Cetak

Bagaimana Al-Qur'an Diturunkan?

Terdapat dua pendapat yang masyhur mengenai bagaimana Al-Qur'an diturunkan. Pendapat pertama yang dianut oleh jumhur mengatakan bahwa Al-Qur'an turun dalam dua tahapan. Pertama-tama Al-Qur'an diturunkan seluruhnya secara lengkap ke Baitul 'Izzah di langit dunia. Ini terjadi pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Semenjak itu pula sampai dengan akhir kenabian, Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah saw. Adapun pendapat yang kedua mengatakan bahwa Al-Qur'an hanya diturunkan dengan satu cara yaitu berangsur-angsur selama masa kenabian, dan wahyu pertama diturunkan pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.

Terkadang Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah saw dalam beberapa ayat dan kadang-kadang satu surat penuh. Pada setiap tahun di bulan Ramadhan Jibril 'alaihissalam membimbing Rasulullah saw untuk tadarrus Al-Qur'an seluruhnya, dimana Jibril menunjukkan kepada Rasulullah ayat ini diletakkan disini dan ayat itu diletakkan disitu. Tentu saja Al-Qur'an yang di-tadarrus-i ini makin lengkap dari tahun ke tahun karena wahyu turun terus-menerus sepanjang masa kenabian beliau. Pada tahun terakhir kehidupan Rasulullah saw, beliau melakukan dua kali tadarrus Al-Qur'an bersama Jibril 'alaihissalam.

Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf. Para ulama berbeda pendapat mengenai maksud tujuh huruf ini. Namun pendapat yang paling masyhur mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ini adalah tujuh dialek. Dikatakan bahwa tujuh dialek ini adalah: 1) Quraisy, 2) Hudzail, 3) Tsaqif, 4) Hawazin, 5) Kinanah, 6) Tamim, dan 7) Yaman. Dari sini kita bisa memahami bahwa perbedaan dialek ini hanyalah pada beberapa kata tertentu dalam Al-Qur'an yang memang dialek-dialek tersebut menggunakan kata yang berbeda. Artinya, sebagian besar isi Al-Qur'an tetaplah sama dalam hal penggunaan kata.

Penghimpunan Al-Qur'an di Masa Kenabian

Ketika Rasulullah saw masih hidup, Al-Qur'an dikumpulkan dengan dua cara: melalui hafalan dan melalui penulisan. Orang yang pertama menghafal Al-Qur'an tentu saja adalah Rasulullah saw. Kemudian para sahabat beliau radhiyallahu 'anhum. Para sahabat pun bertingkat-tingkat hafalan Al-Qur'annya, ada yang hafal sebagian dan ada pula yang hafal seluruhnya. Para sahabat yang hafal keseluruhan Al-Qur'an biasa disebut sebagai para qurra'. Diantara para sahabat yang menghafal keseluruhan Al-Qur'an, terdapat tujuh nama yang disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari, yaitu: 1) Abdullah ibn Mas'ud, 2) Salim ibn Ma'qil, 3) Muadz ibn Jabal, 4) Ubay ibn Ka'ab, 5) Zaid ibn Tsabit, 6) Abu Zaid, dan 7) Abu Al-Darda'. Tujuh sahabat ini dianggap sebagai para sahabat yang menyetorkan hafalannya ('aradh) kepada Rasulullah saw.

Adapun penulisan Al-Qur'an yang dilakukan di masa kenabian dilakukan dalam dua cara. Pertama adalah penulisan resmi atas perintah Rasulullah saw. Setelah turunnya suatu ayat, Rasulullah memerintahkan penulisannya dan menunjukkan posisinya dalam surat. Para sahabat yang mendapatkan amanah penulisan Al-Qur'an ini biasa disebut sebagai para penulis wahyu, yaitu antara lain Ali ibn Abi Thalib, Muawiyah ibn Abi Sufyan, Ubay in Ka'ab, dan Zaid ibn Tsabit. Hanya saja penulisan yang dilakukan ini belum terkumpul dalam satu mushaf. Kedua adalah penulisan atas inisiatif para sahabat sendiri, tanpa perintah khusus dari Rasulullah saw. Dalam hal ini, para sahabat menuliskan ayat-ayat Al-Qur'an diatas berbagai media yang memungkinkan seperti pelepah kurma dan sebagainya.

