Ada beberapa koreksi yang perlu dilakukan dalam observasi ketinggian bulan. Ini saya sarikan dari artikel ini: https://astronavigationdemystified.com/.../altitude.../amp/

1. Koreksi parallax. Parallax terjadi pada observasi suatu obyek dari dua posisi yg berbeda. Ini terjadi pada kedua mata kita ketika melihat suatu obyek. Juga terjadi pada "stereo vision".
Pada observasi bulan, ada beberapa parameter disini: 1) jarak bulan dari posisi kita di permukaan bumi, 2) jarak bulan dari pusat bumi, 3) radius bumi, dan 4) sudut yg dibentuk oleh vektor posisi bulan dari tempat kita melihat dan dari pusat bumi.
Parallax makin besar terjadi ketika bulan makin dekat dengan horizon, dan makin kecil ketika bulan makin mendekati posisi 90 derajat dari horizon.

2. Koreksi semi-diameter. Yang dimaksud adalah diameter bulan.
Dalam banyak kasus, yang ingin kita ketahui adalah ketinggian pusat (titik tengah) bulan. Namun seringkali, tergantung bulan ada dalam fase apa, kita tidak bisa melihat keseluruhan lingkaran bulan. Kita hanya bisa melihat sebagian kecil dari wajah bulan yg terang, misalnya dalam bentuk bulan sabit (crescent). Nah, untuk mencari ketinggian pusat bulan, kita harus menggunakan koreksi semi-diameter.
Sisi bawah bulan disebut lower limb sedangkan sisi atas bulan disebut upper limb. Tergantung penampakan bulan, kadang2 kita hanya bisa melihat lower limb atau upper limb saja.

3. Koreksi refraksi (pembiasan). Refraksi makin besar ketika bulan makin dekat dengan horizon, dan makin kecil ketika bulan makin tinggi. Akibat refraksi ini, ketinggian bulan yang terlihat menjadi lebih besar daripada ketinggian bulan yang sebenarnya.
---------

Nah, pada ru'yatul hilal menjelang maghrib, ketinggian bulan selalu kecil diatas ufuk. Akibatnya, koreksi parallax dan koreksi refraksi menjadi signifikan. Demikian pula, bentuk bulan masih sangat tipis (jika terlihat), sehingga koreksi semi-diameter bisa menjadi sedikit lebih rumit, tergantung ukuran dan orientasi hilal yg terlihat.