ImageTENTANG PENGETAHUAN : Manusia pertama, Adam as, telah dimuliakan karena pengetahuan. Namun, pengetahuan yang dimaksud bukanlah berasal dari Adam sendiri, namun diajarkan oleh Allah. Yang diajarkan oleh Allah kepada Adam adalah nama-nama (al-asma’). Nama-nama tersebut bisa dipahami sebagai satuan terkecil bahasa manusia, yang membentuk struktur bahasa yang lebih kompleks. Jadi, bahasa tidak bisa diciptakan sendiri tetapi harus diajarkan. Adapun pola berpikir, maka hal itu sudah diciptakan oleh Allah dalam pikiran manusia secara  built-in. Sebagai deskripsi, marilah kita amati seorang bayi. Ia mengenal kata-kata dari lingkungan yang mengajarinya. Namun kata-kata haruslah disusun sedemikian rupa sehingga bermakna dan logis. Pekerjaan menyusun ini dilakukan oleh pikiran manusia. Kemampuan tersebut sudah built-in dalam pikiran manusia, yang akan mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan hidupnya.

Allah telah menciptakan pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai gerbang utama dalam mencerap pengetahuan. Pendengaran dan penglihatan merupakan indera utama bagi obyek-obyek fisik. Adapun hati, maka ia merupakan indera utama bagi obyek-obyek nonfisik.

Diri manusia terdiri dari fakultas fisik dan nonfisik. Fakultas fisik memiliki kebutuhan yang bersifat fisik, seperti makanan, minuman, dan sebagainya. Demikian pula, fakultas nonfisik memiliki kebutuhan yang bersifat nonfisik, seperti ilmu, relijiusitas, dan sebagainya. Dalam hal pengetahuan, fakultas fisik melakukan pencerapan pengetahuan terhadap obyek-obyek fisik. Adapun fakultas nonfisik, maka ia mencerap pengetahuan atas obyek-obyek nonfisik pula. Karena itu, kita bisa mengamati alam fisik ini dengan indera-indera fisik (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, dan sebagainya). Sebaliknya, kita hanya bisa mengetahui obyek-obyek metafisika melalui indera-indera nonfisik pula.

Dalam proses mengetahui, pertama-tama indera fisik kita menangkap obyek fisik. Selanjutnya alam imajinasi kita membuat representasi atas obyek fisik tersebut. Representasi ini bersifat abstrak. Sampai disini, kita telah melakukan proses abstraksi. Selanjutnya, pikiran akan membentuk memori dari representasi obyek tersebut. Memori ini tidak selalu akan bisa sama dengan representasi obyek. Dalam keadaan memori yang buruk misalnya, akan ada beberapa bagian dari representasi obyek yang terluput. Bersamaan dengan proses pembentukan memori, pikiran kita juga melakukan proses memahami. Proses memahami ini dilakukan oleh pola pikir yang memang sudah built-in dalam pikiran manusia. Apabila terdapat lebih dari satu obyek, pola pikir kita akan berusaha untuk mengkait-kaitkan secara logis obyek-obyek tersebut.

Karena pengetahuan kita bersumber dari pengalaman dalam mencerap obyek, maka pikiran kita tidak akan pernah membayangkan sesuatu yang tidak pernah kita alami. Sebagai contoh, apabila seseorang tidak pernah melihat surga maka dalam pikirannya tidak akan mungkin terbayang gambaran yang tepat tentang surga. Dalam kasus semacam ini, yang bisa dilakukan oleh pikiran hanyalah mereka-reka sebatas informasi yang diperoleh. Apabila seseorang memberi informasi kepada kita bahwa didalam surga terdapat pohon, sungai, dan wanita maka pikiran kita hanya bisa membayangkan pohon, sungai, dan wanita sejauh pengalaman yang pernah kita rasakan. Namun apabila Allah pernah menghadirkan surga kepada seseorang melalui mimpi maka barulah orang tersebut bisa memiliki gambaran yang tepat tentang surga, karena memang ia memiliki pengalaman tentang itu.

