ImageWanita Sebelum Islam

Masyarakat Arab jahiliyah sebelum datangnya Islam menganggap bahwa anak perempuan itu tidak ada harganya. Seseorang diantara mereka akan merasa sangat malu jika memiliki seorang anak perempuan. Keadaan ini diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (An-Nahl ayat 58-59)

Ketika itu kaum wanita dihalangi untuk mendapatkan warisan. Karena itulah kemudian Allah SWT berfirman: “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.” (An-Nisa’:7).

Apa Itu Masyarakat Madani?

Kata Madani berasal dari bahasa Arab  m-d-n  yang artinya menempati suatu tempat (Ar Raziy dalam Mukhtar as Shihah hal.742). Dari kata inilah kemudian dibentuk kata madinah yang berarti kota atau tempat tinggal sekelompok orang, sehingga lawan  kata al-madinah  adalah al-badiyah  yang berarti kehidupan yang masih nomaden. Bentuk  jamaknya  adalah madain  atau mudun. Kata  madani  merupakan bentuk  dari  mashdar shina’iy, yang  menunjukkan arti  sifat  yang  dimiliki  orang  kota (min ahlil madinah).

ImageHanya saja dalam perkembangan berikutnya, kata madani --juga kata hadharah--, ini digunakan oleh orang Arab untuk menerjemahkan istilah bahasa Inggris civilization. Justru pada akhirnya kata madani yang berarti civilization  yang sering dipakai dalam perbincangan kehidupan masyarakat dan negara. Dalam konteks perangkat negara, madani memiliki arti sipil (bukan militer), sedangkan dalam  konteks  hukum, madani  berarti  bukan pidana. Sehingga,  hukum perdata  sering  disebut qanun madani,  seperti  undang-undang  sipil  perkawinan  disebut  dengan qanun al-zawaj al-madani.

Anwar Ibrahim mengartikan masyarakat madani sebagai sistem sosial yang subur yang diasaskan kepada prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan perseorangan dengan kestabilan masyarakat. Pelaksanaannya antara lain berupa pelaksanaan pemerintahan yang tunduk pada undang-undang dan terselenggaranya sistem yang transparan.

ImageDi negeri kita ini memang banyak fenomena yang aneh-aneh. Pernah kita dibuat gedheg-gedheg oleh fenomena ‘batu-batu ajaib’ yang konon diyakini bisa menyembuhkan ‘segala macam’ penyakit. Saya sebut ‘batu-batu ajaib’ dan bukan sekadar ‘batu ajaib’ karena batu tersebut ternyata jumlahnya tidak hanya satu. Setelah ada satu orang mengaku punya (baca: Ponari), ada saja orang lain yang bilang bahwa ia juga punya.

Anda yang gemar kartun silat tentunya masih belum lupa dengan serial Dragon Ball. Dalam serial tersebut diceritakan adanya beberapa batu ajaib yang jika seseorang berhasil mengumpulkannya maka ia akan menjadi maha sakti dan juga awet muda. Seolah tidak mau kalah dengan batu-batu ajaib ala Dragon Ball, tidak jauh dari kita dan tidak lagi hanya ada dalam film kartun, ada batu-batu yang diyakini memiliki kesaktian serupa.

Berbondong-bondong, dan katanya ribuan jumlahnya, orang-orang datang dari berbagai penjuru daerah hanya untuk ngalap berkah dari batu-batu tersebut. Mereka bahkan rela berdesak-desakan dan ngantre berjam-jam bahkan sampai nginap hanya untuk tujuan tersebut.

ImageSemua orang pasti tahu bahwa penyakit terparah negeri ini adalah budaya korupsi, suap, dan kolusi. Koran Singapura The Straits Times sekali waktu pernah menjuluki Indonesia sebagai the envelope country, karena segala hal bisa dibeli, entah itu lisensi, tender, wartawan, hakim, jaksa, polisi, petugas pajak atau yang lain. Pendek kata segala urusan semua bisa lancar bila ada “amplop”.

Hasil survei terbaru Political and Economic Risk Consultancy (PERC) menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup dari 16 negara se Asia Pasifik. Indonesia terkorup dengan skor 8,32 atau lebih buruk jika dibandingkan dengan Thailand (7,63). Sedangkan negara yang paling bersih dari korupsi adalah Singapura dengan skor 1,07.

Ini tentu saja sebuah ironi. Bukankah negeri ini adalah negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia? Tetapi mengapa justru menjadi negeri yang paling korup? Bukankah pula ajaran Islam melarang dengan keras dan bahkan mengutuk perbuatan korupsi, suap, dan kolusi? Apakah umat Islam di negeri ini tidak mengetahui hal itu?

ImageKita harus menyadari adanya konspirasi jahat terhadap Islam, yang bersifat global dan tidak lagi regional, terutama di era kecanggihan teknologi informasi dan transportasi sekarang ini, yang membuat dunia ini seolah-olah telah menjadi satu kampung kecil saja, tanpa ada batas dan sekat.

Kita harus menyadari bahwa sekarang ini Islam adalah agenda besar (bahkan yang terbesar) dari pihak-pihak yang tidak menginginkan kebangkitan Islam. Apalagi, ketika mereka mendengar bahwa kita telah mendeklarasikan Abad 15 H ini sebagai Tonggak Kebangkitan Ummat Islam.

Apa saja diantara bentuk konspirasi itu?