Di awal-awal keterlibatan saya dalam organisasi dakwah kampus, kurang lebih pada akhir tahun 90-an, saya sempat dihadapkan pada sebuah fenomena. Beberapa saudara saya, dalam penilaian saya, telah berusaha - secara sadar ataupun tidak sadar - mempertentangkan secara frontal antara kepahaman (al-fahm), kepercayaan (ats-tsiqah), dan ketaatan (ath-tha'ah). Mereka seolah-olah hendak mengatakan bahwa kepahaman dan ketaatan adalah dua hal yang terpisah. Kepahaman ada di satu sisi sedangkan ketaatan ada pada sisi yang lainnya.

ImageRealitas yang ada ketika itu, dalam penglihatan saya, adalah bahwa pimpinan organisasi dakwah tidak bisa memberikan (mentransfer) informasi yang cukup kepada para anggotanya, pada saat mereka memberikan berbagai perintah untuk dilaksanakan. Akibatnya, para anggota jadi 'tidak nyambung' dan merasa harus menjadi 'robot'. Ketika ada usaha dari anggota untuk menggali informasi yang ia butuhkan, sekadar untuk meyakinkan dirinya bahwa yang ia lakukan adalah baik dan benar, ada anggapan bahwa anggota tersebut telah bersikap kurang taat. Padahal, permasalahannya sesungguhnya bukan masalah taat atau tidak taat, akan tetapi belum cukupnya informasi dan kepahaman.

ImageBentuk-bentuk Jatuh di Jalan Dakwah

  • Menjadi lambat, kurang kontribusi, kurang produktif
  • Menjadi pasif dan tidak berbuat apa-apa
  • Menarik diri dari lingkaran dakwah
  • Menjadi benci terhadap dakwah
  • Berbalik memusuhi dan memerangi dakwah
Itulah beberapa indikasi jatuhnya seseorang di jalan dakwah, mulai dari indikasi yang ringan sampai pada yang paling berat.

ImageSalah satu asholah dakwah adalah kebebasan memilih. Kebebasan memilih tidak pernah boleh direnggut. Jika Allah Sang Maha Pencipta telah menetapkan kebebasan itu semenjak manusia dilahirkan, bagaimana kita akan merampasnya?

Memahami kebebasan manusia untuk memilih ini amat penting terkait dengan dakwah Islam. Berkali-kali Allah dalam Al-Qur’an mengatakan kepada Nabi,”Tidaklah engkau ini (wahai Muhammad) kecuali sekedar penyampai saja”. Jadi, Allah menegaskan bahwa Nabi saw hanyalah penyampai saja. Adapun mengenai sikap mereka setelah itu, menerima atau menolak, maka itu bukanlah urusan Nabi saw. Hidayah adalah urusan Allah. Dia memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dia menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki.

ImageSebagian kalangan berusaha mempertentangkan ayat “Laa ikraaha fid diin” dengan ayat-ayat dan hadits-hadits tentang jihad. Sebetulnya, jika kita memiliki pemahaman yang benar dan mendalam, maka pertentangan itu sebetulnya tidak ada sama sekali. Didalam Al-Qur’an tidak ada kontradiksi!

Yang diinginkan oleh Islam hanyalah agar setiap manusia yang ada di muka bumi mendapatkan informasi yang benar tentang Islam, selanjutnya setiap orang bebas memilih antara Islam dan kafir. Jika kita memaksa setiap orang untuk berislam, maka status mukhtaar (yang bebas memilih) mereka telah hilang dan berubah menjadi status mukrah (yang dipaksa). Padahal Allah hanya memberikan balasan kebaikan dan keburukan, Surga dan Neraka, kepada manusia dan jin karena mereka diberikan taklif (beban) sementara mereka bebas memilih. Jika mereka tidak lagi bisa memilih, maka tidak ada lagi Surga dan Neraka bagi mereka. Hewan, tumbuh-tumbuhan, bumi, langit, bahkan para malaikat tidak berhak atas Surga dan Neraka karena mereka semua tidak bisa memilih. Para malaikat tidak bisa memilih untuk durhaka kepada Allah. Bagaimana dengan Iblis yang telah dicap masuk Neraka? Sesungguhnya dahulu Iblis telah diberikan kesempatan untuk memilih, apakah dia mau mentaati perintah Allah untuk bersujud kepada Adam, ataukah tidak. Lalu, Iblis memilih durhaka.

ImageSebuah hal yang tidak lagi diingkari, bahwa hal pertama yang dilakukan oleh Nabi sesampai di Madinah adalah membangun masjid. Hal lainnya yang juga beliau lakukan sesudah itu ialah mempersaudarakan kaum muslimin, terutama antara muhajirin dan anshar, serta membuat kesepakatan-kesepakatan konstitusional bersama segenap elemen masyarakat yang ada di Madinah. Sa’id Ramadhan Al-Buthiy - dalam bukunya Fiqh al-Siirah - menyebut ketiganya sebagai Asas-asas Masyarakat Baru.

Betapa pentingnya arti sebuah masjid, Nabi saw juga menyempatkan diri membangun masjid di Quba’ meskipun beliau hanya tinggal di situ selama empat hari saja.