Menu Content/Inhalt
Halaman Depan arrow Aqidah & Ushuluddin
Aqidah & Ushuluddin
Menjaga Hidayah
Ditulis oleh Abdur Rosyid   

ImageHidayah itu memang hak prerogatif Allah. Dia memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki diantara para hamba-Nya dan dia pula yang ’menyesatkan’ siapa saja yang Dia kehendaki (QS Ibrahim : 4, QS Al-Nahl : 93, QS Faathir : 8). Dia tidak akan dan tidak perlu ditanya atas apa yang Dia perbuat tetapi manusialah yang akan Dia tanya atas apa yang telah diperbuatnya (QS Al-Anbiya’ : 23).

Akan tetapi, kehendak Allah atas hidayah dan kesesatan tersebut bergantung kepada manusia itu sendiri. Allah telah memberikan segala potensi kepada manusia untuk bisa mendapatkan hidayah : fithrah, akal, perasaan, ayat-ayat kauniyah, diutusnya para rasul, ayat-ayat qauliyah, dan sebagainya. Allah telah memberikan kepada setiap hati manusia kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk (QS Al-Syams : 8). Sehingga, manusialah yang kemudian akan menentukan dirinya sendiri apakah ia akan taat kepada Allah (jalan hidayah) ataukah ia akan ingkar kepada-Nya (jalan kesesatan). Manusia bebas memilih tetapi ia pasti akan menerima akibat dari pilihannya tersebut.

 
Siapa Manusia Pertama?
Ditulis oleh Abdur Rosyid   

ImageDari kecil kita senantiasa diajari oleh guru agama kita bahwa manusia pertama alias bapaknya semua manusia adalah Nabi Adam as. Namun pada saat kita mengikuti pelajaran Sejarah atau Antropologi, kita diajari bahwa manusia yang pertama kali mendiami bumi semenjak masa yang sangat jauh sebelum kita adalah manusia purba yang bernama Pitecantropus Erektus atau manusia purba yang lainnya.

Sebenarnya, manakah yang lebih dahulu antara Pitecantropus Erectus dan Nabi Adam as? Dari berbagai ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang shahih, kita mendapati bahwa Adam adalah manusia pertama yang Allah ciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi (QS Al-Baqarah : 30, QS Shaad : 71 – 76). Akan tetapi, sebelum manusia telah ada makhluq lain yang hidup di muka bumi.

 
Hakikat Manusia
Ditulis oleh Abdur Rosyid   

ImageManusia adalah hamba Allah (’abdullah) dan khalifah di muka bumi. Sebagai hamba Allah, manusia berkewajiban untuk beribadah kepada-Nya. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia berkewajiban untuk memakmurkan bumi, melakukan perbaikan (ishlah) diatasnya, dan tidak malah membuat kerusakan diatasnya. Manusia adalah salah satu dari dua tsaqalaani, yaitu dua makhluq yang dibebani dengan syariat dan harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya : jin dan manusia. Dua makhluq ini berbeda dengan segenap makhluq yang lain yang tidak harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jin dan manusia memiliki pilihan untuk taat atau ingkar, sedangkan makhluq Allah yang lain tidak memiliki pilihan karena pilihan mereka hanya satu : taat kepada Allah. Langit dan bumi seluruhnya tunduk dan patuh kepada Allah secara sukarela, dengan cara mereka sendiri-sendiri. Sedangkan jin dan manusia ada yang taat dan ada pula yang ingkar. Dahulu kala Allah telah menawarkan amanah kekhalifahan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, dan semua menolaknya, akan tetapi manusia mau menerimanya. Oleh karena itu, manusia telah diberikan oleh Allah berbagai potensi untuk bisa mengemban tugas dan amanahnya tersebut. Jika seorang manusia sangat taat kepada Allah, derajatnya bisa lebih tinggi daripada malaikat, karena malaikat memang diciptakan untuk taat semata sementara manusia taat karena pilihannya. Akan tetapi jika seorang manusia ingkar kepada Allah, derajatnya bisa lebih rendah daripada binatang, karena binatang tidak memiliki akal pikiran sementara manusia memiliki akal pikiran.

 
Makna dan Batasan Baiah
Ditulis oleh Abdur Rosyid   

ImageBai’ah secara sederhana berarti sumpah setia. Dahulu Rasulullah melakukan bai’ah untuk mengikat kesetiaan. Bai’ah Aqabah Pertama dilakukan oleh Rasulullah bersama beberapa orang untuk sepakat menegakkan tauhid dan menjunjung nilai-nilai yang mulia. Bai’ah Aqabah Kedua dilakukan oleh Rasulullah bersama sejumlah orang yang lebih banyak untuk sepakat memperjuangkan Islam dalam keadaan senang ataupun susah. Ba’iah Ridhwan dilakukan oleh Rasulullah  bersama para sahabat terkait dengan Kasus Utsman bin ’Affan di Hudaibiyah. Rasulullah juga membaiat orang-orang yang masuk Islam ketika itu untuk setia kepada Islam. Bai’ah juga telah dilakukan oleh kaum muslimin untuk menyatakan kesetiaannya (mendengar dan taat) kepada para khalifah kecuali dalam hal-hal yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya.

Dalam konteks kepemimpinan dan kekuasaan, bai’ah berarti sumpah untuk setia (mendengar dan taat) kepada khalifah kecuali dalam hal-hal yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya. Bai’ah ini dibagi oleh para ulama siyasah menjadi dua macam : bai’ah ’ammah (baiat umum) dan bai’ah khashshah (baiat khusus). Baiat khusus dilakukan oleh sekelompok orang yang terbatas yang menyatakan kesetiaannya kepada khalifah. Baiat umum biasanya dilakukan menyusul baiat khashshah dan dilakukan oleh seluruh kaum muslimin yang menyatakan kesetiaannya kepada khalifah. Baiat semacam ini wajib dilakukan oleh setiap muslim ketika ada kekhalifahan yang sah secara syar’i. Dalam konteks baiat semacam inilah Rasulullah bersabda,”Barangsiapa mati sementara di pundaknya tidak ada baiat maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”.

 
Menyikapi Perkara Ghaib
Ditulis oleh Abdur Rosyid   
ImageBagaimana menanggapi hal-hal ghaib di sekitar kita ? Jawabannya begini. Alam ghaib itu benar adanya. Sebagai seorang mukmin kita harus beriman kepada yang ghaib (QS Al-Baqarah : 3). Bahkan, beriman kepada yang ghaib merupakan asas bagi keimanan itu sendiri. Ketika apa-apa yang harus kita imani tidak lagi ghaib, maka keimanan ketika itu tidak lagi ada artinya. Demikianlah orang-orang yang dijemput oleh Izrail saat sakaratul maut dan yang dihadapkan di depan Mahkamah Ilahi tidak lagi bermanfaat keimanannya, karena semua sudah jelas dan tidak ada lagi yang ghaib. Keimanan kepada yang ghaib merupakan ujian bagi manusia di dunia ini.

Yang ghaib itu banyak. Allah adalah yang paling ghaib dari semua yang ghaib. Surga, Neraka, catatan amal, Lauh Mahfuzh, Qalam, Mizan, alam kubur, ruh, para malaikat, dan jin adalah hal-hal yang ghaib.

 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 10 - 18 dari 18