Menu Content/Inhalt
Halaman Depan arrow Islam & Iptek arrow Mengapa Revolusi Ilmu Pengetahuan Terjadi di Eropa dan Bukan di Dunia Muslim?
Mengapa Revolusi Ilmu Pengetahuan Terjadi di Eropa dan Bukan di Dunia Muslim?
Ditulis oleh Umar A. M. Kasule   

ImageSejarah sains memfokuskan kajiannya dengan apa yang terjadi di masa yang lalu berkaitan dengan penemuan-penemuan ilmiah dan juga proses penemuan yang kompleks dan ide yang berkembang dari waktu ke waktu. Fokus ini perlu untuk melihat perilaku suatu masyarakat yang diduga telah memberikan sumbangan terhadap fenomena ilmiah sepanjang sejarah. Dalam rangka inilah suatu peradaban bangsa tertentu patut dihargal atas konstribusinya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang saat ini menjadi monopoli Barat dan Amerika.

Banyak penulis sejarah ilmu pengetahuan berpendapat bahwa fenomena ilmu pengetahuan sekarang ini merupakan hasil mutlak dan akal barat dan berusaha mengesampingkan sumbangan bangsa lain. Mereka tertanik dengan keyakinan ini, karena fakta menunjukkan bah­wa revolusi ilmu pengetahuan memang terjadi di Eropa Barat. Bagaimanapun, mela­belkan semua khazanah ilmu pengetahuan hanya kepada Barat adalah kurang tepat. Padahal pada kenyataannya bangsa dan peradaban lainnya seperti Yunani, Gina, India dan Muslim mempunyai konstribusi yang sangat hebat, baik Iangsung mau­pun tak langsung kepada fenomena ilmu pengetahuan.

Di antara bangsa-bangsa yang konstribusinya kepada perkembangan ilmu penge­tahuan tidak bisa diabaikan sama sekali, adalah orang Muslim dengan peradaban Islam-nya. Begitu pentingnya sumbangan mereka sehingga seseorang bisa berkata dengan yakin bahwa jika orang Muslim tidak melakukan apa yang telah mereka kerjakan dalam berbagai lapangan sains, niscaya revolusi ilmu pengetahuan di Ero­pa Barat tidak akan pernah timbul pada saat itu. Seseorang juga bisa berargumentasi logis bahwa revolusi ilmu pengetahuan dapat terjadi di dunia Muslim jika saja tidak terjadi peristiwa-peristiwa yang mengganjal perkembangan sains di situ.

Permasalahan yang akan dilihat se­cara fair dalam artikel ini, adalah menganalisa faktor-faktor apa saja yang mengha­langi terjadinya revolusi di dunia Mus­lim, padahal dibandingkan dengan per­adaban lain, mereka telah mencapai tra­disi keilmüan yang lebih tinggi. Pada saat yang sama akan dianalisa juga mengapa revolusi tersebut terjadi di Eropa Barat. Untuk mengkaji masalah ini saya menga­jukan prosedur berikut. Pertama, secara sekilas saya akan memaparkan tradisi ilmi­ah (sains) di dunia Muslim, lalu menun­jukkan level tinggi yang diperoleh ii­muan Muslim, kemudian mendiskusikari peristiwa yang terjadi di dunia Muslim yang mengimbas perkembangan ilmu pengetahuan. Dan terakhir, saya akan menyoroti faktor- faktor yang memfasilitasi peristiwa revolusi ilmu pengetahuan di Eropa Barat. Dan dalam proses ini, saya akan menggarisbawahi sumbangan Islam kepada revolusi itu.
 

Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Dunia Muslim

Ketika banyak orang berbicara atau menulis tentang dunia muslim, mereka cenderung lebih .membatasinya dengan negara­negara Arab dan pada masyarakat Mus­lim lainnya. Mereka seringkali membuat pemisahan antara Turki, Persia, Spanyol, Byzantium, dan Arab yang mereka gam­barkan secara terpisah, seakan-akan mere­ka adalah bangsa yang mewakili perada­ban yang berbeda. Sedikit sekali orang yang menyadari bahwa peradaban Islam tidak berdiam di tempat yang vakum. Se­baliknya, ia adalah peradaban ekspansif yang merangkul berbagai ras dan bangsa ke dalamnya melalui penaklukan dan pro­paganda dan berhasil memadukan mere­ka ke dalam satu tradisi Islam. Menim­bang kenyataan ini, saya akan mengkate­gorikan dunia Muslim sebagai semua ko­munitas yang menerima pesan-peSan Is­lam tanpa membedakan jenis rasnya. Du­nia Muslim menurut saya terdiri dan se­mua orang Muslim yang terentang dan Spanyol hingga ke Asia tengah dan selu­ruh Afrika Utara (termasuk Maghribi) hingga kepulauan Nusantara di Asia Tenggara.

