Ibarat sebuah pohon, iman itu memiliki cabang-cabang. Imam Al-Baihaqi, salah seorang terkemuka, mendaftar 77cabang iman. Anda tinggal mencocokkan apakah semuanya ada dalam diri Anda. Ataukah masih banyak yang belum melekat pada diri Anda. Mari kita lihat apa sajakah ketujuh puluh tujuh cabang tersebut.
Iman kepada Allah Azza wa Jalla
Iman kepada para rasul Allah seluruhnya
Iman kepada para malaikat
Iman kepada Al-Qur’an dan segenap kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya
Iman bahwa qadar – yang baik ataupun yang buruk – adalah berasal dari Allah
Iman kepada Hari Akhir
Iman kepada Hari Berbangkit sesudah mati
Iman kepada Hari Dikumpulkannya Manusia sesudah mereka dibangkitkan dari kubur
Iman bahwa tempat kembalinya mukmin adalah Surga, dan bahwa tempat kembali orang kafir adalah Neraka
Iman kepada wajibnya mencintai Allah
Iman kepada wajibnya takut kepada Allah
Iman kepada wajibnya berharap kepada Allah
Iman kepada wajibnya tawakkal kepada Allah
Iman kepada wajibnya mencintai Nabi saw
Iman kepada wajibnya mengagungkan dan memuliakan Nabi saw
Cinta kepada din, sehingga ia lebih suka terbebas dari Neraka daripada kafir
Menuntut ilmu, yakni ilmu syar’i
Menyebarkan ilmu, berdasarkan firman Allah : “Agar engkau menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya”
Mengagungkan Al-Qur’an, dengan cara mempelajari dan mengajarkannya, menjaga hukum-hukumnya, mengetahui halal haramnya, memuliakan para ahli dan huffazh-nya, serta takut pada ancaman-ancamannya
Thaharah
Sholat lima waktu
Zakat
Puasa
I’tikaf
Haji
Jihad
Menyusun kekuatan fii sabilillah
Tegar di hadapan musuh, tidak lari dari medan peperangan
Menunaikan khumus
Membebaskan budak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah
Menunaikan kaffarat wajib : kaffarat pembunuhan, kaffarat zhihar, kaffarat sumpah, kaffarat bersetubuh di bulan Ramadhan ; demikian pula fidyah
Menepati akad
Mensyukuri nikmat Allah
Menjaga lisan
Menunaikan amanah
Tidak melakukan pembunuhan dan kejahatan terhadap jiwa manusia
Menjaga kemaluan dan kehormatan diri
Menjaga diri dari mengambil harta orang lain secara bathil
Menjauhi makanan dan minuman yang haram, serta bersikap wara’ dalam masalah tersebut
Menjauhi pakaian, perhiasan, dan perabotan yang diharamkan oleh Allah
Menjauhi permainan dan hal-hal sia-sia yang bertentangan dengan syariat Islam
Sederhana dalam penghidupan (nafkah) dan menjauhi harta yang tidak halal
Tidak benci, iri, dan dengki
Tidak menyakiti atau mengganggu manusia
Ikhlas dalam beramal karena Allah semata, dan tidak riya’
Senang dan bahagia dengan kebaikan, sedih dan menyesal dengan keburukan
Segera bertaubat ketika berbuat dosa
Berkurban : hadyu, idul adh-ha, aqiqah
Menaati ulul amri
Berpegang teguh pada jamaah
Menghukumi diantara manusia dengan adil
Amar ma’ruf nahi munkar
Tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa
Malu
Berbakti kepada kedua orang tua
Menyambung kekerabatan (silaturrahim)
Berakhlaq mulia
Berlaku ihsan kepada para budak
Budak yang menunaikan kewajibannya terhadap majikannya
Menunaikan kewajiban terhadap anak dan isteri
Mendekatkan diri kepada ahli din, mencintai mereka, dan menyebarkan salam diantara mereka
Menjawab salam
Mengunjungi orang yang sakit
Mensholati mayit yang beragama Islam
Mendoakan orang yang bersin
Menjauhkan diri dari orang-orang kafir dan para pembuat kerusakan, serta bersikap tegas terhadap mereka
Memuliakan tetangga
Memuliakan tamu
Menutupi kesalahan (dosa) orang lain
Sabar terhadap musibah ataupun kelezatan dan kesenangan
Zuhud dan tidak panjang angan-angan
Ghirah dan Kelemahlembutan
Berpaling dari perkara yang sia-sia
Berbuat yang terbaik
Menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua
Mendamaikan yang bersengketa
Mencintai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia juga mencintainya untuk dirinya sendiri, dan membenci sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia juga membencinya untuk dirinya sendiri
Maksudnya, kita mencintai sesuatu untuk saudara kita sebagaimana kita juga mencintai sesuatu itu untuk diri kita. Misalnya, jika kita ingin sehat, maka kita juga menginginka kesehatan untuk saudara kita.
Dan sebaliknya, kita membenci untuk saudara kita hal-hal yang kita juga membencinya untuk diri kita. Misalnya, kita tidak menginginka musibah menimpa saudara kita sebagaimana kita juga tidak menginginkan hal itu menimpa diri kita. Jelas kan?