ImageHukum adzan

Semua fuqaha sepakat bahwa adzan adalah fardhu / sunnah muakkadah atas penduduk kota besar.

Perbedaan pendapat :

Pendapat I (Malik) :

fardhu / sunnah muakkkadah hanya pada sholat berjama’ah, dan tidak pada sholat sendirian.

Pendapat II (Syafi’I, Abu Hanifah) :

sunnah baik pada sholat sendirian maupun sholat berjama’ah, hanya saja pada sholat berjama’ah lebih ditekankan.

Pendapat III (sebagian zhahiriyah) :

wajib ‘ain.

Pendapat IV (sebagian zhahiriyah) :

wajib pada sholat berjama’ah baik pada keadaan hadir ataupun safar.

Pendapat V (sebagian zhahiriyah) :

wajib pada sholat berjama’ah dalam keadaan safar.

Sebab perbedaan pendapat :

  1. Pertentangan antar hadits

  2. Pertentangan pemahaman : apakah adzan itu perkataan khusus yang merupakan satu rangkaian dengan sholat ataukah sekadar ucapan untuk memanggil.

Pendapat Sayyid Sabiq :

Hukum adzan adalah wajib atau mandub.


Sifat-sifat adzan

Perbedaan pendapat :

Pendapat I (penduduk Madinah, Malikiyyah) :

takbir dua kali, syahadatain empat kali, yang lainnya dua kali-dua kali.

Pendapat II (Malikiyyah baru) :

takbir dua kali, syahadatain dua kali-dua kali dimana yang pertama pelan sementara yang kedua keras (disebut sebagai tarji’) , yang lainnya dua kali-dua kali.

Pendapat III (penduduk Makkah, Syafi’i) :

takbir yang diawal empat kali, syahadatain empat kali, yang lainnya dua kali-dua kali.

Pendapat IV (penduduk Kufah, Abu Hanifah) :

takbir yang diawal empat kali, yang lainnya dua kali-dua kali.

Pendapat V (penduduk Bashrah, Hasan Al-Bashriy, Ibnu Sirin) :

takbir yang diawal empat kali, syahadatain lalu hayya ‘alash sholat lalu hayya ‘alal falah (diucapkan tiga kali), yang lainnya dua kali-dua kali.


Sebab perbedaan pendapat :

  1. Pertentangan antar hadits

  2. Pertentangan antar amalan yang diwariskan


Pendapat Sayyid Sabiq :

Ada tiga kaifiyat adzan :

  1. Takbir diawal empat kali, sisanya dua kali-dua kali.

  2. Takbir diawal empat kali, syahadatain dua kali-dua kali dilakukan dengan cara tarji’, sisanya dua kali-dua kali.

  3. Sama dengan nomor 2, hanya saja takbir diawal hanya dua kali.


Kapan dikumandangkan adzan shubuh?

Perbedaan pendapat :

Pendapat I (Malik, Syafi’i) :

boleh adzan shubuh sebelum masuk waktunya.

Pendapat II (Abu Hanifah) :

tidak boleh adzan shubuh kecuali setelah masuk waktunya.

Pendapat III :

boleh saja adzan dilakukan sebelum masuk waktunya, akan tetapi setelah masuk waktunya harus ada adzan lagi.

Pendapat IV (Ibnu Hazm) :

boleh adzan sebelum masuk waktunya, asalkan antara adzan tersebut dan adzan setelah masuk waktunya terdapat tenggang waktu sebentar selama kira-kira waktu dimana yang satu turun dan yang lain naik


Sebab perbedaan pendapat :

Pertentangan antar hadits


Pendapat Sayyid Sabiq :

Disyariatkan (masyru’) melakukan adzan shubuh pertama sebelum masuk waktunya dengan syarat bisa dibedakan antara adzan pertama dan adzan kedua. Hikmah adzan pertama adalah untuk memberi tanda kepada yang melakukan sholat malam dan untuk membangunkan yang masih tidur. Tenggang waktu antara kedua adzan adalah sejenak selama kira-kira waktu dimana yang satu turun dan yang lain naik.