Tradisi ilmiah (sains) dalam masyarakat Muslim mempunyai nilai yang dikenal dengan “Islamis”, adalah dipen­garuhi dan kitab suci al-Qur’ãn. Al­Qur’ãn melalui ayat-ayatnya senantiasa menyeru kepada orang-orang yang ben-man untuk mengobservasi alam semesta dan merefleksikannya. Perintah untuk mencermati gejala alam in membekali pikiran Muslim untuk mengenali dan kemudian menerima semua ide-ide ilmi­ah yang sudah ada ketika kedatangan Is­lam. Jadi walaupun banyak tradisi ilmiah Islam yang terbukti mengadapsi dan per­adaban lain, tapi perlu dicatat bahwa kon­disi pemikiran umat Islam dalam keadaan siap, kondisi beradaptasi semacam ini, bukanlah dan pihak manapun, tapi dan faktor internal ajaran Islam. ini sejalan dengan apa yang diistilahkan oleh H.A.R. Gibb sebagai hukum mengadopsi budaya luar. Dia menguraikan ‘hukum’ tersebut kedalam tiga poin:

Pertama: Pengaruh-pengaruh Budaya (bukan sekadar cangkokan superfisial tapi elemen yang benar-benar terasimilasikan) selalu didahului dengan aktivitas yang sudah mapan dalam bidang yang ber­kaitan... Aktivitas yang sudah mapan inilah yang menciptakan faktor daya tank yang tanpa itu asimilasi yang kreatif tidak akan terwujud.

Kedua: Elemen pinjaman ini akan tu­rut menyokong vitalitas kebudayaan pem­injam sepanjang ia mendorong aktifitas yang menyebabkan peminjam sebagai yang utama. Jika mereka berkembang dengan pesat hingga menggeser atau mengancam menggantikan kekuatan spirit lokal, maka elemen itu bersifat de­struktif, bukan konstruktif... budaya yang hidup membolehkan elemen pinjaman berkembang, sepanjang ia dapat ber­adaptasi dan bergabung dengan kekuat­an lokal. Tapi dengan segala kekuatan, budaya yang hidup akan menentang ele­men luar yang tumbuh berlebihan.

Ketiga: Budaya yang hidup mengabai­kan atau menolak elemen dan budaya luar yang bertentangan dengan nilai funda­mental, sikap emosional atau kriteria es­tetikanya. Akan ada usaha-usaha untuk meniru, tetapi peniruan tidak berarti ‘pengambilan’ dan karena itu (budaya luar itu) pasti akan mati.

Inilah semangat dalam dunia Muslim dalam mengambil ide ilmiah dan dalam waktu yang sama membuang semua yang dipandang tidak sesuai dengan pandan­gan hidup Islam. Melalui ini, banyak tra­disi ilmiah yang diadopsi dan disatukan. Yang paling signifikan di antara tradisi­tradisi yang diserap orang Muslim ad­alah tradisi Yunani.

ImageOrang-orang Muslim lebih siap menyerap tradisi pengetahuan Yunani bersamaan dengan filsafatnya. Astronomi adalah salah satu ilmu pengetahuan terkuno bagi orang-orang Muslim. Pada awal 750 M, khalifah Bani Abbasiyah, Harun al-Rashid, telah mendirikan ob­servatorium di Damaskus, dimana kajian astronomi dan berbagai eksperimen di­lakukan. Banyak ahli astronomi Muslim, seperti Al-Farghani (850 M), A1-Battã-ni (858- ;929 M) dan Thãbit b. Qurra (826-901 M), berhasil membuat eksper­imen, teori dan pandangan kosmologi Islam lebih maju. A1-Battãni adalah ilmu­wan yang dikenal karena banyak pene­muannya dalam teori astronomi ternya­ta lebih akurat danipada Ptolemy (pakar astronomi Yunani) yang saat itu domi­nan. Al-Battãni mengontrol nilai dalam kemiringan ekliptik (bagian matahari yang nampak jelas di antara bintang dalam setahun) dan gerakan lambat siang dan malam, jauh lebih akurat daripada teorinya Ptolemy. Dia juga menemukan bahwa ketidakbundaran matahari senan­tiasa berubah. Kira-kira satu abad sete­lah dua penemuan itu, di Kairo, Ibnu Yunis (m. 1009 M) menggabungkan do­kumen-dokumen penelitian yang dibuat 200 tahun sebelumnya dan menyiapkan­nya untuk tabel astronomi Hakimite. Di tempat lain dalam dunia Muslim, ahli as­tronomi Iainnya membuat lebih banyak lagi eksperimen astronomi. Di Spanyol Al-Zarkali (1029-87 M) dan Kordoba merancang tabel astronomi Toledian pada tahun 1080 M.1 yang memodifikasi skema Ptolemic tentang cakrawala den­gan menganjurkan perbedaan bundar pada atap ‘epicycie’ planet mercuiy.  Eks­penmen lainnya dilakukan oleh Ibn Bãj­jah dan Saragossa (m. 1139 M), Abü Bakr dan Granada (m. 1185 M) dan al-Bitruji (m. 1200-an M). Kemajuan orang-orang Muslim dalam bidang astronomi lebih signifikan dan ini adalah bukti dan ban­yaknya observatorium yang dikonstruk­si oleh dunia Muslim.

Di samping yang telah ada di Dam­askus and Baghdad, ada lagi observatoni­um terkenal: seperti di Raqqa yang dibangun oleh al-Battãni~ di Shiraz yang dibangun oleh ‘Abd Ralimãn Al-Sufi; di Hamadãn, yaitu yang dipakai oleh Ibn Sinai satu lagi di Maragha yang diban­gun oleh Hulagu Khan pada tahun 1261 M. dan digunakan oleh Nashr al-Din al­-Tusi. Di samping itu ada juga di Samark­hand yang dibangun oleh Ulugh Beh dimana para ilmuwan seperti: Qadizallah, Au Qush and Ghiyath at-Din al-Khashani menghasi!kan banyak kajian astronomi dan eksperimen. Murad, seorang Sultan Utsmaniah juga membangun observato­rium di Istanbul untuk pakar astronomi istana, Taqiyyuddin. Di samping para astronomer individu tadi, terdapat juga kelompok Ikhwãn al-Safa’ (the Broth­ers of Purity) yang mengkompilasi karya­karya ilmiahnya yang dikenal dengan rasa-il ikhwãn al-Safa’. Dalam karya ini, mereka mengembangkan teori-teori as­tronomi dan kosmologi Iamnnya seperti: astrologi, meteorologi, geologi dan geografi. Kelompok ini, yang identitas sebenarnya masih kon­troversial, hidup sekitar tahun 950-1030 M. Mereka adalah sekelompok ilmuwan tersembu­nyi yang mendiskusikan isu-isu sains dan filsafat.

