ImagePendahuluan

Dunia Islam saat ini memiliki dua tantangan: tantangan dari dalam diri sendiri (internal) dan tantangan yang datang dari luar (eksternal). Namun mengatasi tantangan internal lebih krusial, karena kita kalah sebetulnya bukan karena musuh kuat, tetapi karena kita lemah. Meskipun musuh kita kuat (dan amat wajar jika musuh senantiasa berusaha menguatkan dirinya), namun jika kita lebih kuat niscaya kita tidak akan bisa dikalahkan. Jadi, problem terbesar umat ini adalah mengatasi tantangan yang ada dalam dirinya sendiri.

Sekarang ini era global. Setiap negara di muka bumi ini pasti dipengaruhi secara kuat oleh kekuatan global, atau lebih tepatnya konspirasi global. Tidak terkecuali dunia Islam. Yang menjadi masalah adalah bahwa kekuatan global saat ini tidak berada di tangan kita. Dan yang lebih parah lagi adalah ketika kekuatan global yang ada saat ini memaksakan program “globalisasi” ke dunia Islam. Program ini tidak lain tujuannya adalah untuk semakin menggencet, menekan, dan melemahkan dunia Islam.

Masa kenabian dan Khilafah Rasyidah merupakan tata masyarakat paling ideal, dan karenanya menjadi patron/model. Namun dari sisi peradaban, terus terjadi inklinasi pasca Khilafah Rasyidah, hingga puncaknya pada Golden Era di masa Bani Abbasiyah, dengan ikon Baghdad dan Andalusia.

ImagePeradaban Islam di masa awal dihadapkan pada persaingan dengan peradaban Romawi dan Persia. Meski Islam lahir di sebuah jazirah yang tandus dan tidak menarik, namun lambat laun Islam justru menggeser hegemoni dua imperium besar tersebut. Secara perlahan namun pasti, Islam berhasil melakukan futuhat sampai ke batas barat Afrika Utara (Maroko), dan kemudian bergerak ke Utara sampai ke Spanyol. Dari arah Laut Mediterania, futuhat diraih sampai ke kawasan Balkan. Ke arah asia kecil, futuhat diraih sampai ke Samarkand. Dan ke arah timur, futuhat diraih sampai ke bagian barat India. Ini adalah sebuah pencapaian prestisius, yang menjadikan Islam ketika itu sebagai peradaban terbesar di dunia.

Peradaban Islam juga telah dicatat oleh sejarah sebagai pelopor kebangkitan ilmu pengetahuan. Ketika Islam mencapai masa keemasan peradabannya, termasuk di sektor ilmu pengetahuan, orang Eropa masih berada dalam kegelapan. Mereka masih hidup dalam kebodohan dan keterbelakangan. Namun orang-orang Eropa akhirnya belajar ke Dunia Islam, dan Islam pun dengan murah hati mau mengajarkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada orang-orang Eropa tersebut. Orang-orang Eropa yang belajar kepada Islam inilah yang kemudian menjadi para perintis dan pelopor munculnya Renaissance dan kemudian Revolusi Industri di Eropa.

ImageIslam mengungkung kebebasan kamu wanita?

Perhatikanlah kisah yang dituturkan oleh seorang Amerika. Dia adalah putra seorang janda yang kehilangan suaminya pada usia muda tapi dia adalah seorang ibu yang baik. Dia mengorbankan segala kesenangannya demi ibunya dan adik perempuannya. Dan meskipun adik perempuannya itu belum mencapai usia dewasa, sebagai hasil dari pengaruh masyarakat dan televisi Amerika, setiap Tom, Dick dan Harry (maksudnya setiap lelaki) datang dan mengajak saudara perempuannya itu keluar rumah. Dia berkata bahwa ibunya menangis setiap waktu, khawatir atas apa yang mungkin terjadi. Putrinya itu polos tapi tak terkendali sebab masyarakat memberinya pesan: ”Kamu adalah tuan untuk dirimu sendiri, lakukan apapun yang kamu sukai dan capailah kesenangan seperti orang-orang lain.”

