehingga mendatangkan kemurkaan Allah. Yang ketiga beramal tanpa ilmu yang benar sehingga tersesat.

-----------------------

Nama lain dari QS Al-Fatihah adalah Ummul Kitab dan Ummul Qur'an. Artinya, kandungan surat ini merangkum semua isi Al-Qur'an. Pertama, ini terlihat dari cakupannya atas semua jenis tauhid: 1) tauhid rububiyah, 2) tauhid uluhiyah, 3) tauhid mulkiyah, 4) tauhid asmaa' wa shifaat. Tauhid rububiyah dinyatakan oleh lafazh "Rabbul 'Alamin". Tauhid uluhiyah dinyatakan oleh lafazh "Allah" yang berasal dari kata "Ilah". Tauhid mulkiyah dinyatakan oleh lafazh "Maaliki Yaumid Diin". Dan tauhid asmaa' wa shifaat diwakili oleh lafazh "Al-Rahmaan" dan "Al-Rahiim" yang menunjukkan bahwa sifat kasih sayang adalah sifat utama Allah Ta'ala. Kedua, surat ini juga merangkum jenis-jenis manusia (dan jin), sebagaimana sudah diterangkan diatas, yang dikategorikan berdasarkan sikap mereka terhadap ilmu dan amal.

Wallahu a'lam bish shawab.