Disiplin ilmu yang senantiasa berkaitan dengan astronomi ada­lab bidang matematika. Sudah menjadi fakta bahwa kebanyakan pakar astronomi di dunia Muslim adalah pakar di bidang matema­tika. Contohnya adalah al­Khawãrizmi (m. 835 M), Ibn AbU ‘Ubai­da dari Valencia, Maslama al-Majriti dan al-Andalus. (m. 1007 NI), dan ‘Umar al­-Khayyãm (1048-1132 M), mereka semua ahli matematika dan sekaligus astronomi. Kontribusi mereka dalam matematika Se­bagai ilmu pasti sungguh tidak tertand­ingi selama abad pertengahan. Con­tohnya adalah Umar al-Khayyãm, yang dikenal dengan karya kalender Jalali-nya yang sempurna dan dipakai di Persia un­tuk penanggalan. Karya beliau ini diper­cayai lebih akurat dibanding kalender Gregorian (kalender yang diperkenalkan oleh Pope Gregory XIII pada tahun 1582).

Orang Muslim juga menonjo! dalam bidang sains Iainnya, yaitu Kimia. Disitu ada Khalid b. Yazid, cucu dan khalifah pertama Bani Umayyah. Mu’awiyah adalah pakar kimia pertama dalam dunia Muslim, kemudian diikuti oleh Ja’far Muhammad al-Sadiq (m. 765 M). Pakar kimia terbesar dalam dunia Muslim adalah Jãbir b. Hayyãn (m. 776 M) yang memi­liki karya-karya yang terdiri lebih dan 500 risalab yang hampir kesemuanya benisi tentang ilmu Kimia dan 40 di antaranya masih bisa dijumpai hingga saat ini. Men­gomentari karya Jãbir, C. I Figuirin men­gatakan ini:

Adalah hal yang mustahil jika menafi­kan peranan ilmu Kimia dalam perkembangan fisika modern saat ini. Para pakar kimia adalah yang pertama kali yang mempraktek­kan metode eksperi­men. Lebih lanjut, dengan menyatukan angka logis dan sejurnlah fakta dan penemuan dalam aksi molekul suatu benda, mereka telah men­gusung kimia mo­dern lebib awal pada

Razi abad kedelapan Masehi. Geber (Jãbir) telah mempraktek­kan kaidah-kaidah aliran eksperimen. Karya Geber The Suni of all Perfection and the Treatise on Furnaces, berisikan laporan tentang perkembangan dan operasi yang mengkonfirmasikan metode ini, dan ini dalam investigasi kimia).

Al-Rãzi adalah pakar kimia yang karyanya the Secret of secrels, berisi keteran­gan yang sangat jelas tentang proses kimia dalam topik-topik seperti peleburan baja, sublimasi, pengolahan caustic soda, amonia, sodium dan ammonium suiphide, pengolah­an glycerin dan minyak zaitun, dst. Al-Iraqi adalah juga contoh pakar kimia terkemuka lainnya. Tokoh-tokoh terse-but (dan masih banyak lagi) yang tidak dmragukan lagi memiliki sejumlah karya yang sangat penting bagi kimia modern dan menjadi topik inti dalam sains.

Fisika juga merupakan cabang sains yang tumbuh subur di kalangan dunia Muslim semasa abad pertengahan yang melukiskan tradisi sains yang tinggi dalam umat Islam. Karya yang sangat penting dalam lapangan ini dihasilkan oleh para ilmuwan Muslim seperti1 Qutb Al-Run Al­-Shirazi, Ibn al-Haitham (Alhazen) dan al­-Biruni. lbn al-Haitham adalah murid ter­besar Ptolemy dan Witelo dalam bidang optik. Beliau membuat penemuan yang penting dalam kajian gerakan, seperti prinsip inertia (kelembaban) dan mentras­formasikan kajian optik ke dalam sains baru. Beliau melakukan eksperimen un­tuk menentukan gerakan yang berben­tuk garis lurus pada cahaya (rectilinear mo­tion of light), sifat bayangan, kegunaan len­sa, kamera obsura yang semuanya dia kaji secara matematis untuk pertama kalinya, serta banyak lagi kajian penting dalam fenomena optik. Dalam pembiasan, be­liau rnengusulkan kecepatan empat per­segi panjang pada permukaan pembi­asaan beberapa abad sebelum Newton menemukan prinsip “least time”. Al-Birü­ni adalah pakar Fisika yang terkenal de­ngan penentangannya terhadap aliran Fisika Aristoteles, khususnya pada gera­kan dan ruang (motion and space) yang beliau serang bukan hanya dengan rasio semata tapi juga dengan observasi. Al­Birüni dipercayai mempunyai pening­galan dalam tradisi Fisika yang mendo­rong lahirnya kajian mekanik, hydrosta­tik dan cabang-cabang sains yang ber­kaitan. Ilmuwan Muslim seperti lbn Baj­ja rnengikuti jejak al-BirUni dan mengembangkan teori “inklinasi” yang diikuti peletakan dasar teori daya dorong lainnya dan konsep momentum yang ke­‘mudian dijabarkan oleh para ilmuwan barat setelah abad pertengahan.

