Menu Content/Inhalt
Halaman Depan arrow Aqidah & Ushuluddin
Aqidah & Ushuluddin
Siapakah Diri Kita? (Ma’rifatul Insan)
Ditulis oleh Abdur Rosyid   

ImageKita, manusia, adalah makhluq Allah yang unik dan istimewa. Kita tercipta dari dua unsur yang sungguh berbeda satu sama lain: tanah yang berasal dari bumi dan ruh yang berasal dari langit. Terciptanya kita dari tanah menjadikan kita sebagai makhluq yang membutuhkan hal-hal yang bersifat ‘bumi’ seperti makan, minum, dan kebutuhan biologis. Sedangkan unsur ruh yang ada dalam diri kita menjadikan kita sebagai makhluq yang membutuhkan hal-hal yang bersifat ‘langit’ seperti iman, ilmu, dan semacamnya.

Allah telah mengilhamkan dalam diri kita dua potensi: potensi baik (at-taqwa) dan potensi buruk (al-fujur). Kemudian Allah memberikan kepada kita kebebasan untuk memilih: beriman atau kufur, menjadi baik atau menjadi buruk. Setelah memilih, kita tentu saja harus menanggung segala konsekuensinya. Dan konsekuensi tersebut tidak lain adalah balasan baik berupa surga dan balasan buruk berupa neraka. Apapun yang akan kita dapatkan, baik surga ataupun neraka, merupakan hasil dari pilihan kita sendiri. Karena itu jika ada seorang manusia yang nantinya masuk kedalam neraka, itu tidak lain adalah karena kezhalimannya kepada dirinya sendiri. Allah sedikit pun tidak berbuat zhalim kepada hamba-hamba-Nya.

 
Hakikat Manusia (Ma’rifatul Insan)
Ditulis oleh Abdur Rosyid   

ImageKita, manusia, adalah makhluk yang unik. Pernahkah kita merenungi mengapa kita unik? Apa sajakah keunikan manusia yang membuatnya berbeda dari makhluk Allah yang lainnya?

Keunikan pertama, manusia adalah makhluk Allah yang dimuliakan (mukarram). Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS Al-Isra’: 70)

Salah satu hal yang mengindikasikan dimuliakannya manusia adalah peniupan ruh pada diri manusia. Allah SWT berfirman, “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS As-Sajdah: 9)

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw menjelaskan bagaimana ruh ditiupkan pada setiap janin manusia. “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan ciptaannya dalam rahim ibunya, selama empat puluh hari berupa nuthfah, lalu menjadi segumpal darah selama itu pula, lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan mencatat empat hal yang telah ditentukan, yaitu: rezeki, ajal, amal, dan bahagia atau sengsaranya.”

 
Mengenal Islam (Ma’rifatul Islam)
Ditulis oleh Abdur Rosyid   

ImageAgama Islam yang dibawa oleh Rasulullah adalah penyempurnaan atas agama-agama yang telah dibawa oleh para nabi dan rasul sebelumnya. Karena telah sempurna, tidak akan ada lagi agama baru. Islam adalah agama terakhir, yang berlaku hingga hari kiamat. Muhammad Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah adalah penyempurnaan atas agama-agama yang telah dibawa oleh para nabi dan rasul sebelumnya. Karena telah sempurna, tidak akan ada lagi agama baru. Islam adalah agama terakhir, yang berlaku hingga hari kiamat. Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam adalah nabi dan rasul terakhir, tidak ada lagi nabi dan rasul sesudahnya. Dan dengan kesempurnaannya, Islam ditujukan untuk seluruh umat manusia, bukan hanya untuk orang Arab saja.

Nama Islam menurut bahasa memiliki beberapa makna, yang menunjukkan sifat dari agama ini. Makna yang pertama adalah ketundukan. Dengan memeluk Islam, seorang manusia akan tunduk patuh kepada Tuhannya karena merasa bahwa ia hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa dihadapan kebesaran dan keagungan-Nya.

