ImageSejarah sains memfokuskan kajiannya dengan apa yang terjadi di masa yang lalu berkaitan dengan penemuan-penemuan ilmiah dan juga proses penemuan yang kompleks dan ide yang berkembang dari waktu ke waktu. Fokus ini perlu untuk melihat perilaku suatu masyarakat yang diduga telah memberikan sumbangan terhadap fenomena ilmiah sepanjang sejarah. Dalam rangka inilah suatu peradaban bangsa tertentu patut dihargal atas konstribusinya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang saat ini menjadi monopoli Barat dan Amerika.

Banyak penulis sejarah ilmu pengetahuan berpendapat bahwa fenomena ilmu pengetahuan sekarang ini merupakan hasil mutlak dan akal barat dan berusaha mengesampingkan sumbangan bangsa lain. Mereka tertanik dengan keyakinan ini, karena fakta menunjukkan bah­wa revolusi ilmu pengetahuan memang terjadi di Eropa Barat. Bagaimanapun, mela­belkan semua khazanah ilmu pengetahuan hanya kepada Barat adalah kurang tepat. Padahal pada kenyataannya bangsa dan peradaban lainnya seperti Yunani, Gina, India dan Muslim mempunyai konstribusi yang sangat hebat, baik Iangsung mau­pun tak langsung kepada fenomena ilmu pengetahuan.

ImageHegemoni peradaban Barat yang didominasi oleh pandangan hidup saintifik (scientific worldview) telah membawa dampak negatif terhadap peradaban lain­nya, khususnya dalam bidang epistemologi. Barangkali, “westernisasi ilmu pengetahuan” adalah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi ini. Jika hal ini difahami dengan bâik, maka terma Islamisasi Ilmu Pengetahuan kon­temporer” bukan hanya istilah yang wajar dan mudah diterima, tapi lebih merupakan proyek yang membawa keharusan konseptual. Oleh sebab itu, substansi Islamisasi tidak dapat sepenuhnya dimengerti jika tidak dikaitkan dengan persoalan epistemol­ogis yang melanda dunia Islam, dan tantangan yang menjadi sumbernya. Kajian ini akan memaparkan secara singkat Westernisasi ilmu pengetahuan yang menjadi tantan­gan bagi bangunan ilmu pengetahuan Islam untuk dapat memaharni makna dan relevan­si islamisasi.

ImageUsaha ke arab proses Islamisasi ilmu pengetahuan menghadapi beberapa tan­tangan, khususnya justru dan kalangan cer­dik pandai Islam sendiri. Mereka terdiri dan beberapa golongan. Pertama, golongan yang sependapat dengan gagasan ini secara teori dan konsepnya dan berusaha untuk menjelmakannya dan menghasilkan karya yang menepati maksud Islamisasi dalam disiplin ilmu mereka.

Kedua, golongan yang sependapat dengan gagasan ini secara teori dan konsepnya tetapi tidak mengusahakannya se­cara praktis.

Ketiga, terdapat golongan yang tidak sependapat dan sebaliknya mencemôoh, mengej ek dan mempermainkan gagasan ini. Golongan ini lazimnya berargumen bahwa semua ilmu datangnya dan Allah dan justru itu semua ilmu adalah benar dan secara tabiatnya sudah Islam.

Golongan keempat adalah di kalan­gan mereka yang tidak mempunyai pendi­nan terhadap isu ini. Mereka lebih suka mengikut perkembangan yang dirintis oleh sarjana lain atau pun mereka tidak perduli dengannya.

Revolusi Ilmiah

ImageDalam rangka membangun sains baru, Francis Bacon menulis Novuni Organum (Instrumen Baru), Tartaglia menulis Nova Scientia (Sains Baru), Giambattista Vico Nova Scienza (Sains Baru), Kepler Astronomia Nova (Astronomi Baru), dan Galileo Two New Sciences (Dua Sains Baru).

Dalam astronomi lama, sistem Ptolemaik itu lebih dominan daripada sistem Ar­istotelian, tetapi dalam kedua sistem itu bumi adalah sentral dan tetap, benda-benda langit bergerak dalam orbit-orbit sirkular, dan alam semesta itu terbatas.

Meskipun dominan, sistem Ptolemaik berada di ujung tanduk. Ia tidak lagi meng­gambarkan realitas seperti yang sebenarnya. Misalnya, sebagai sebuah sistem mate­matis, ia membahas bulan, matahari, dan planet-planet secara terpisah dan meng­gunakan dua konstruksi independen agar dapat menentukan property simultan bulan, yaitu ukuran dan posisi bulan.

Demikian juga, ia tidak lagi sesuai dengan fenomena, dan kalender yang bergan­tung pada sistem ini adalah menyesatkan. Equant, salah satu model geometris Ptole­my, memperkenalkan ketidakseragaman (non-uniformity).

ImagePeradaban Barat menjadi lebih berbeda dan lebih kuat dibandingkan dengan peradaban-peradaban lain disebabkan oleb adanya perubahan revolusioner seperti Revolusi Keilmuan, Revolusi Perancis, Revolusi Industri, profesional­isasi ilmu, interaksi rapat antara ilmu dan teknologi dan revolusi-revolusi abad ke-20 dalam ilmu yang saling berkesinambungan yang pada akhirnya tidak hanya mempe­ngaruhi Barat itu sendiri, tetapi juga seluruh dunia. Jika kita perhatikan, faktor-faktor yang paling penting dalam revolusi-revolusi ini ada!ah teknologi dan sains. Teknolo­gi, yang meliputi pengetahuan praktis, telah dirnulai oleh manusia pertama dan sains telah dimulai oleh para filosof  Yunani pertama sekitar 600 SM. Namun, sains sebelum Revolusi llmiah serta sebelum Revolusi Industri, merupakan subyek yang timbul tenggelam secara bergantian dalam peradaban-peradaban yang berbeda. De­ngan Revolusi llmiah dan Industri, sains maupun teknologi menjadi tiang utama dalam peradaban Barat, tetapi sampai dekade pertengahan abad ke- 19, keduanya mengikuti jalan-jalan yang berbeda dan independen. Teknologi, terutamanya, telah berkembang tanpa suatu input ilmiah.