Filsafat natural (natural philosophy) juga tumbuh subur di dunia Muslim. Di ant­ara tokoh-tokohnya adalah; Ibn Sina, a!­Farãbi, al-Kindi, al-Birüni, Ibn Rushd, Ibn Bajja, al-Ghazzãli dan tokoh-tokoh lainnya yang membuat sumbangan yang besar kepada filsafat natural. Sebagian diantara mereka sangat rajin mendukung filsafat natural Aristoteles baik dengan kata maupun ayat, seperti halnya kasusn­ya dalam filsafat peripatetik. Namun se­bagian lainnya, seperti Al-Ghazzãli, mengambil posisi bersebelahan dan terkadang sangat radikal menyikapi au-ran filsafat Aristoteles. Para pakar filsafat natural inilah yang bertanggungjawab dalam menterjemahkan filsafat Yunani kedalam bahasa Arab dan kemudian men­gusungnya ke Barat. Sumbangan mereka pada tradisi ilmiah Islam tidak kurang penting daripada sumbangan para pakar Fisika, Kimia, Matematika, Astronomi dan dokter. Mereka merupakan pakar yang benar-benar menguasai banyak di­siplin ilmu. Ibn Sina dan al-Ghazzãli adalah filosuf besar, sebagaimana juga dikenal sebagai ahli Fisika tersohor. Karya mereka di bidang kedokteran tidak kálah pentingnya dibanding dengan karyanya di bidang filsafat.

Dan pemaparan sinopsis tradisi sains Muslim di atas, membuktikan bahwa penemuan-penemuan ilmiah, eksperimen dan teori yang pernah dilakukan ilmu­wan Muslim bukanlah sempit. Sungguh tradisi mereka sangat  komprehensif Un­tuk mendukung lahirnya revolusi ilmu pengetahuan. Kenapa kemudian revolu­si sains semacam ini tidak muncul di ka­langan Muslim?
 

Faktor-faktor yang Merintangi Perkembangan Sains di Dunia Muslim

Banyak kalangan ilmuwan, baik para kritikus maupun apologetis, dengan ber­bagai argumentasi berusaha menjelaskan mengapa revolusi sains tidak terjadi di dunia Muslim? Bukan maksud saya untuk mengangkat kembali argumentasi mere­ka, tapi suatu penelitian diperlukan un­tuk membuat kritik atas argumentasi para kritikus yang menuduh bahwa tabiat Islam sebagai suata agama adalah yang ber­tanggung jawab atas kegagalan ini. Per­vez Amrali Hoodbhoy kiranya adalah orang yang paling memperolok-olok dengan kritikannya yang cenderung ke­pada tuduhan yang tak terbantahkan. Dalam usahanya mengumpulkan argu­mentasi atas kegagalan revolusi sains ter­jadi di dunia Muslim, dia menyinggung filsafat Islam sebagai berikut:

Masyarakat yang berorientasi pada doktrin Jatalisme, atau seseorang yang ter­lalu diintervensi oleh Tuhan dan yang merupakan bagian dan matrik sebab aki­bat (kausalitas), terpaksa menghasilkan individu-individu yang kurang berhasrat menyelidiki hal-hal yang tidak diketahui dengan piranti sains.

Kemudian Amrali selalu menyindir bahwa tabiat hukum Islam te!ah men­gobarkan permusuhan selama berabad­abad terhadap elemen-elemen kapitalis yang dia anggap sebagai prasyarat perkembangan sains. Penjelasan semacam ini, yang sama sekali tidak ber­dasar dan merupakan distorsi fakta Se­jarah dan pandangan keliru terhadap Muslim dan filsafat Islam.

Image
Abu Hamid Al-Ghazali
Di sisi lain, para apologetis menga­nggap Al-Ghazzali sebagai orang yang berperan dalam menggagalkan revolusi sains dalam dunia Muslim. Mereka berar­gumen bahwa karya al-Ghazzali tentang teologi Ash’ari dan Tasawuf memberikan pukulan telak terhadap pertumbuhan tr­adisi sains orang Muslim. Pendapat ini bertolak-belakang dengan fakta bahwa bagaimana pun al-Ghazzali sendiri ad­alah ilmuwan sains yang mempunyai sejumlah karya yang dengan tepat digam­barkan oleh Hossein Nasr sebagai berikut

“Risalah termasyur al-Ghazali pada abad 5H/IIM yang mengkritik filosuf rasionalistik pada zamannya, menandai kemenangan akhir pemikiran intelek ter­hadap rasio-logika yang independen - sebuah kemenangan yang tidak menghan­curkan filsafat rasionalistik sama sekali - menjadikannya berhubungan dengan pengetahuan rohani/batin. Dengan hasil kekalahan dan penaklukan yang dilaku­kan oleh al-Ghazali dan tokoh-tokoh penganut silogis dan sistematis filsafat Aristoteles di abad 5 H/i I M, tradisi ilmu rohani Islam bisa bertahan hidup hingga saat ini dan tidak tercekik seperti lain­nya dalam atmosfir yang terlalu rasional­istik.”

Jikalau kritik dan apologi ditolak, maka dimanakah keberadaan argumen .yang tepat untuk menjelaskan keadaan yang menyedihkan atas fenomena sains dalam dunia Muslim khususnya setelah abad 1 3 M? Mengilas balik faktor ekster­nal dan internal mungkin dapat menun­jukkan jawaban pertanyaan ini.