Makna yang kedua adalah berserah diri. Dengan memeluk Islam, seorang manusia telah menyerahkan dirinya kepada Allah karena merasa bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa, Dzat Yang Maha Mengatur, dan Dzat Yang Tidak Pernah Tidur. Ia yakin dan percaya bahwa Allah pasti senantiasa memberikan yang terbaik kepada hamba-hamba-Nya.

 
Mengenal Allah (Ma’rifatullah)
Ditulis oleh Abdur Rosyid   

Fitrah setiap manusia pasti merasakan keberadaan Allah. Indera dan akal juga mendukung fitrah tersebut. Bagaimana mungkin alam yang terbentang luas ini ada dengan sendirinya? Bagaimana mungkin alam semesta dengan segenap bagian-bagiannya sampai yang paling kecil sekalipun bisa eksis dalam keteraturan yang mencengangkan? Tidak bisa tidak, Allah pasti ada. Dan lebih dari sekadar ada, Allah pastilah Dzat yang Satu dan Maha Sempurna.

ImageKita memang tidak bisa melihat Allah, akan tetapi kita bisa mengenal-Nya melalui ayat-ayat-Nya, baik ayat-ayat yang Ia firmankan melalui lisan para rasul-Nya (ayat-ayat qauliyah) maupun ayat-ayat yang Ia ciptakan berupa alam semesta beserta segenap isinya (ayat-ayat kauniyah).

Melalui firman-firman-Nya, Allah memperkenalkan diri-Nya dan memberitahukan sifat-sifat-Nya kepada kita semua. Pada saat yang sama, firman-firman Allah juga mengajak kita untuk mentafakkuri ayat-ayat-Nya yang terbentang di alam semesta dan bahkan yang ada dalam diri kita sendiri. Dengan tafakkur yang sungguh-sungguh, kita pasti akan sampai pada kesimpulan bahwa tidaklah Allah menciptakan sesuatupun dengan sia-sia. Kita akan merasa takjub pada kebesaran-Nya dan berkata,”Subhanallah, Maha Suci Allah.” Dan ketika itulah keimanan dan rasa takut kita kepada-Nya akan semakin menguat! Itulah sebabnya jika kita semakin mengenal Allah maka kita akan semakin beriman dan bertakwa kepada-Nya.

 
Makna Syahadat
Ditulis oleh Abdur Rosyid   

Sebagai muslim, kita tentu tidak asing lagi dengan dua kalimat syahadat atau yang biasa dikenal sebagai syahadatain. Bagaimana tidak? Semenjak kecil kalimat ini sudah diajarkan pada kita. Setiap hari paling tidak kita mengucapkan kalimat ini berkali-kali dalam tasyahud shalat kita. Belum lagi dalam dzikir-dzikir yang kita ucapkan. Namun, meski kita sudah sedemikian akrab dengan kalimat ini, kita harus bertanya pada diri kita apakah kita sudah menghayatinya dengan penghayatan yang sebenar-benarnya untuk kemudian mengejewantahkannya dalam kehidupan?

ImageKalimat syahadat terdiri dari dua bagian. Yang pertama disebut syahadat tauhid. Yang kedua disebut syahadat kerasulan. Dalam syahadat tauhid, kita mempersaksikan, berikrar dan berjanji bahwa laa ilaha illallah ’tidak ada ilah selain Allah’. Pernyataan ini pertama-tama bermakna bahwa tidak ada yang memiliki sifat-sifat rububiyah kecuali Allah. Maknanya, Allah sajalah pencipta alam semesta ini sekaligus pemelihara urusan-urusannya, pemberi rizki kepada semua makhluq dan pemilik hakiki dari semua yang ada di alam ini. Namun, kesaksian atas rububiyah ini tidak serta merta membuat seseorang menjadi seorang muslim. Untuk menjadi seorang muslim, seseorang harus melangkah pada makna syahadat tauhid yang lebih jauh, yakni tidak ada yang berhak diibadahi dalam hidup ini kecuali Allah. Sebenarnya, makna ini adalah konsekuensi logis dari makna rububiyah tadi. Bukankah jika seseorang telah mengakui bahwa satu-satunya pemilik sifat rububiyah adalah Allah maka tidak ada lagi pilihan lain baginya kecuali tunduk patuh beribadah kepada-Nya?

 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 9 dari 18