Alam dibedakan atas alam ghaib (seperti Allah, malaikat, jin, surga, dan neraka) dan alam tampak. Ghaib menurut bahasa berarti yang tidak tampak. Allah-lah yang paling mengetahui kedua alam tersebut. “Dialah Allah yang tidak ada ilah kecuali Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang tampak (QS Al-Hasyr : 22)”. “Sesungguhnya Aku mengetahui segala yang ghaib di langit dan di bumi dan Aku mengetahui apa yang kalian tampakkan dan apa yang kalian sembunyikan (QS Al-Baqarah : 33)”.
Kita harus beriman kepada yang ghaib. “Kitab ini tidak ada keraguan didalamnya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib … (QS Al-Baqarah : 2-3)”. Tetapi kita hanya bisa mengetahui yang ghaib secara benar dengan cara ikhbari, yakni sejauh apa yang dikemukakan oleh Allah dan Rasul-Nya (Al-Qur’an dan As-Sunnah).
Alam ghaib yang diciptakan oleh Allah merupakan ujian bagi manusia selama dia hidup di dunia. Manusia diuji apakah ketika di dunia dia beriman kepada Allah, Hari Akhir, surga, neraka, pahala akhirat dan sebagainya – yang mana semuanya itu tidak tampak – ataukah dia mengingkarinya.
Ibarat sebuah pohon, iman itu memiliki cabang-cabang. Imam Al-Baihaqi, salah seorang terkemuka, mendaftar 77cabang iman. Anda tinggal mencocokkan apakah semuanya ada dalam diri Anda. Ataukah masih banyak yang belum melekat pada diri Anda. Mari kita lihat apa sajakah ketujuh puluh tujuh cabang tersebut.
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. ‘Allamah Hujjatul Islam Abu Ja’far Al-Waraaq Al-Thahaawiy – di Mesir - , semoga Allah merahmatinya, mengatakan : Berikut ini merupakan penjelasan tentang aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, yang dianut oleh para fuqaha kita yakni Abu Hanifah Al-Nu’maan ibn Tsaabit Al-Kuufiy, Abu Yusuf Ya’qub ibn Ibrahim Al-Anshariy, dan Abu Abdillah Muhammad ibn Al-Hasan Al-Syaibaniy – semoga ridha Allah atas mereka -. Aqidah inilah yang telah mereka yakini sebagai asas-asas agama (ushul al-din) dan dengan aqidah ini pulalah mereka tunduk patuh kepada Rabb semesta alam. Dalam masalah tauhidullah yang telah mereka yakini dengan taufiq Allah, kita mengatakan bahwa :