Pola pikir kita melakukan pekerjaannya secara logis dalam beberapa mode. Diantara mode yang terpenting ialah deduksi, induksi, dan abduksi. Deduksi bisa dibedakan atas deduksi spekulatif dan deduksi yang pasti benar. Pembedaan ini didasarkan pada proposisi umumnya, apakah kebenarannya bersifat spekulatif atau pasti. Apabila proposisi umumnya memiliki kebenaran yang bersifat spekulatif maka proses deduksi tersebut disebut deduksi spekulatif. Namun jika proposisi umum yang dipakai memiliki kebenaran yang bersifat pasti maka deduksi tersebut disebut deduksi yang pasti benar. Proposisi umum yang pasti benar misalnya kaidah matematika dan kaidah logika yang bersifat aksiomatik.

Adapun induksi, maka tingkat kebenarannya berada dibawah tingkat kebenaran yang diperoleh melalui deduksi yang pasti benar. Hal ini disebabkan oleh karena proposisi-proposisi khusus (yang membentuk proposisi umum) hanya benar secara statistik dan sejauh yang dapat diamati. Sebagai contoh, apabila dari berbagai percobaan melempar batu selalu didapatkan bahwa batu jatuh ke bawah maka dari situ ditarik proposisi umum bahwa batu yang dilempar mesti jatuh ke bawah. Proposisi umum ini tidak seratus persen benar, karena tetap saja ada kemungkinan bahwa batu bisa tidak jatuh ke bawah (dan itu terbayangkan, yang berarti masuk akal), hanya saja hal itu belum pernah kita temui. Contoh yang lain berkenaan dengan kausalitas (sebab-akibat). Suatu saat kita melihat Ali bersin tepat setelah Ahmad datang. Untuk kedua kalinya, kita menyaksikan hal yang sama. Tidak cukup sampai di situ, kita ternyata menyaksikan hal yang sama  sampai seratus kali. Dari situ, kita menarik proposisi umum bahwa Ali bersin karena Ahmad datang. Proposisi umum ini tidak seratus persen benar karena tidak bisa dijamin bahwa Ali memang bersin karena Ahmad datang. Siapa tahu itu hanyalah kebetulan yang berlangsung berkali-kali. Siapa tahu bahwa pada kali yang keseratus satu, Ahmad datang namun Ali tidak bersin. Jadi, proposisi umum yang ditarik dalam induksi  hanya benar  sejauh pengalaman yang ada.

Abduksi berarti menarik kesimpulan dengan cara mencoba mengkait-kaitkan beberapa proposisi. Kebenaran yang dihasilkan melalui proses abduksi bersifat mungkin (probable). Contohnya, sekolah sains Al-Hikmah adalah sekolah sains yang menghasilkan saintis-saintis yang berkualitas. Abdussalam adalah seorang saintis yang berkualitas. Dari situ kita tarik kesimpulan bahwa Abdussalam adalah lulusan sekolah sains Al-Hikmah. Kesimpulan ini bersifat mungkin. Ia bisa benar atau salah dengan kemungkinan yang berimbang antara benar dan salah.

Dimensi Praktis dari Pengetahuan (Ilmu)


