Manusia adalah hamba Allah (’abdullah) dan khalifah di muka bumi. Sebagai hamba Allah, manusia berkewajiban untuk beribadah kepada-Nya. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia berkewajiban untuk memakmurkan bumi, melakukan perbaikan (ishlah) diatasnya, dan tidak malah membuat kerusakan diatasnya. Manusia adalah salah satu dari dua tsaqalaani, yaitu dua makhluq yang dibebani dengan syariat dan harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya : jin dan manusia. Dua makhluq ini berbeda dengan segenap makhluq yang lain yang tidak harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jin dan manusia memiliki pilihan untuk taat atau ingkar, sedangkan makhluq Allah yang lain tidak memiliki pilihan karena pilihan mereka hanya satu : taat kepada Allah. Langit dan bumi seluruhnya tunduk dan patuh kepada Allah secara sukarela, dengan cara mereka sendiri-sendiri. Sedangkan jin dan manusia ada yang taat dan ada pula yang ingkar. Dahulu kala Allah telah menawarkan amanah kekhalifahan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, dan semua menolaknya, akan tetapi manusia mau menerimanya. Oleh karena itu, manusia telah diberikan oleh Allah berbagai potensi untuk bisa mengemban tugas dan amanahnya tersebut. Jika seorang manusia sangat taat kepada Allah, derajatnya bisa lebih tinggi daripada malaikat, karena malaikat memang diciptakan untuk taat semata sementara manusia taat karena pilihannya. Akan tetapi jika seorang manusia ingkar kepada Allah, derajatnya bisa lebih rendah daripada binatang, karena binatang tidak memiliki akal pikiran sementara manusia memiliki akal pikiran.
Manakah yang lebih dahulu antara Pitecantropus Erectus dan Nabi Adam as ?
Jawab :
Dari berbagai ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang shahih, kita mendapati bahwa Adam adalah manusia pertama yang Allah ciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi (QS Al-Baqarah : 30, QS Shaad : 71 – 76). Akan tetapi, sebelum manusia telah ada makhluq lain yang hidup di muka bumi.
Adapun tentang Pitecantropus Erectus, para ahli sendiri belum sepakat tentang kebenarannya. Apalagi ketika dikatakan bahwa penemuan Pitecantropus Erectus dan manusia purba yang lain menunjukkan bahwa manusia adalah keturunan (hasil evolusi dari) bangsa kera. Sebagian ahli mengatakan bahwa tulang belulang yang direkonstruksi menjadi model manusia purba tidaklah sepenuhnya tulang belulang manusia, tetapi bercampur dengan tulang belulang binatang (kera). Yang jelas, informasi dari wahyu bersifat pasti kebenarannya sedangkan informasi dari penemuan Iptek bersifat sementara kebenarannya. Ketika kedua jenis informasi tersebut bertentangan, kita mesti mendahulukan dan memenangkan informasi wahyu.
Bagaimana cara agar kita tetap ber-husnudhdhan kepada Allah dan Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita ?
Jawab :
Kita harus memiliki pemahaman dan keyakinan yang kuat bahwa Allah senantiasa menginginkan kebaikan dan kemaslahatan bagi manusia dan alam semesta seluruhnya. Dalam berbagai ayat dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa segala kebaikan yang didapat oleh manusia berasal dari Allah sedangkan segala keburukan yang menimpa manusia adalah karena ulah perbuatan manusia itu sendiri.
Terlebih-lebih bagi seorang mukmin, Allah senantiasa akan memberikan yang terbaik meskipun yang baik itu seringkali kita pandang buruk. Allah sajalah yang mengetahui kebaikan dan keburukan yang sejati sementara penglihatan, penilaian, dan pengetahuan kita bersifat semu dan terbatas (QS Al-Baqarah : 216). Betapa Allah senantiasa memberikan yang terbaik kepada seorang mukmin sampai Rasulullah saw menyatakan bahwa tidaklah seorang mukmin ditimpa musibah – meskipun hanya tertusuk duri di kakinya atau tersandung batu – kecuali Allah pasti akan menghapuskan satu dosa darinya. Bahkan Allah seringkali menimpakan sakit kepada seorang mukmin sebagai kaffarah (penghapus dosa) baginya. Adapun terhadap orang yang ingkar kepada-Nya, justeru Allah seringkali memberikan istidraj (penundaan siksa) kepadanya sampai akhir hayatnya agar Allah bisa menyempurnakan adzab-Nya di Hari Perhitungan kelak.
Bukankah orang Kristen dan Islam sama-sama menyembah. Mengapa berbeda ?
Jawab :
Setiap manusia memang memiliki fithrah untuk menyembah dzat yang supreme, yang menguasai hidupnya dan juga kehidupan. Oleh karena itu, Allah mengutus para rasul untuk menjelaskan kepada umat manusia bagaimana mereka harus menyembah-Nya. Barangsiapa mengikuti para rasul Allah maka ia akan bisa menyembah Allah secara benar. Barangsiapa yang tidak mengikuti tuntunan para rasul, maka ia akan keliru dan tersesat dalam mewujudkan keinginan untuk menyembah-Nya.
Dalam kasus orang-orang Kristen, sesungguhnya mereka itu telah menyimpang dari ajaran Nabi Isa sendiri. Kitab yang mereka pegang sekarang bukanlah kitab yang dahulu dibawa oleh Nabi Isa, karena adanya perubahan dan pemalsuan. Mereka telah menyekutukan Allah dengan doktrin Trinitas-nya, padahal tauhidullah adalah pondasi bagi penyembahan kepada Allah. Sehingga, mereka itu tersesat meskipun motivasinya bisa saja benar. Yang demikian ini karena mereka tidak mengikuti tuntunan rasul yang diutus kepada mereka.
Alam dibedakan atas alam ghaib (seperti Allah, malaikat, jin, surga, dan neraka) dan alam tampak. Ghaib menurut bahasa berarti yang tidak tampak. Allah-lah yang paling mengetahui kedua alam tersebut. “Dialah Allah yang tidak ada ilah kecuali Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang tampak (QS Al-Hasyr : 22)”. “Sesungguhnya Aku mengetahui segala yang ghaib di langit dan di bumi dan Aku mengetahui apa yang kalian tampakkan dan apa yang kalian sembunyikan (QS Al-Baqarah : 33)”.
Kita harus beriman kepada yang ghaib. “Kitab ini tidak ada keraguan didalamnya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib … (QS Al-Baqarah : 2-3)”. Tetapi kita hanya bisa mengetahui yang ghaib secara benar dengan cara ikhbari, yakni sejauh apa yang dikemukakan oleh Allah dan Rasul-Nya (Al-Qur’an dan As-Sunnah).
Alam ghaib yang diciptakan oleh Allah merupakan ujian bagi manusia selama dia hidup di dunia. Manusia diuji apakah ketika di dunia dia beriman kepada Allah, Hari Akhir, surga, neraka, pahala akhirat dan sebagainya – yang mana semuanya itu tidak tampak – ataukah dia mengingkarinya.