Menu Content/Inhalt
Halaman Depan
Tanya Jawab Bab Ma'rifatullah

Bagaimana cara agar kita tetap ber-husnudhdhan kepada Allah dan Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita ?

Jawab :

Kita harus memiliki pemahaman dan keyakinan yang kuat bahwa Allah senantiasa menginginkan kebaikan dan kemaslahatan bagi manusia dan alam semesta seluruhnya. Dalam berbagai ayat dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa segala kebaikan yang didapat oleh manusia berasal dari Allah sedangkan segala keburukan yang menimpa manusia adalah karena ulah perbuatan manusia itu sendiri.

Terlebih-lebih bagi seorang mukmin, Allah senantiasa akan memberikan yang terbaik meskipun yang baik itu seringkali kita pandang buruk. Allah sajalah yang mengetahui kebaikan dan keburukan yang sejati sementara penglihatan, penilaian, dan pengetahuan kita bersifat semu dan terbatas (QS Al-Baqarah : 216). Betapa Allah senantiasa memberikan yang terbaik kepada seorang mukmin sampai Rasulullah saw menyatakan bahwa tidaklah seorang mukmin ditimpa musibah – meskipun hanya tertusuk duri di kakinya atau tersandung batu – kecuali Allah pasti akan menghapuskan satu dosa darinya. Bahkan Allah seringkali menimpakan sakit kepada seorang mukmin sebagai kaffarah (penghapus dosa) baginya. Adapun terhadap orang yang ingkar kepada-Nya, justeru Allah seringkali memberikan istidraj (penundaan siksa) kepadanya sampai akhir hayatnya agar Allah bisa menyempurnakan adzab-Nya di Hari Perhitungan kelak.

Hatta ketika seorang mukmin berdoa kepada Allah dengan tulus, Dia pasti mendengar dan memenuhinya. Hanya saja, pemenuhan doa tersebut bisa termanifestasi dalam berbagai bentuk sesuai dengan pengetahuan Allah tentang yang terbaik bagi si mukmin tersebut. Bisa jadi doa tersebut langsung dikabulkan sesuai dengan permintaan. Bisa jadi doa tersebut dikabulkan akan tetapi setelah ditangguhkan karena waktu itulah yang paling tepat. Bisa jadi doa tersebut diganti dengan kebaikan yang lain, karena permintaan tersebut dalam pandangan Allah tidaklah baik bagi si mukmin. Bisa jadi doa tersebut diganti dengan penghapusan dosa bagi si mukmin. Bisa jadi pula doa tersebut disimpan sebagai ’tabungan’ untuk Hari Perhitungan kelak. Demikianlah Allah senantiasa memberikan yang terbaik bagi seorang mukmin.

Wallahu a’lam bish shawab.

*************

Apakah hidayah hanya datang dari Allah dan bagaimana cara menjaganya ?

Jawab :

Hidayah itu memang hak prerogatif Allah. Dia memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki diantara para hamba-Nya dan dia pula yang ’menyesatkan’ siapa saja yang Dia kehendaki (QS Ibrahim : 4, QS Al-Nahl : 93, QS Faathir : 8). Dia tidak akan dan tidak perlu ditanya atas apa yang Dia perbuat tetapi manusialah yang akan Dia tanya atas apa yang telah diperbuatnya (QS Al-Anbiya’ : 23).

Akan tetapi, kehendak Allah atas hidayah dan kesesatan tersebut bergantung kepada manusia itu sendiri. Allah telah memberikan segala potensi kepada manusia untuk bisa mendapatkan hidayah : fithrah, akal, perasaan, ayat-ayat kauniyah, diutusnya para rasul, ayat-ayat qauliyah, dan sebagainya. Allah telah memberikan kepada setiap hati manusia kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk (QS Al-Syams : 8). Sehingga, manusialah yang kemudian akan menentukan dirinya sendiri apakah ia akan taat kepada Allah (jalan hidayah) ataukah ia akan ingkar kepada-Nya (jalan kesesatan). Manusia bebas memilih tetapi ia pasti akan menerima akibat dari pilihannya tersebut.

Jadi, hidayah itu memiliki dua sisi. Di satu sisi hidayah adalah hak prerogatif Allah, sementara di sisi yang lain hidayah itu tergantung pada kemauan dan usaha manusia.

