Cetak

ImageBulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keutamaan, amalan sunnah diganjar seperti amalan wajib sedangkan amalan wajib diganjar berlipat-lipat. Ia adalah bulan terbaik diantara seluruh bulan dalam setahun. Nah, untuk mengoptimalkan amal ibadah kita selama bulan Ramadhan, kiranya kita perlu tahu amalan-amalan yang paling utama untuk dilakukan selama bulan yang penuh keutamaan tersebut. Tentunya semua amal ibadah dan amal kebajikan baik untuk dilakukan selama bulan Ramadhan (bahkan juga di bulan-bulan yang lainnya). Akan tetapi ada amalan-amalan yang lebih utama untuk dilakukan dan diprioritaskan selama bulan Ramadhan. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Berpuasa di siang hari Ramadhan

Tiada amalan yang lebih utama untuk dilakukan pada siang hari Ramadhan melebihi puasa. Bukan hanya ini amalan yang paling utama, namun juga ia wajib dilakukan, tentu saja terkecuali bagi yang berhalangan atau tidak mampu sesuai dengan ketentuan yang dijelaskan dalam fiqih. Karena itulah bulan Ramadhan disebut sebagai Syahr al-Shiyam. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharapkan balasan dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Puasa pada siang hari Ramadhan ini pada hakikatnya bisa dibedakan menjadi dua tingkatan. Pertama, puasa orang awam. Ini adalah puasa yang cukup dikatakan sah secara fiqih, yaitu dengan meninggalkan makan, minum, dan jimak semenjak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Tidak jarang orang-orang melakukan puasa ini, namun perkataan dan perbuatannya masih jauh dari makna "puasa". Berbohong, ghibah, dan memfitnah masih dilakukan. Mata dan telinga masih digunakan untuk memandang dan mendengarkan yang diharamkan. Tangan dan kaki masih digunakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Padahal Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang keji dan amalan yang keji selama berpuasa maka Allah sekali-sekali tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya." Dalam hal ini, puasanya secara fiqih memang sudah sah dan menggugurkan kewajiban, namun bisa jadi pahalanya nol besar di sisi Allah Ta'ala.

Tingkatan puasa yang kedua ialah puasa orang-orang khusus. Ini adalah puasa yang sebenar-benarnya. Tidak hanya meninggalkan pembatal-pembatal puasa, namun juga menjaga sluruh anggota tubuh dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Puasa yang demikian inilah yang dijanjikan dengan pahala yang berlipat ganda di sisi Allah dan bisa benar-benar menjadikan pelakukanya menjadi semakin bertaqwa.

2. Qiyam Ramadhan

Jika amalan yang paling utama pada siang Ramadhan adalah berpuasa, maka yang paling utama untuk dilakukan pada malam hari adalah qiyam Ramadhan. Oleh sebab inilah bulan Ramadhan sering pula disebut sebagai Syahr al-Qiyam. Yang dimaksud dengan qiyam Ramadhan adalah berdiri melakukan sholat pada malam hari Ramadhan. Tentunya yang dimaksud adalah melakukan sholat sunnah yang banyak, yang sering disebut sebagai shalat tarawih, sesudah sholat wajib Isya'. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang melakukan sholat pada malam-malam Ramadhan atas dasar iman dan berharap-harap balasan dari Allah maka akan dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu." Dalam hadits yang lain, beliau saw bersabda, "Barangsiapa yang melakukan sholat pada malam Lailatul Qadar maka akan dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu."

Selama bulan Ramadhan, dianjurkan untuk melakukan sholat tarawih secara berjamaah. Ini telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Hanya saja pada suatu saat beliau sengaja tidak lagi datang ke masjid untuk melakukan sholat tarawih berjamaah karena beliau khawatir hal tersebut akan diwajibkan. Keutamaan sholat tarawih berjamaah dinyatakan oleh hadits Rasulullah saw: "“Sesungguhnya siapa saja yang shalat bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk (semalam penuh).” (HR. Tirmidzi)