Kita harus bisa membedakan antara ilmu dan informasi (wawasan). Wawasan hanyalah sarana untuk mencapai ilmu. Ibn Mas’ud mengatakan,”Ilmu bukanlah banyaknya informasi, melainkan (yang bisa mendatangkan) rasa takut kepada Allah”. Jadi, kuantitas informasi tidak selalu sebanding dengan kuantitas ilmu. Apabila ada orang yang sering membaca koran maka yang jelas ia adalah seorang pengumpul informasi. Predikat berilmu baru ia capai apabila ia mampu mencapai manfaat yang hakiki dari berbagai informasi yang ia miliki. Demikian pula dengan orang yang sering membaca buku, tidaklah ia dikatakan berilmu hanya karena ia dengan tepat telah menyalin informasi yang ada dalam buku tersebut kedalam otaknya. Ia baru dikatakan benar-benar berilmu apabila ia mampu melakukan sintesis yang bermakna atas berbagai  informasi yang ada dalam buku tersebut. Jadi, kadar keilmuan ditentukan oleh kemampuan melakukan sintesis atas berbagai informasi yang diterima. Hal ini dengan jelas telah dinyatakan dalam Al-Qur’an, yakni bahwa diantara ciri orang yang beriman ialah mencerap sebanyak mungkin informasi (istima’ al-qaul) lalu melakukan sintesis atas semua informasi tersebut untuk mendapatkan kesimpulan yang terbaik (ittiba’ al-ahsan).


TENTANG TAFSIR BIL ‘ILMI TERHADAP AL-QUR’AN


Kita meyakini bahwa Al-Qur’an merupakan pegangan hidup abadi dan kebenarannya bersifat abadi. Di lain pihak, kita pun sepenuhnya paham bahwa kebenaran sains yang diperoleh melalui metode induktif adalah tidak niscaya. Kebenaran sains yang demikian ini hanyalah berlaku selama belum ada kebenaran baru yang menyalahinya. Pada zaman Ptolemeus, orang-orang sangat yakin bahwa benda-benda langit berputar terhadap bumi (geosentris). Namun ketika muncul Teori Heliosentris Copernican maka kebenaran Teori Geosentris pun batal. Teori Geosentris benar pada zamannya dan Teori Heliosentris pun benar pada zamannya. Berdasarkan sifat kebenaran sains induktif yang tidak niscaya, kita sama sekali tidak dibenarkan menafsirkan Al-Qur’an dengan sains secara “korespondensi satu-satu”.


TENTANG TUJUAN MEMPELAJARI SAINS DAN TEKNOLOGI (IPTEK)

Secara umum, Islam menggariskan dua tujuan dalam mempelajari iptek. Tujuan pertama bersifat etis-normatif sedangkan tujuan kedua bersifat praktis. Pertama-tama, tujuan kita mempelajari iptek ialah untuk lebih memahami ayat-ayat Allah. Ini bersifat etis-normatif, sehingga dalam hal ini tidak harus ada manfaat praktis-material yang  dihasilkan. Untuk memenuhi tujuan pertama ini, sains memiliki peran yang lebih dominan daripada teknologi.

Tujuan yang kedua ialah untuk kesejahteraan manusia dan alam. Yang harus dicamkan disini ialah pengertian kesejahteraan. Kesejahteraan yang dimaksudkan tentu saja adalah kesejahteraan yang hakiki dan holistik, bukan kesejahteraan yang semu dan sempalan belaka. Untuk bisa mencapainya, manusia harus pula berpikir secara radikal (menyentuh hakikat) dan komprehensif-integral-holistik.

Kesejahteraan tidak selalu identik dengan kecanggihan. Apalah artinya kecanggihan apabila tidak bisa membawa manusia kepada kesejahteraan yang hakiki dan holistik. Kecanggihan seharusnya diletakkan dalam kerangka atau mengikuti kesejahteraan. Dengan demikian boleh ada kecanggihan dalam kesejahteraan, dimana kecanggihan itu akan menopang kesejahteraan. Namun, tidak  boleh ada kecanggihan yang malah merusak kesejahteraan.

Untuk tujuan yang kedua, teknologi – sebagai terapan dari sains – memiliki andil yang lebih dominan daripada sains itu sendiri. Namun perlu dipahami bahwa sains dan teknologi sangat berkaitan satu sama lain. Perkembangan sains memiliki dampak yang lebih besar daripada perkembangan teknologi. Dengan sains yang sama, kita bisa mengembangkan teknologi secara ekstensif dan progresif. Teknologi barulah bisa melompat secara superprogresif apabila terjadi perubahan sains.