Orang yang melakukan iqamat bukan orang yang melakukan adzan

Perbedaan pendapat :

Pendapat I (jumhur) :

boleh, tidak apa-apa

Pendapat II :

tidak boleh


Sebab perbedaan pendapat :

Pertentangan antar hadits

Hadits I :

Hadits Ash-Shada’iy, dia berkata,”Aku mendatangi Rasulullah saw. Ketika masuk waktu shubuh, Rasulullah memerintahkan aku untuk beradzan maka aku pun beradzan. Ketika Rasulullah beranjak untuk memulai sholat, Bilal hendak melakukan iqamat. Maka rasulullah bersabda,’Sesungguhnya Ash-Shada’iy sudah adzan. Siapa yang adzan maka dialah yang iqamat’.

Hadits II :

Ketika Abdullah ibn Zaid mengetahui waktu adzan telah tiba maka Rasulullah memerintahkan Bilal untuk beradzan, kemudian beliau saw memerintahkan Abdullah untuk beriqamat.


Metode Istinbath :

Metode naskh : Hadits Ash-Shada’iy muncul lebih belakangan. Implikasi : pendapat II (tidak boleh).

Metode tarjih : Hadits Abdullah ibn Zaid lebih kuat. Implikasi : pendapat I (boleh).


Pendapat Sayyid Sabiq :

Boleh saja orang yang melakukan iqamat bukan orang yang melakukan adzan. Akan tetapi yang lebih utama adalah jika adzan dan iqamat dilakukan oleh orang yang sama.


Mengambil upah dari adzan

Perbedaan pendapat :

Pendapat I (jumhur) : boleh

Pendapat II : tidak boleh


Sebab perbedaan pendapat :

Alasan pendapat II :

Hadits Utsman ibn Abil ‘Ash, dia berkata,”Diantara perkara terakhir yang dipesankan oleh Rasulullah saw kepadaku ialah agar aku menjadikan muadzin orang yang tidak mengambil upah atas adzannya”. Hadits tersebut shahih. Lagipula adzan diqiyaskan pada sholat : Sholat tidak boleh diupah, maka demikian pula adzan.

Alasan pendapat I :

Hadits diatas tidak shahih. Sementara, mengqiyaskan adzan pada sholat adalah tidak tepat.


Pendapat Sayyid Sabiq :

Sebaiknya mu’adzin tidak mengambil upah atas adzannya. Bahkan sebagian besar fuqaha berpendapat bahwa mengambil upah atas adzan adalah makruh.


Komentar :

Meskipun upah atas adzan itu dicela, namun harus ada pandangan khusus apabila kemaslahatan yang lebih besar menuntut adanya upah bagi muadzin.


Apa yang diucapkan oleh orang yang mendengar adzan?

Perbedaan pendapat :

Pendapat I :

persis seperti ucapan muadzin.

Pendapat II (Malik) :

persis seperti ucapan muadzin, kecuali setelah kalimat hayya ‘alash sholat dan hayya ‘alal falah maka jawabannya adalah laa haula wa laa quwwata illaa billah.


Sebab perbedaan pendapat :

Pertentangan antar hadits

Hadits I :

Hadits Abu Sa’id Al-Khudriy, Rasulullah bersabda,”Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin”.

Hadits II :

Hadits Umar ibnul Khaththab dan Hadits Muawiyah : bahwasanya ketika mendengar hayya ‘alash sholah dan hayya ‘alal falah maka hendaknya seseorang menjawab dengan ucapan laa haula wa laa quwwata illaa billah.


Metode istinbath :

Metode tarjih : Hadits Abu Sa’id lebih kuat. Implikasi : pendapat I.

Metode jam’u wa taufiq : Hadits II mengkhususkan keumuman hadits I. Implikasi : pendapat II.


Pendapat Sayyid Sabiq :

Persis seperti ucapan muadzin kecuali setelah hayya ‘alash sholat dan hayya ‘alal falah maka jawabannya adalah laa haula wa laa quwwata illa billah.


Hukum iqamah

Perbedaan pendapat :

Pendapat I (jumhur) : sunnah mu’akkadah dengan tingkatan yang lebih kuat daripada adzan

Pendapat II (zhahiriyah) : fardhu


Sebab perbedaan pendapat :

Perbedaan pendapat tentang apakah iqamah termasuk dalam sabda Nabi “Sholatlah sebagaimana kalian melihatku sholat” ataukah tidak. Jika ya maka fardhu. Jika tidak maka sunnah muakkadah.


