Menu Content/Inhalt
Halaman Depan
Memikirkan Ayat-ayat Allah
Ditulis oleh Abdur Rosyid   
 
ImageTak sedikit orang yang belum menyadari perbedaan antara "menafsirkan" Al-Qur'an dan "membacakan tafsir" Al-Qur'an. Jika Fulan menerangkan sebagian dari isi kitab Tafsir Ibnu Katsir, maka sejatinya dia tidak sedang menafsirkan Al-Qur'an. Dia hanya sekadar membacakan tafsir yang ditulis oleh Ibnu Katsir. Semisal dengan ini adalah perbedaan antara "menetapkan hukum fiqih" dan "menyampaikan hukum-hukum fiqih yang telah ditetapkan oleh para mujtahid".
 
Kalau dibilang "tafsir Al-Qur'an", memang bukan pekerjaan main-main. Sekaliber Syaikh Mutawalli Sya'rawi - rahimahullah - saja, beliau menyebut kajian Al-Qur'an beliau sebagai "khawathir", bukan tafsir Al-Qur'an. Apakah itu ungkapan ketawadhu'an beliau, wallahu a'lam. Memang rasanya lebih ringan "mentadabburi" Al-Qur'an dibandingkan "menafsirkan" Al-Qur'an. Bukan hanya makna istilah "tafsir" yang bukan main-main, namun juga karena tadabbur itu dituntut atas siapa saja yang membaca Al-Qur'an. Tentu saja, kualitas dan kedalaman tadabbur bisa berbeda dari satu orang ke orang yang lainnya, tergantung pada dasar-dasar keilmuan yang dimiliki, pengalaman-pengalaman yang telah dilalui, ketajaman mata hati dan kehalusan kalbu, dst.
Ayat-ayat Al-Qur'an itu sendiri adalah sebagian dari ayat-ayat Allah. Ia adalah ayat-ayat yang terucap (al-ayat al-qawliyah). Ketika ditadabburi, akan selalu memunculkan faidah-faidah, pelajaran-pelajaran, dan hikmah-hikmah yang baru, yang sebelumnya mungkin belum kita ketahui atau belum kita sadari. Tidak lain karena Al-Qur'an adalah haq, yang tidak mengandung kebatilan dari sisi manapun juga, yang luasnya ibarat seluas samudera. Tak pernah ada habisnya.
 
Begitupun dengan alam semesta dan diri kita, yang merupakan ayat-ayat Allah yang tercipta (al-ayat al-kawniyah). Pengetahuan manusia mengenai ayat-ayat kawniyah kian bertambah dari waktu ke waktu, melalui kegiatan ilmiah, penelitian, dan pengkajian yang dilakukan oleh manusia. Menyibak apa yang sebelumnya belum diketahui, padahal hakikat dari pengetahuan tersebut sebetulnya telah ada semenjak pertama kali sesuatu itu diadakan oleh Allah. Dan karenanya, lebih layak disebut iktisyaf ketimbang ikhtira'. Bukan manusia yang menemukan suatu fenomena, tetapi manusianya saja yang baru berhasil mengetahuinya.
 
Barangkali, manusia yang paling lengkap pengetahuannya tentang ciptaan Allah adalah Nabi Adam 'alaihissalam. Mengapa? Karena Allah Ta'ala sendiri yang telah mengajari Nabi Adam semua nama-nama. "Dan Allah telah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya". Pengajaran nama-nama disini maksudnya tentu saja bukan hanya an sich mengajarkan nama-nama dari sesuatu, namun mencakup nama-nama sekaligus hakikat dari segala sesuatu yang dinamai dengan nama-nama tersebut. Ilmu para malaikat saja sampai-sampai kalah dengan ilmu Nabi Adam. Mungkin ilmu yang dimiliki oleh Nabi Adam tidak bisa 100 persen tertransfer kepada anak cucunya, sehingga ada sebagian pengetahuan mengenai hakikat segala sesuatu yang tidak sampai kepada generasi berikutnya. Suatu fenomena yang lazim dalam proses transfer ilmu pengetahuan. Wallahu a'lam.
 

Kasih komentar


Kode keamanan
Refresh

Sesudahnya >