Secara eksternal, dua invasi yang berdampak permusuhan telah dilakukan terhadap dunia Muslim. Kedua invasi ini adalah invasi bangsa Mongolia dan kaum Salib. l3angsa Mongolia dikenal sangat biadab, penghasut perang yang primitif yang banyak menggarong kota dan menghancurkan berbagai peradaban yang telah lama kokoh, mulai dan Cina sampai Eropa Timur. Gerombolan yang biadab ini kemudian menyerang Timur Tengah dan menguasainya selama sete­ngah abad (1218-1268 M). Selama pe­node ml mereka tidak hanya meneror masyarakat tapi juga terlibat aktif dalam menghancurkan struktur-struktur penting yang merupakan hasil sains yang agung. David Nicolle menggambarkan kerusakan ini sebagai berikut:

Image“Budaya perusakan bangsa Mongolia sangat besar dan mencakup perusakan kota dan sekolahan, pembantalan guru dan ilmuwan serta melenyapkan para ii­muwan. Para ahli menduga bahwa bang­kitnya peradaban Eropa Barat dan kon­disi budaya dan teknologinya yang ter­belakang, berganti menjadi bangsa adi daya, antaranya disebabkan oleh perusa­kan yang menimpa dunia Muslim yang dilakukan bangsa Mongolia. Kemudian dilanjutkan penj arahan pasukan Salib Konstantinopel Byzantium pada tahun 1204 M”.

Ujian selanjutnya dan invasi Mo­ngolia sungguh merupakan tabiat peru­sakan yang lebih parah dan pada perusakan kota. Mereka adalah bangsa yang berlatarbelakang pengembara. Di­mana pun mereka berpindah, mereka membawa kuda dan keledai yang tidak diberi makan dengan ma­kanan ternak, tapi digem­balakan di padang rumput. Akibatnya bangsa Mongo­lia tidak bisa jauh dan daer­ah pinggiran, ketika mereka menaklukkan kota manapun. Maka dari itu mereka tidak segan mele­nyapkan penduduk yang sudah terbiasa dengan per­tanian dimana kota tempat kerja sains bergantung.

Konsekwensi nyata dan fenomena semacam ini adalah kehidupan masyarakat yang tertimpa invasi menjadi kehilangan harmoni dan tidak menentu arahnya. Nicolle menggambarkan invasi Mongo­lia terhadap daerah-daerah Muslim Se­bagai berikut:

“Setelah menaklukkan Baghdad, Hulegu membawa pasukannya kembali ke Azerbeijan, suatu kawasan jauh utara­barat yang sekarang masuk wilayah Iran. Di daerah tersebut terdapat padang rum-put yang sangat luas yang disediakan untuk makanan kuda-kuda bangsa Mo­ngolia, sementara kota Maragha dan Tabriz disiapkan sebagai kota administra­ si. Istana Hulegu selalu berpindah-pin­ dah dan seluruh area dijadikan sebagai base-camp yang sangat besar bagi tentara predatornya. Begitulah fungsi Azer­beijan dan Hamadan sepanjang sejarah.”

Jadi, invasi Mongolia yang penuh dengan teror telah melepaskan ikatan masyarakat Muslim dengan segala ben­tuknya untuk memper~lambat semua for­malitas peradaban termasuk perkem­bangan sains. Tidak hanya pusat-pusat studi yang dirusak dan ilmuwannya yang dibunuh atau dibuat panik, tapi juga semua tempat yang nyaman untuk pen­ciptaan sains diganggu dengan hebatnya.

Efek yang sama juga dirasakan oleh dunia Mus­lim dengan invasi kaum Salib. ini adalah kelompok lain dan penghasut perang yang dilancarkan oleh Paus di awal abad 13 M yang kononnya bermaksud mem­bebaskan Jemssalem dan tangan Muslim. Berkali-kali perang Salib didengungkan selama 2 abad (1095-1290 M). Seperti halnya bangsa Mongolia, kaum Salib juga menjarah kota-kota Muslim, membunuh dan meneror penduduknya kemudian mengganggu ketenangan tempat-tempat yang kondusif bagi perkembangan sains.