Pendapat Sayyid Sabiq :

Tidak dinyatakan.


Sifat-sifat iqamah

Perbedaan pendapat :

Pendapat I (Syafi’i) :

takbir di awal dua kali, qad qaamatish sholat dua kali, yang lainnya satu kali.

Pendapat II (Malik) :

takbir di awal dua kali, yang lainnya satu kali.

Pendapat III (riwayat lain dari Malik) :

sama dengan pendapat II, hanya saja takbir di akhir juga dua kali.

Pendapat III (Hanafiyah) :

semuanya dua kali-dua kali.


Sebab perbedaan pendapat :

Pertentangan antar hadits


Pendapat Sayyid Sabiq :

Terdapat tiga kaifiyat iqamat :

  1. Takbir diawal empat kali, yang lainnya dua kali-dua kali.

  2. Takbir diawal dan diakhir dua kali-dua kali, qad qaamatish sholah dua kali, sisanya satu kali.

  3. Sama dengan nomor 2, hanya saja qad qaamatish sholah diucapkan satu kali.




Apakah wanita perlu adzan dan iqamah?

Perbedaan pendapat :

Pendapat I (jumhur) :

wanita tidak wajib melakukan adzan dan iqamat.

Pendapat II (Malik) :

jika ada iqamat maka itu bagus.

Pendapat III (Syafi’i) :

jika ada adzan dan iqamat maka itu bagus.

Pendapat IV (Ishaq) :

wanita juga wajib melakukan adzan dan iqamat.


Sebab perbedaan pendapat :

Perbedaan dalam hal ‘aamm dan khaashsh.

Perbedaan tentang pengqiyasan masalah ini pada keimaman wanita.


Pendapat Sayyid Sabiq :

Sayyid Sabiq hanya memaparkan perbedaan pendapat dalam masalah ini, dimana secara garis besar terdapat dua pendapat : 1) tidak wajib atas wanita melakukan adzan dan iqamat, 2) tidak apa-apa bagi wanita melakukan adzan dan iqamat.

 

Komentar :

Meskipun ada pendapat yang membolehkan adzan dan iqamat bagi wanita, namun yang harus dicatat adalah tidak boleh muncul fitnah karena suara si wanita yang mengumandangkannya.


Jeda antara adzan dan iqamat

Pendapat Sayyid Sabiq :

Diantara adzan dan iqamat harus ada waktu yang cukup bagi orang-orang untuk berjalan memenuhi adzan tersebut, karena memang hanya untuk inilah adzan itu disyariatkan. Jika tidak demikian, maka hilanglah faidah adzan tersebut.


Komentar :

Termasuk dalam pengertian ini adalah terdapat cukup waktu bagi para jama’ah untuk berwudhu.


Keluar dari masjid setelah adzan dikumandangkan

Pendapat Sayyid Sabiq :

Dilarang untuk keluar dari masjid setelah adzan dikumandangkan, melainkan harus ikut sholat jama’ah terlebih dahulu, kecuali karena udzur syar’I atau dengan azam akan kembali lagi untuk mengikuti sholat berjama’ah.


Ketika masuk masjid sementara sholat berjama’ah sudah selesai, apakah boleh melakukan adzan dan iqamat sebelum melakukan sholat jama’ah sendiri?

Perbedaan pendapat (dikemukakan oleh Sayyid Sabiq) :

Pendapat I : boleh

Pendapat II : boleh iqamat saja

Pendapat III : boleh adzan tetapi jangan dikeraskan


Melagukan adzan :

Pendapat Sayyid Sabiq :

Melagukan sedemikian sehingga mengubah, menambah, atau mengurangi huruf, harakat, atau mad-nya maka itu adalah makruh. Dan jika sampai mengubah maknanya maka itu adalah haram.


Mengumandangkan tasbih, qira’ah Al-Qur’an, nasyid (termasuk didalamnya adalah sholawatan), dan semacamnya sebelum shubuh atau sebelum sholat Jum’at

Pendapat Sayyid Sabiq :

Itu semua bid’ah. Jika dilakukan sebelum shubuh, itu semua bisa mengganggu orang yang tidur atau yang sedang melakukan sholat tahajjud.