Oleh karena itu, kita harus senantiasa berdoa agar Allah memberikan taufiq kepada kita, yakni kita senantiasa berkemauan untuk senantiasa berada di jalan hidayah dan Allah pun membimbing kita di jalan hidayah tersebut. Setidak-tidaknya tujuh belas kali setiap hari kita berdoa untuk itu : Ihdinash shirathal mustaqim (Tetapkanlah kami – ya Allah - agar senantiasa berada di jalan yang lurus). Allah mengajarkan doa kepada kita : ”Wahai Rabb kami, janganlah engkau sesatkan hati kami sesudah engkau memberi petunjuk kepada kami ...”[1]. Rasulullah saw mengajarkan kepada kita suatu doa : ”Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan Hati, tetapkanlah hati kami diatas agama ini. Wahai Dzat Yang Memalingkan Hati, palingkanlah hati kami untuk senantiasa taat kepada-Mu”[2].

Wallahu a’lam bish shawab.

[1] Redaksi Arabnya : “Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa …”

[2] Redaksi Arabnya : “Ya Muqallibal Quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika” “Yaa Musharrifal Quluub, sharrif qalbii ilaa thaa’atika”.

**************

Bagaimana menanggapi hal-hal ghaib di sekitar kita ?

Jawab :

Alam ghaib itu benar adanya. Sebagai seorang mukmin kita harus beriman kepada yang ghaib (QS Al-Baqarah : 3). Bahkan, beriman kepada yang ghaib merupakan asas bagi keimanan itu sendiri. Ketika apa-apa yang harus kita imani tidak lagi ghaib, maka keimanan ketika itu tidak lagi ada artinya. Demikianlah orang-orang yang dijemput oleh Izrail saat sakaratul maut dan yang dihadapkan di depan Mahkamah Ilahi tidak lagi bermanfaat keimanannya, karena semua sudah jelas dan tidak ada lagi yang ghaib. Keimanan kepada yang ghaib merupakan ujian bagi manusia di dunia ini.

Yang ghaib itu banyak. Allah adalah yang paling ghaib dari semua yang ghaib. Surga, Neraka, catatan amal, Lauh Mahfuzh, Qalam, Mizan, alam kubur, ruh, para malaikat, dan jin adalah hal-hal yang ghaib.

Kita sama sekali tidak bisa mengetahui yang ghaib kecuali dari Al-Qur’an dan hadits Rasulullah yang shahih. Allah dan rasul-Nya pun tidak akan memberitahukan kepada kita sesuatu tentang yang ghaib kecuali sejauh yang kita perlukan untuk bisa beribadah dengan baik dan tidak lebih. Oleh karena itu kita tidak boleh begitu saja mempercayai berbagai informasi tentang alam ghaib dari sumber-sumber yang tidak jelas dan tidak bisa dipercaya. Dalam kenyataannya, kita bahkan sering mendapati berbagai informasi tentang hal-hal ghaib yang menyesatkan dan merusak aqidah dan fikrah kita. Betapa banyak pula praktek-praktek di masyarakat kita terkait dengan yang ghaib ternyata malah menjerumuskan kita kepada syirik dan bid’ah. Na’udzu billahi min dzalik.

Wallahu a’lam bish shawab.

*************

Jika Allah sudah mengetahui akhir kita dimana, mengapa kita ada di dunia ?

Jawab :

Allah tidak akan dan tidak perlu ditanya atas apa yang Dia kerjakan, tetapi manusialah yang akan Dia tanya atas segala yang diperbuatnya. Allah memang telah mengetahui segala hal dari awal sampai penghujungnya. Akan tetapi semua itu adalah rahasia Allah sendiri. Takdir kita akan di Surga atau di Neraka juga telah Allah ketahui. Namun kita sebagai manusia sama sekali tidak mengetahuinya. Oleh karena itu kita tidak bisa berbuat lain kecuali senantiasa berusaha seoptimal mungkin untuk berbuat baik agar kita bisa mendapatkan ridha-Nya, janji-janji-Nya, dan Surga-Nya. Lain tidak !!!

Urusan kita adalah berusaha (berikhtiar) sedangkan takdir itu urusan Allah. Kita tidak boleh dan tidak akan pernah bisa melampaui wilayah dan kewenangan kita sebagai manusia. Umar bin Al-Khaththab suatu saat pernah mengusulkan untuk membatalkan perjalanan ke suatu negeri yang sedang ditimpa wabah penyakit menular. Seorang sahabat yang lain berkata,”Bukankah yang demikian itu berarti kita lari dari takdir Allah?” Umar pun menjawab,”Kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah (yang lain)”. Jadi, apapun yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan selalu berada dalam bingkai takdir Allah.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Komentar
Tambah Yang BaruCari
Kasih komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
 
Security Image
Silakan memasukkan kode anti-spam yang Anda lihat pada gambar.

Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved.

 
< Sebelumnya   Sesudahnya >