Sedangkan dan sisi internal, yang paling rasional atas kemandegan sains di dunia Muslim adalah kegagalan pemimpin memanfaatkan dan mengkoor­dinasikan disiplin ilmu sains. Semenjak awal, filosof dan ilmuwan sains Muslim sangat independen tanpa bantuan yang memadai dan khalifah atau Sultan. Kon­struksi khalifah Mamun di Bayt al­Hik,nah sekitar tahun 200 H/815 M, di mana terdapat perpustakaan dan obser­vatorium adalah permulaan yang baik tapi tidak diteruskan oleh khalifah berikutnya. Di samping itu Bayt al-Hikmah lebih meru­pakan pusat riset dan pada institusi pen­gajaran. Walaupun banyak pusat-pusat kajian yang dijumpai di dunia Muslim, seperti: Ddr at- ‘Jim di Kairo (395 HI 1005 M), Nizhãm al-Mulk di Baghdad (459 H/1067 M) dan Madrasah Grana­da (750 H/1349 M), tapi semua institusi ini tidak memperhatikan masalah filsafat natural dan ilmu pasti secara murni. Hal ini berakibat pada kegagalan melembaga­kan filsafat natural dan sains. Filosuf na­tural dan ilmuwan sains Muslim !ebih nampak sebagai mndividu-individu terp­isah dan pada sebagai satu badan yang terorganisir. Mereka mempelajari filsafat secara privat dan walaupun sudah bertu­gas di istana khalifah, mereka jarang didukung dengan kebijakari pemerintah untuk mengajar filsafat natural dan sains di Madãris. Ilmuwan lainnya yang tidak mempunyai akses dengan istana, mereka bebas mengajar di halaqah-halaqah mere­ka sendiri dimana para murid datang sendiri dan mendapat untuk belajar sam­pai tamat dengan mendapatkan ijazah yang menjadi lisensi mereka untuk men­gajarkan ajaran-ajaran gurunya. Sistem pendidikan ini mempunyai masalah dan keterbatasannya sendiri. Guru terbatas dengan idenya sendiri sementara para murid hanya mempunyai akses kepada ide gurunya saja. Kondisi diskusi yang kon­dusif sesama teman sekolah atau meman­faatkan calon-calon ilmuwan hampir tidak tercipta di sini. Kondisi seperti ini ha­nya dapat tercipta jika jika sebuah insti­tusi akademi dan universitas didirikan. Dengan akademi, murid akan terekspos pada bidang disiplin ilmu yang ber­macam-macam dan oleh guru yang ber­lainan, dengan cara sistematis yang me­makai prosedur dan standar tertentu yang hams dilalui oleh para murid sampai tamat masa belajarnya. Dalam kerangka seperti inilah sains dapat diinstitusionalisasikan dalam rangka memenuhi penelitian sains yang terkoordinasi sehingga berkembang menjadi revolusi sains.

Jadi menurut saya, kegagalan revo­lusi sains dalam dunia Muslim secara in ternal lebih disebabkan oleh metode atau organisasi daripada aspek teologi. Hal ini bukanlah tabiat Islam yang menyebab­kan kegagalan Muslim dalam revolusi sains itu, tapi karena masalah organisasi yang bersamaan dengan faktor eksternal yang sudah dibicarakan di atas. Siapa tahu, jika bangsa Mongolia dan kaum Salib tidak menghancurkan lahan-lahan kaum Muslim, maka mereka pasti akan dapat merealisasikan kebutuhannya dalam meletakkan institusi yang terorganisir untuk mempromosikan pendidikan sains dalam skala yang lebih komprehensif.
 

Fakfor-fakfor yang Memudahkan Perkembangan Sains di Eropa


Tidak dapat diragukan bahwasanya tradisi sains di Eropa berhutang banyak kepada dunia Muslim. Di saat dunia Mus­lim telah berhasil memunculkan saintis­saintis besar dan mengembangkan tradisi keilmuan dan intelektual, orang Eropa saat itu masih merana dan terbelakang jauh di punggung sejarah keilmuan. Para penulis Eropa sendiri menandakan pen-ode ini (900-1500-an M) sebagai kegela­pan yang melambangkan keterbelakan­gan Eropa d.alam sains dan intelektual. Jadi dapat dikatakan bahwa faktor perta­ma dan utama yang membantu perkembangan sains di Eropa adalah ha­sil jiplakan dan peradaban Islam. Hasil jiplakan itu merupakan ketetapan teori­teori sains yang berwujud sebagai para­digma dasar dalam perkembangan sains di Eropa dan titik puncaknya dan semua itu adalah revolusi sains sekitar abad 17. Edward Grant, saiah satu ilmuan kontem­porer dalam Sejarah sains tidak hanya mengetahui fakta itu tetapi juga men­gakuinya. Hal ini dapat diketahui dan catatanya berikut:

Revolusi sains tidak akan terjadi di Eropa abad 17 M jika standar sains dan filsafat natural masih setaraf sains pada pertengahan pertama abad 12 M, yaitu sebelum adanya penerjemahan sains Yu­nani-Arab di pertengahan akhir abad itu. Tanpa penerjemahan yang mengubah kehidupan intelektual Eropa itu dan be­berapa peristiwa setelahnya, Revolusi sains abad 17 mustahil dapat terwujud­kan.

Jadi, penerjemahan sains dan filsafat Yunani-Arab natural ke dalam bahasa Latin merupakan syarat awal yang mut­lak diperlukan dalam upaya kemunculan tradisi keilmuan di Eropa. Poin penting dan faktor ini patut digarisbawahi, sep­erti yang diungkapkan Grant berikut:

“Dikarenakan pentingnya karya­karya terjemahan itu, peradaban Islam hams dibeni temp at yang memadai dalam sumbangsihnya dalam pencapaian dunia Barat dalam bidang sains. Beberapa abad sebelumnya, ilmuwan Muslim telah me­nerjemahkan sebagian besar sains Yunani ke dalam bahasa Arab dan kemudian memberi tambahan dan kontnibusi yang banyak terhadap aslinya sehingga ter­bentuk apa yang sekarang dinamakan sains Yunani-Arab (Yunani-lslam), dima­na terdapat karya-karya Aristoteles, berikut dengan karya komentar atasnya. Sebagian besar kerangka keilmuan ini kemudian ditransfer ke dunia Barat Se­cara terus-menerus. Meskipun sains di Barat bisa saja berkembang tanpa men­gambil peninggalan Yunani-lslam, akan tetapi sains modern sudah pasti harus menunggu berabad-abad lagi untuk la­hir, atau mungkin masih berdiam dalam rahim masa depan.