Penghimpunan Al-Qur'an di Masa Abu Bakar

Pada masa Abu Bakar terjadi Perang Riddah yang ikut serta didalamnya banyak qurra' diantara para sahabat. Dalam peperangan tersebut telah gugur sekitar 70 qurra'. Atas kejadian ini, Umar ibn Al-Khaththab menyarankan dan meyakinkan Abu Bakar untuk menghimpun Al-Qur'an karena khawatir Al-Qur'an bisa hilang, sebagian atau seluruhnya, jika di masa yang akan datang para qurra' yang tersisa juga tiada. Awalnya Abu Bakar belum bisa menerima saran tersebut, namun akhirnya beliau bisa menerimanya. Lalu Abu Bakar meminta Zaid ibn Tsabit untuk memimpin penghimpunan Al-Qur'an. Maka Zaid ibn Tsabit pun mengumpulkan Al-Qur'an dari hafalan para sahabat dan penulisan yang telah dilakukan di masa Rasulullah saw. Jadi sumber penghimpunan adalah hafalan dan penulisan sekaligus. Penghimpunan dilakukan dengan sangat hati-hati. Diriwayatkan bahwa sahabat yang menyetorkan ayat Al-Qur'an harus disertai dengan dua orang saksi. Kumpulan Al-Qur'an ini kemudian disebut sebagai mushaf.

Mushaf yang dihimpun di masa Abu Bakar ini tentu saja sudah memiliki urutan surat karena sudah terhimpun dalam satu mushaf. Demikian pula mushaf tersebut mencakup tujuh huruf (dialek) yang ada. Setelah selesai penulisan, mushaf ini dipegang oleh Abu Bakar. Lalu sepeninggal beliau disimpan oleh putrinya, Hafshah.

Penghimpunan Al-Qur'an di Masa Utsman ibn Affan

Pada masa Utsman Islam telah menyebar ke berbagai negeri. Para qurra' diantara para sahabat pun menyebar ke berbagai tempat dan mengajarkan Al-Qur'an kepada orang-orang. Hanya saja Al-Qur'an yang diajarkan oleh para sahabat ini mencakup tujuh huruf (dialek). Sebagai akibatnya, seringkali terjadi perselisihan diantara manusia mengenai bacaan Al-Qur'an yang benar, dan sebagian menyalahkan sebagian yang lainnya. Setelah hal ini diadukan kepada Ustman ibn Affan, Utsman meminta mushaf yang disimpan oleh Hafshah. Setelah itu Ustman memerintahkan Zaid ibn Tsabit, Abdullah ibn Zubair, Sa'id ibn Al-Ash, dan Abdulrahman ibn Al-Harits untuk menyalin dari mushaf Hafshah dan memerintahkan jika ada perbedaan dialek untuk menggunakan dialek Quraisy. Dengan demikian mushaf yang dihimpun di masa Utsman ini hanya menggunakan satu dialek saja, yaitu dialek Quraisy, dan meninggalkan enam dialek yang lainnya. Setelah penulisan mushaf Utsman ini selesai, Mushaf Hafshah pun dikembalikan lagi kepada Hafshah. Lalu Utsman membuat beberapa salinan yang sama dan dikirim ke berbagai kota besar. Kemudian Utsman memerintahkan agar semua mushaf yang lainnya dibakar. Dari sini bisa dipahami bahwa motif penhimpunan di masa Utsman adalah untuk menghilangkan perselisihan dan percekcokan mengenai Al-Qur'an yang ketika itu mulai terjadi di berbagai tempat akibat adanya tujuh dialek yang berbeda-beda.

Mushaf Utsman ini ditulis dengan rasm yang kemudian dikenal sebagai rasm 'Utsmani. Rasm ini tidak memiliki tanda titik apalagi harakat. Namun bisa dibaca dengan baik karena lisan Arab orang-orang ketika itu masih sangat fasih.

Tahsin rasm 'Utsmani

Ketika lisan Arab orang-orang mulai dimasuki kesalahan di sana-sini akibat percampuran dengan bangsa-bangsa lainnya, maka muncullah gagasan untuk membubuhkan tanda-tanda agar mushaf bisa dibaca tanpa adanya kesalahan. Ada perbedaan pendapat mengenai siapa yang pertama kali meletakkan tanda-tanda diatas rasm 'Utsmani. Namun pendapat yang paling masyhur adalah bahwa Abu Al-Aswad Ad-Da'uli adalah yang pertama kali membubuhkannya atas perintah Abdul Malik ibn Marwan.

Tahsin rasm 'Utsmani dalam perjalanan sejarahnya dilakukan dalam beberapa tahapan sebagai berikut:

  1. Penambahan titik.
  2. Penambahan harakat. Pertama-tama harakat menggunakan tanda titik (fathah berupa titik diatas sebelum huruf, dhammah berupa titik diatas setelah huruf, dan kasrah berupa titik dibawah sebelum huruf). Kemudian sesudah itu harakat menggunakan tanda seperti yang kita kenal sekarang untuk fathah, dhammah, kasrah, tanwin, dan sukun. Kemudian sesudah itu harakat tasydid ditambahkan juga.
  3. Penggunaan khath yang lebih bagus (indah).
  4. Penambahan nama surat, tanda akhir ayat, dan nomor ayat.
  5. Penambahan tanda-tanda waqaf.