Inikah yang dimaksudkan oleh Barat sebagai kebebasan dan emansipasi wanita? Sesungguhnya kaum wanita di Barat hanya dieksploitasi oleh masyarakatnya demi memenuhi kesenangan dunia, dan dimanfaatkan untuk kepentingan industri uang.

Jika Barat mengatakan bahwa Islam mengungkung kebebasan kaum wanita dan melarangnya bekerja dan beraktivitas, maka secara singkat dapat dikemukakan rumusan menyangkut pekerjaan perempuan menurut islam adalah bahwa "perempuan mempunyai hak untuk bekerja dan beraktivitas, selama pekerjaan dan aktivitasnya tersebut membutuhkannya dan atau selama mereka membutuhkan pekerjaan dan aktivitas tersebut".

Dalam dekade terakhir ini kita sering sekali disibukkan dengan berita-berita tentang teroris dan terorisme. Yang menyesakkan dada adalah ketika banyak dari tulisan-tulisan atau pemberitaan-pemberitaan di media yang secara jelas ataupun samar-samar mencoba mengidentikkan terorisme dengan islam.

ImageKita semua tentu tahu betapa usaha keji untuk menciptakan stigma islam itu identik dengan terorisme, telah menciptakan suasana yang amat merugikan bagi umat Islam. Sebagai contoh, semenjak Peristiwa 11 September, ruang gerak dan kebebasan umat islam terutama di negeri-negeri barat menjadi sangat terbatas. Bahkan sekadar untuk beribadah atau mengenakan jilbab. Yang jelas, betapa stigma itu benar-benar merugikan umat Islam.

Yang juga parah, terorisme sering diidentikkan dengan jihad. Padahal jelas-jelas terorisme itu bukan jihad. Jihad adalah sesuatu yang mulia dalam Islam, bahkan amal yang paling utama.

Jihad punya aturan yang jelas. Pertama-tama, jihad itu maknanya luas. Tidak hanya berperang. Ada jihad dengan dakwah, jihad dengan pendidikan, dan sebagainya, bahkan jihad untuk mengendalikan hawa nafsu.

Soekarno mengatakan: “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku ubah dunia.”

Siapakah pemuda? Dalam Al-Qur’an, pemuda disebut dengan fatan. Misalnya sebutan fatan untuk Nabi Ibrahim muda, yang ketika itu sedang dicari oleh Raja Namrud karena dituduh menghancurkan patung-patung berhala. Fatan yuqaalu lahu Ibrahim. Juga sebutan fityatun untuk para pemuda Ashabul Kahfi. Innahum fityatun amanuu birabbihim wa zidnaahum hudaa.

ImageSedangkan dalam Hadits, pemuda disebut sebagai syaab. Misalnya dalam hadits “Lima Perkara Sebelum Lima Perkara Lainnya”: syabaabaka qabla haramika (masa mudamu sebelum masa tuamu). Juga dalam hadits “Tujuh Golongan Yang Mendapat Naungan Allah”: syaab nasya-a fii ‘ibadatillah (seorang pemuda yang tumbuh besar dalam ibadah dan taat kepada Allah).

Dari sisi usia, pemuda terbagi ke dalam dua fase yaitu fase puber/remaja berusia antara 10 sampai 21 tahun, dan fase dewasa awal berusia antara 21 sampai 35 tahun. Sebagian berpendapat bahwa siapapun yang berusia dibawah 40 tahun semenjak ia menjadi baligh bisa disebut sebagai pemuda. Barangkali patokannya adalah usia kerasulan Muhammad saw, yaitu 40 tahun. Adapun dari sisi karakter, pemuda adalah sebagaimana yang diuraikan oleh Imam Hasan Al-Banna: “Sesungguhnya sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal serta berkorban dalam mewujudkannya. Keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan amal (serta pengorbanan) merupakan karakter yang melekat pada pemuda. Karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertakwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal (dan pengorbanan) adalah kemauan yang kuat. Hal itu semua tidak terdapat kecuali pada diri pemuda.”