| Pengetahuan Dasar Sholat Sunnah |
|
Sholat sunnah sering pula disebut sebagai sholat tathawwu’ atau sholat nawafil. Sholat sunnah pada dasarnya bisa dilakukan secara mutlaq dua rakaat-dua rakaat kapanpun juga selain pada waktu-waktu yang dilarang untuk sholat. Disamping itu, terdapat pula sholat-sholat sunnah dengan tujuan khusus. Sholat-sholat tersebut adalah sebagai berikut : Sholat Rawatib Sholat rawatib ialah sholat sunnah yang dilakukan mengiringi sholat fardhu, baik sebelumnya (qabliyah) ataupun sesudahnya (ba’diyah). Sholat-sholat rawatib sunnah muakkadah adalah dua rakaat sebelum shubuh (memiliki keutamaan yang sangat besar), dua rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat sesudah zhuhur, dua rakaat sebelum ashar, dan dua rakaat sesudah maghrib. Khusus untuk dua rakaat sebelum shubuh, hendaknya dilakukan dengan singkat. Disamping itu terdapat pula sholat-sholat sunnah ghairu muakkadah, yakni dua rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat sesudah zhuhur, dua rakaat sebelum maghrib, dan dua rakaat sebelum isya’. Sholat rawatib sangat penting kedudukannya karena ia dapat menyempurnakan sholat fardhu kita andaikata kurang sempurna kualitasnya. Sholat Tahiyyatul Masjid Sholat tahiyyatul masjid ialah sholat dua rakaat yang disunnahkan mengerjakannya ketika seseorang memasuki masjid, sebelum ia duduk. Sholat tahajjud atau sholat malam (qiyamul lail) merupakan sholat sunnah yang amat penting. Diantara yang membuktikan hal itu ialah bahwa ia dinashkan langsung oleh Al-Qur’an. Pertama, dalam QS Al-Muzzammil. Kedua, dalam QS Al-Isra’ : 79. Sholat malam merupakan sarana untuk memperkokoh kekuatan ruhiyah seorang muslim. Diantara keistimewaan sholat malam ialah :
Sholat tahajjud hendaknya dilakukan dua rakaat dua rakaat, dimulai dengan dua rakaat ringan. Jumlah rakaat keseluruhannya tidak dibatasi. Akan tetapi Nabi saw tidak pernah melakukan sholat malam lebih dari sebelas rakaat baik di bulan Ramadhan ataupun diluar bulan Ramadhan, berdasarkan hadits A’isyah ra. Akan tetapi kebiasaan Nabi ini tidak menunjukkan pembatasan atau larangan dalam melebihi jumlah tersebut, karena sholat sunnah secara umum tidaklah dibatasi selama tidak dilakukan pada waktu-waktu yang dilarang untuk sholat. Sholat tahajjud bisa dilakukan kapan saja sesudah sesudah isya’ sampai tibanya waktu sholat shubuh. Akan tetapi waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang terakhir. Hendaknya sholat malam ini dilakukan sesuai dengan kemampuan. Apabila seseorang merasa sangat mengantuk, hendaklah ia tidur terlebih dahulu, baru kemudian menunaikan sholat malam. Nabi melarang sholat sunnah dalam keadaaan mengantuk karena dikhawatirkan pelakunya akan menggerutu dan mengucapkan sesuatu yang tidak baik dalam sholatnya sementara dia tidak sadar karena mengantuk. Khusus selama bulan Ramadhan, umat Islam baik laki-laki maupun perempuan sangat didorong untuk menghidupkan malamnya dengan sholat malam (qiyam ramadhan) yang kemudian terkenal dengan sebutan sholat tarawih. Qiyam ramadhan bisa dilakukan sendiri-sendiri ataupun secara berjamaah. Akan tetapi menurut jumhur ulama, yang lebih utama adalah melakukannya secara berjamaah di masjid. Secara bahasa, witir artinya ganjil. Sholat witir adalah sholat dengan jumlah rakaat ganjil yang dikerjakan sebagai penutup sholat-sholat dari pagi sampai malam. Sholat witir hukumnya sunnah muakkadah. Sebaiknya sholat witir dikerjakan tiga rakaat jika mendapatkan keluangan waktu, atau satu rakaat jika waktunya sempit. Waktu sholat witir sama dengan waktu sholat malam, yakni sesudah isya’ sampai tibanya waktu shubuh. Sebaiknya, sholat witir dikerjakan sesudah sholat tahajjud. Tetapi, jika seseorang khawatir tidak akan bangun maka hendaknya ia melakukan sholat witir sebelum tidur. Jika nanti ternyata ia bangun malam dan melakukan sholat malam, maka ia tidak perlu melakukan sholat witir lagi.
Sholat Dhuha Sholat dhuha adalah sholat sunnah yang dilakukan pada waktu dhuha, yakni sejak naiknya matahari setinggi tombak (=tiga meter) sampai sebelum matahari berada tepat diatas kepala. Namun, waktu yang lebih utama ialah ketika panas matahari sudah terasa. Sholat dhuha dilakukan dua rakaat dua rakaat. Sholat gerhana (sholat kusuuf) ialah sholat yang dikerjakan tatkala terjadi gerhana, baik gerhana bulan ataupun gerhana matahari. Beberapa kalangan membedakan nama sholat ini berdasarkan jenis gerhananya. Untuk gerhana bulan, sholatnya disebut sholat khusuuf. Adapun untuk gerhana matahari, sholatnya disebut sholat kusuuf. Hukum sholat gerhana adalah sunnah muakkadah, untuk laki-laki maupun perempuan. Yang lebih utama ialah melakukannya secara berjamaah, meskipun tidak menjadi syarat. Hendaknya imam mengucapkan “Ashsholatu jaami’ah” sebelum sholat dimulai. Waktu sholat gerhana ialah semenjak terjadinya gerhana sampai gerhana itu selesai. Menurut jumhur ulama, sholat gerhana adalah dua rakaat dimana pada setiap rakaat terdapat dua ruku’. Secara urut demikian : takbiratul ihram – membaca Al-Fatihah dan disunnahkan membaca ayat Al-Qur’an sesudah itu – takbir lalu ruku’ (disunnahkan memanjangkan ruku’) – berangkat berdiri dari ruku sambil mengucapkan “Sami’allahu liman hamidahu; Rabbanaa wa lakal hamdu” sehingga berdiri dengan kedua tangan bersedekap – membaca Al-Fatihah dan disunnahkan membaca ayat Al-Qur’an sesudah itu – takbir lalu ruku’ (disunnahkan memanjangkan ruku’) – i’tidal sebagaimana pada sholat biasa – sujud – duduk diantara dua sujud – sujud – lalu beranjak ke rakaat kedua dengan cara yang sama seperti rakaat pertama. Dengan demikian keseluruhan sholat terdiri atas empat kali berdiri sambil membaca Al-Fatihah dan ayat Al-Qur’an, empat kali ruku’, dan empat kali sujud. [berdasarkan hadits A’isyah ra] Disamping itu, saat terjadi gerhana hendaknya kita banyak mengucapkan dzikir, doa, dan istighfar.
Sholat Minta Hujan (Istisqa’) Meminta hujan bisa dilakukan dengan cara-cara berikut :
Sholat ‘Id
Powered by !JoomlaComment 3.12 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| < Sebelumnya | Sesudahnya > |
|---|