ImageKetika dakwah ini semakin meluas, maka spektrum barisan dakwah pun menjadi semakin luas dan beragam. Jika dengan jumlah kecil barangkali kita masih cenderung homogen, maka ketika sudah besar homogenitas itupun sulit dipertahankan. Mau homogen terus, ya tidak pernah besar, atau minimal tidak segera besar.

Dahulu, musik kita adalah nasyid-nasyid yang “kering (dari instrumentalia)” tapi “basah dengan ruh perjuangan Islam”. Namun ketika dakwah sudah semakin meluas, maka musik-musik kita pun semakin “ramai” dan semakin melenakan. Lirik-lirik lagunya pun tidak lagi hanya bertemakan perjuangan, tetapi juga mulai merambah tema-tema populer.

ImageKetika dahulu jilbab lebar itu senantiasa berhiaskan keshalihan dan militansi, maka kita barangkali tidak lagi menemui hal yang sama ketika jumlah muslimah yang berjilbab lebar itu semakin banyak. Ketika jilbab lebar itu telah menjadi sebuah tren atau mode, maka barangkali akan ada saja seorang muslimah yang mengenakan jilbab lebar dengan alasan lebih modis dan lebih nge-tren. Apakah kita menentang jilbab sebagai tren atau mode? Tidak!

Justru itulah yang kita harapkan. Kita senantiasa berharap bahwa jilbab itu akan menjadi tradisi masyarakat muslim, karena tradisi itu mempunyai kekuatan moral yang kuat. Ketika seseorang melanggar sebuah tradisi masyarakatnya, maka masyarakat akan memberikan hukuman moral kepadanya. Ketika jilbab telah menjadi tradisi maka seorang muslimah akan merasa malu jika ia tidak mengenakan jilbab. Sebaliknya, jika jilbab belum mentradisi, bahkan masih menjadi sesuatu yang aneh, maka masyarakat akan bersikap heran bahkan sinis terhadap mereka yang mengenakannya. Pada saat itu, berjilbab menjadi sebuah hal yang sulit kecuali bagi yang memiliki pendirian sekokoh batu karang.

Islam adalah agama universal, untuk seluruh umat manusia. Islam bukan agama rasial seperti Yahudi. Islam bukan pula agama orang Arab saja. Dalam Islam, kemuliaan diukur dari kadar ketakwaan. “Inna akramakum ‘indallahi atqaakum”. Derajat seseorang juga akan diangkat oleh Allah karena kadar keimanan dan keilmuan. Yang dimaksud dengan keilmuan adalah ketaqwaan itu sendiri. “Innama yakhsyallaha min ‘ibaadihil ‘ulamaa”.

ImageSiapa yang kita ajak kepada cahaya Islam? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita tengok beberapa kejadian dalam sirah Nabi, yang relevan dengan pertanyaan tersebut. Suatu ketika Nabi sedang berusaha mengislamkan beberapa borjuis dan orang penting Quraisy. Barangkali, Nabi berharap bahwa keislaman mereka akan membawa progres dakwah yang pesat, karena mereka merupakan orang-orang yang sangat berpengaruh dan juga simpul massa (memiliki banyak pengikut). Ketika Nabi sedang asyik berbincang-bincang dengan mereka, datanglah Ibnu Ummi Maktum, seorang buta yang papa, meminta kepada Nabi agar juga mau mengajarkan Islam kepadanya. Tetapi, permintaan Ibnu Ummi Maktum itu telah membuat Nabi menjadi bermasam muka, karena barangkali mengganggu perbincangan diplomatis beliau dengan para petinggi Quraisy. Saat itulah, Allah yang Maha Bijaksana memberikan teguran - QS ‘Abasa - kepada Nabi untuk tidak bermasam muka kepada Ibnu Ummi Maktum, yang meskipun papa akan tetapi memiliki kemauan yang besar untuk berubah menjadi baik.

ImageUntuk menjawab pertanyaan pada judul diatas, marilah kita tengok sejenak perjalanan dakwah Nabi saw. Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah) merupakan titik awal yang sangat signifikan bagi perluasan dakwah Islam. Setidaknya ada beberapa ciri yang menandai perluasan dakwah Islam pasca Fathu Makkah.

Motif orang untuk masuk Islam menjadi semakin beragam.

Mereka yang masuk Islam pasca Fathu Makkah biasa dikenal sebagai thulaqa’ (jamak dari thaliq). Sebagaimana dikatakan oleh Sayyid Sabiq dalam buku beliau “At-Tashwiirul Fanniy fil Qur’aan”, motif keislaman masyarakat Arab senantiasa berkembang dari waktu ke waktu dalam perjalanan kerasulan Muhammad. Ketika Nabi masih tinggal di Makkah, yang menjadi motif dominan adalah kemukjizatan Al-Qur’an itu sendiri. Sesudah Nabi hijrah ke Madinah dan kaum muslimin sudah memiliki kekuasaan dan kekuatan, maka ada orang yang kemudian masuk Islam karena melihat keadilan, keindahan dan kesempurnaan syariat Islam, ada yang masuk Islam karena melihat bahwa kaum muslimin senantiasa menang dalam peperangan, demikian seterusnya. Sesudah Nabi membebaskan Kota Makkah, maka manusia berbondong-bondong masuk Islam (QS Al-Nashr). Tentu saja motif keislaman mereka juga semakin beragam. Barangkali ada juga yang masuk Islam karena tidak ada jalan lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih prospektif kecuali dengan masuk Islam, atau masuk Islam karena ingin mendapatkan banyak rampasan perang (ghanimah), dan sebagainya. Apakah itu mungkin? Sangat Mungkin! Bayangkan betapa gentarnya penduduk Makkah ketika pasukan Islam memasuki Makkah. Pasukan Islam itu adalah pasukan yang selama beberapa kali peperangan tidak pernah kalah. Pasukan Islam itu pun akhirnya memasuki Makkah tanpa perlawanan dan tanpa darah! (kecuali darah beberapa gelintir orang saja dan itu sangat tidak signifikan).

ImageKetika seseorang menapaki jalan dakwah dari waktu ke waktu maka ia pasti mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran. Semakin panjang rute dakwah yang telah ia lewati, maka ia haruslah semakin dewasa dan bijaksana. Seorang juru dakwah haruslah seorang ulul abshar, yang senantiasa cermat dalam menarik pelajaran (ibrah).

Akan tetapi, kita hendaknya bisa membedakan antara semakin dewasa dan semakin permisif, luntur, dan longgar. Keduanya tentu amat berbeda. Semakin dewasa tentu baik. Namun semakin permisif, luntur, dan longgar bukanlah sebuah kemajuan, tetapi sebaliknya : sebuah kemunduran.