Sangatlah penting menggarisba­wahi pengakuan Grant bahwa orang Muslim ‘memberi banyak tambahan dari teks aslinya” untuk ide-ide Yunani sebelum di-transfer ke Barat - sebuah fakta yang tidak diakui oleh banyak ahli sejarah sains Barat yang subjektif. Seandainya saja orang­-orang Islam tidak memberikan tambah­an apa-apa, sudah tentu mereka sekarang tidak akan membuat klaim-klaim penting terhadap fenomeria sains saat ini.

Sebenarnya, Edward Grant bukan satu-satunya yang mengakui kontribusi besar dan orang Muslim kepada tradisi sains dan keilmuan Eropa. Sebelumnya sudah ada Goichon AM. Dalam Ency­clopaedia of Islam, entry “lbn Sina”, dia mengatakan:

Transmisi sains Yunani oleh orang Arab (baca Muslim) ke dalam bahasa Latin melahirkan pencerahan (renaissance) perta­ma di selatan Eropa mulai abad 10 di Si­silia, kemudian abad 12 di sekitar Toledo dan tidak lama kemudian di Perancis. Dua karya utama Ibn Sina, Shifa’ dan Qanün, menjadikannya master tanpa tanding dalam bidang kedokteran, ilmu penge­tahuan alam dan filsafat. Sejak abad 12 hingga 16 M, pengajaran dan praktek kedokteran [di Eropa] merujuk padanya. Karya Abu Bakar Muhammad bin Zakariyya al-Rãzi juga terkenal dan dia sendiri dianggap ahli klinik terbaik tetapi buku Qanün tetap menjadi Korpus pen­gajaran yang tidak tergantikan karena buku Ibn Rushd Kitãb al-Kulliyydt fi al-Tibb hanya memuat masalah bagian pertama Qanin. Karya lbn Rushd tersebut telah diterjemahkan seluruhnya oleh Gerard dan Cremona antara tahun 1150 dan 1187 M. Ada 87 terjemahan karya itu dan beberapa di antaranya merupakan terjemahan se­bagian.

Setelah mewarisi pradigma keilmuan dasardari orang Muslim, orang Barat ke­mudian membekali dirinya dengan ilmu yang dengan segala cara bertransformasi agar siap menyambut revolusi sains. Pros­es terpenting dan transformasi keilmuan ini adalah institusionalisasi. Orang Eropa lantas membentuk institusi universitas. Ak­tivitas inilah yang menjadi fondasi sains modern sejak abad pertengahan hingga sekarang ini.

Di univeristas, dapat dilihat bagai­mana ilmu sains dan filsafat itu diatur de­ngan baik. Pengajar dan pelajar betul-betul memanfaatkan kesempatan yang sangat berguna ini. Mereka tidak hanya saling bertukar ilmu pengetahuan tetapi juga membuat penyelidikan lanjutan di dunia ilmu pengetahuan. Filsafat natural ter­nyata lebih unggul di Barat karena dapat menyerapkan karya-karya filsafat agung kedalam dunia pengetahuan. Elernen penting lainnya dalam kelembagaan ini ialah adanya kebebasan yang dinikmati oleh pengajar dan pelajar di universitas. Meskipun para guru mempunyai kesem­patan untuk mempunyai pelajar dan Ia­tarbelakang yang mapan, para murid tidak terikat atau terpaksa bergantung kepada satu guru saja. Pada saat yang sama, para pelajar dapat mempunyai lingkup mata pelajaran yang luas dimana mereka akan memilih spesialisasi. Di samping ilmu fil­safat natural dan logika, para pelajar juga dikenalkan dengan ilmu-ilmu eksakta sep­erti aritmatika, geometri, musik, dan as­tronomi, yang menjadi mata pelajaran untuk tingkatan sarjana muda (baccalaure­ate) and Master (Master of Arts). Dua jen­jang ini dan digabungkan dengan ba­nyaknya waktu yang dihabiskan pelajar di setiap jenjang tersebut sebelum kelu­lusan, merupakan indikasi bagaimana proses pembelajaran di dunia Barat men­jadi begitu terorganisir dan maju. Ham­pir semua pelajar di universitas sama-sama dikenalkan dengan kajian ilmiah. Jadi, Se­bagai lembaga yang bertanggungjawab dalam memproduksi dan melipatganda­kan ilmuwan-ilmuwan masa depan, uni­versitas, dengan segala sarananya diben­tuk untuk memfasilitasi dan memastikan berkembangnya sains di bagman dunia itu.

Image
Galileo
Di samping penerjemahan dan uni­versitas, faktor ketiga majunya tradisi keil­muan di Eropa adalah munculnya golon­gan ahli filsafat-teologi. Mereka berper­anan utama dalam menyokong filsafat se­bagai lapangan studi yang penting. Pada dasarnya merekalah yang menyelamatkan filsaf~t dan biang kemarahan gereja. Dibandingkan dengan kolega mereka di dunia Islam yang bermusuhan dengan fil­safat, ahli teologi di Barat mencari kom­promi antara filsafat dan teologi. Bahkan jika perlu teologi memakai ide-ide filsafat, misalnya Aristotel, digunakan untuk mem­pertahankan doktrin- doktrin Bibel yang tidak masuk akal seperti Trinitas dan Ekaristia (Eucharist). Fakta pertautan filsafat dengan para ahli teologi ml menjelaskan paradoks mengapa filsafat Aristotelis yang tidak disukai pihak Gereja dapat tumbuh di universitas abad pertengah­an, padahal saat itu universitas di bawah perlindungan gereja. ini bukan berarti bahwa para filosof di Barat Iebih bebas daripada di dunia Muslim . Adanya in­siden seperti pengutukan tahun 1277 M dan penganiayaan terhadap ilmuwan Se­perti Galileo (1564-1642 M) merupakan contoh nyata dan kemurkaan abadi Gereja terhadap sains yang menyebab­kan para ahli filsafat-teologi berpihak kepada sains. Begitu menyokong filsafat, para ahil teologi ini memberikan fasilitas studi di universitas. Bahkan mereka men­jadikan filsafat sebagai syarat perpelon­coan bagi pelajar yang ingin meraih ge­lar teologi dan diharuskan mendapat nilai tinggl dalam filsafat.24 Hasil dan skema ini dapat dilihat jelas dengan munculnya para saintis terkenal yang pada saat yang sama juga ahli teologi. Tokoh seperti Al­bertus Magnus, Robert Grosseteste, Joh Pecham, Theodoric dan Freiberg, Tho­mas Brandwardine, Nicole Oresme dan Henry dan Langenstein mewakili fakta ini.