3. Tadarrus Al-Qur'an

Amalan istimewa lainnya yang sangat utama untuk diperbanyak selama bulan Ramadhan adalah tadarrus Al-Qur'an, minimal dengan membacanya. Tentunya membaca yang baik adalah membaca dengan menghayati makna ayat-ayatnya. Keutamaan tadarrus Al-Qur'an selama bulan Ramadhan diisyaratkan oleh paling tidak dua hal. Pertama, firman Allah SWT dalam Al-Qur'an: "Bulan Ramadhan yang didalamnya diturunkan Al-Qur'an...". Kedua, sunnah Rasulullah saw dimana pada setiap bulan Ramadhan beliau melakukan tadarrus Al-Qur'an bersama malaikat Jibril as. Bahkan beliau saw mengkhatamkan dua kali tadarrus Al-Qur'an bersama Jibril as pada Ramadhan di tahun dimana beliau wafat. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa bulan Ramadhan sering disebut sebagai Syahr al-Qur'an. Begitu pula telah dicontohkan oleh generasi muslim terdahulu dimana selama Ramadhan mereka fokus pada tadarrus Al-Qur'an. Bahkan diceritakan bahwa para ulama generasi terdahulu menutup majelis-majelis taklimnya selama bulan Ramadhan hanya demi untuk fokus pada tadarrus Al-Qur'an, berdzikir, dan berdoa.

4. Berdoa, berdzikir, dan beristighfar

Diantara doa yang mustajab adalah doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka. Demikian pula, doa menjelang berbuka sangatlah mustajab. Demikian pula pada malam-malam Ramadhan terutama pada sepertiga malam yang terakhir. Jika sepertiga malam terakhir sepanjang tahun saja doa sangat mustajab, terlebih lagi selama Ramadhan. Lebih khusus lagi selama waktu sahur kita sangat dianjurkan untuk banyak beristighfar (memohon ampun kepada Allah) dan berdoa sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur'an: "Dan di waktu sahur mereka beristighfar." 

Adalah sebuah isyarat didalam Al-Qur'an mengenai hubungan yang erat antara puasa Ramadhan dan berdoa. Setelah berbicara mengenai kewajiban puasa Ramadhan dalam QS Al-Baqarah: 183 - 185, Allah SWT menyelipkan pembicaraan mengenai doa: "Dan apabila hamba-Ku bertanya mengenai Aku maka sesungguhnya Aku dekat; Aku mengabulkan doa orang yang berdoa ketika ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk." (QS Al-Baqarah: 186). Baru kemudian sesudah itu Allah melanjutkan pembicaraan mengenai hukum puasa.

Diantara doa ma'tsur yang dianjurkan untuk diucapkan pada malam Ramadhan adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw dalam hadits 'Aisyah ra: 

اللْهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memberi maaf, maka maafkanlah aku."

Sebetulnya doa ma'tsur ini diajarkan oleh Rasulullah saw atas pertanyaan ibunda kita 'Aisyah ra mengenai doa yang sebaiknya ia ucapkan ketika mendapati malam Lailatul Qadar. Hanya saja, karena kita tidak tahu persis kapan Lailatul Qadar terjadi, maka baik baik sekali jika doa ini diucapkan pada setiap malam Ramadhan. Tentu saja, kita tidak hanya dibatasi dengan doa ini saja. Disamping memperbanyak doa tersebut, kita juga bisa berdoa dengan doa-doa lainnya, baik yang ma'tsur maupun yang tidak, sepanjang doa tersebut berisi kebaikan dan tidak mengandung dosa dan kemaksiatan.

5. Memberi makan dan bersedekah

Amalan utama lainnya selama bulan Ramadhan adalah memberi makan orang yang berpuasa. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang memberi makan orang yang berbuka puasa maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut." Demikian pula sangat dianjurkan banyak-banyak berinfaq dan bersedekah selama bulan Ramadhan. Rasulullah saw bersabda, "Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan." Disebutkan pula dalam hadits bahwa Rasulullah saw sangatlah pemurah dan beliau menjadi lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan melebihi angin yang bertiup. Sedekah ini mencakup segala bentuk sedekah baik yang wajib seperti zakat maupun sedekah yang bersifat sunnah.

6. Beri'tikaf

Beri'tikaf artinya berdiam diri di masjid dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, dengan banyak melakukan sholat, dzikir, doa, tilawah Al-Qur'an, tafakkur, dan semacamnya. Beri'tikaf di bulan Ramadhan, terutama pada sepuluh hari yang terakhir adalah sunnah Rasulullah saw. Sepeninggal beliau saw, sunnah ini senantiasa dihidupkan oleh istri-istri beliau dan para sahabat - radhiyallahu 'anhum ajma'in.

7. Umrah

Bagi yang mampu dan memiliki kesempatan, umrah pada bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah saw berkata bahwa umrah di bulan Ramadhan bernilai sama dengan haji. Bahkan dalam riwayat lainnya, seperti haji bersama beliau saw. Meskipun umrah di bulan Ramadhan dari sudut pandang fiqih tidak bisa menggantikan kewajiban haji, namun nilainya yang disetarakan dengan haji - bahkan haji bersama Rasulullah saw - menunjukkan keutamaannya yang sangat besar.