Di luar faktor-faktor utama di atas, secara umum kondisi di Barat menduku­ng aktifitas keilmuan. Di antara yang ter­penting ialah suasana damai di Eropa menjelang abad 17 M. Pada umumnya adanya stabilitas sosial dan politik juga berarti adanya stabilitas mental, dan tan­panya kemajuan mntelektual tidak akan wujud. Eropa Barat tidak pernah menga­lami terror seperti yang dilakukan bang­sa Mongol dan pasukan Salib terhadap dunia Muslim. Kemakmuran ekonomi juga berkaitan erat dengan susana damai di Eropa. Negara kota di sana pada urn­umnya lebih makmur dibandingkan den­gan kesultanan di dunia Muslim. Di Ero­pa saat itu terkenal dengan perusahaan pribadi yang maju dan golongan pen­gusaha yang kaya raya. Pengusaha­pengusaha ini menjadi penopang kernak­ muran bagi semua jenis kehidupan. Orang Eropa menemukan dunia melalui lautan dan daratan, bukan hanya sekadar renca­na untuk mewadahi lahirnya ide-ide gemilang dan mengalirkan kemakmuran ekonomi, tetapi juga sebuah petualangan untuk pencarian ilmu pengetahuan. Eks­perimen-eksperimen mahal disponsori dan banyak sekali aktivitas belajar yang dibiayai. Bahkan sebenarnya, pendanaan universitas itu sukses sebagiannya karena orang Eropa banyak yang makmur.

Dengan berbekal kondisi yang san­gat menguntungkan itu, maka masuk di. akal bahwa revolusi ilmu pengetahuan terjadi di Eropa pada abad 17 M.
 

Kesimpulan

Munculnya revolusi ilmu penge­tahuan di Eropa abad 17 merupakan fakta sejarah yang tidak dapat dibantah. Meskipun begitu, kita perlu menduduk­kan fenomena sejarah keilmuan yang penting ini secara wajar, dengan begitu perlu melihat proses dan kejadian beber­apa abad sebelum puncak revolusi. Se­bagainiana telah kita gambarkan di atas, tidak benar jika dikatakan bahwa fenom­ena saintifik sepanjang abad-abad itu ad­alah hasil usaha orang Eropa sendiri. Di bagian lain dunia, khususnya di dunia Is­lam, sumbangan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tidak kalah pentingn­ya. Sumbangan mereka sepenting elemen­elemen lain yang bergabung satu sama lain demi wujudnya revolusi. Persoalan men­gapa revolusi itu tidak timbul di tengah-­tengah mereka hanyalah sebuah kebetul­an sejarah belaka. Faktor-faktor yang te­lah kami uraikan di atas untuk menjelas­kan kemunculan ilmu pengetahuna di Eropa hendaknya jangan dianggap ekslusif untuk Eropa saja. Apapun halnya, revo­lusi sains hanya terjadi sekali dalam Se­jarah dan itu tidak memungkinkan kita membuat perbandingan. Misalnya, per­anan yang dimainkan universitas di Ero­pa boleh jadi telah dilakukan juga o!eh institusi tertentu di tempat lain. Tentun­ya revolusi sains dapat juga terjadi di China atau bahkan India, tetapi karena ia terjadi hanya di Eropa, maka kita terpak­sa mempercayai bahwa suasana dan prilaku saintis Eropa-lah yang mendor­ong terjadinya revolusi.

Sikap para Muslim ahli teologi ter­hadap filsafat hendaknya tidak dibesar­besarkan sebagai penghalang kemajuan aktifitas sains di dunia Islam. Untuk hal ini saya perlu menyikapinya dengan menyepakati Gibb tentang hukum meng­adopsi budaya luar, yang mengatakan bahwa ‘kebudayaan yang hidup dapat meminjam elemen-elemen asing untuk berkembang sebatas bahwa ia dapat di­adaptasikan dan dipadukan dengan kekua­tan-kekuatan lokal. Tetapi dengan segala kekuatan dalam menahan pertumbuhan pesat yang berlebihan, kebudayaan yang hidup juga mengabaikan atau menolak elemen-elemen kebudayaan asing yang bertentangan dengan nilai-nilai funda­mental, sikap emosional atau kriteria es­tetikanya. Dan ini persis dengan apa yang dilakukan para mutakallimun terhadap fil­safat Yunani dalam batas-batas pandangan hidup Islam.

[Diambil dari majalah Islamia dengan sedikit penyesuaian bahasa]

 

Kasih komentar


Kode keamanan
Refresh

< Sebelumnya   Sesudahnya >