Menu Content/Inhalt
Halaman Depan arrow Perang Pemikiran
Perang Pemikiran
Polemik Sekitar Hubungan antara Akal dan Naqal (Teks-Teks Syariat)

Berikut ini petikan diskusi bersama Dr. Yusuf Qardhawi seputar polemik mengenai hubungan antara akal pemikiran manusia dan teks-teks syariat (naqal). Hubungan diantara keduanya sebetulnya senantiasa berlangsung  di tengah-tengah umat Islam semenjak masa-masa awal  dan menjadi lebih hebat lagi di masa khulafa’ rasyidun – semoga Allah meridhai mereka. Setiap kali pintu-pintu ilmu pengetahuan dan kebudayaan terbuka di dunia Islam  maka disana senantiasa terjadi hubungan diantara keduanya. Permasalahan ini bertambah ketika muncul polemik mengenai hubungan antara akal dan naqal, segera setelah umat Islam berinteraksi dengan kebudayaan Yunani dan Filsafat Yunani Kuno. Akal dan naqal, ada pertentangan diantara keduanya ataukah tidak ada ?

Baca selengkapnya
 
Mengapa Islam Turun di Arab?

Islam sebagai syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad diturunkan dan mengalami masa formasinya di tanah Arab? Mengapa disana padahal Islam adalah untuk seluruh alam? Mengapa bukan di Roma, di Cina, atau di Asia Tenggara? 

Dengan diturunkannya Islam di Arab, maka Islam kemudian menjadi sangat terkait dan tidak dapat dilepaskan dari kearaban. Sebagaimana diketahui, keseluruhan bangunan Islam bukanlah bangunan yang sama sekali baru, yang didatangkan untuk mengganti sama sekali bangunan lama (baca: bangunan Arab). Islam datang hanya untuk memperbaiki yang rusak, menambah atau melengkapi yang kurang, dan tetap melestarikan yang lama atau yang sudah ada. Dengan kata lain, Islam datang untuk melakukan konservasi terhadap tradisi lama Arab yang masih baik, disamping melakukan revisi dan penyempurnaan. Terutama dalam hal konservasi tradisi lama, akan muncul sebuah pertanyaan “Bagaimana jadinya andaikata Islam turun di Cina”? Tentunya, bangunan Islam akan berupa ajaran Cina yang direvisi dan disempurnakan !!

Dari titik inilah kita merasa perlu untuk tahu mengapa yang dipilih adalah Arab dan bukan yang lain. Sebagian orang memberikan jawaban, terutama ditujukan untuk anak-anak, bahwa Arab dipilih karena saat itu masyarakatnya merupakan masyarakat yang paling rusak.

Baca selengkapnya
 
Antara Taysir dan Tasyaddud dalam Beragama

Diantara sifat-sifat generik Allah – yang meliputi berbagai sifat-sifat-Nya yang derivatif  - adalah al-rahmah (kasih-sayang), al-‘ilm (pengetahuan), dan al-‘azhm (kebesaran).

Diantara sifat-sifat-Nya yang bermuara pada al-rahmah adalah:

  • Sifat-sifat kelembutan, seperti: al-rahman, al-rahim, al-lathif, al-rauf, al-halim, al-hannan, dll.
  • Sifat-sifat memberi atas dasar kasih-sayang, seperti: al-wahhab, al-razzaq, al-mannan, dll.
  • Sifat-sifat pemaaf atas dasar kasih-sayang, seperti: al-‘afuww, al-tawwab, al-ghafur (al-ghaffar), dll.
  • Sifat-sifat adil atas dasar kasih sayang, termasuk didalamnya sifat-sifat menyiksa atas dasar keadilan.
Baca selengkapnya
 
Berbagai Pendekatan Menuju Islam

Orang-orang mengatakan begini: Ibnu Rusyd mengatakan bahwa jalan menuju kebenaran itu tidak hanya satu, tetapi banyak. Imam Al-Shan’ani  telah memberikan judul  Subulus Salam kepada sebuah kitab fiqihnya yang sangat terkenal. Subulus Salam sendiri bermakna Jalan-jalan (bukan satu jalan melainkan banyak jalan) Menuju Keselamatan. Kalau kita mau pergi ke Roma maka banyak jalan yang bisa kita tempuh. Kita bisa ke Roma melewati Arab. Kita pun bisa ke Roma melewati Amerika. Kita bisa ke Roma dengan pesawat terbang. Kita pun bisa ke Roma dengan kapal laut.

Apakah ke Roma lewat Arab lebih baik daripada lewat Amerika? Belum tentu. Masing-masing rute tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Apakah ke Roma dengan pesawat terbang juga mesti lebih baik daripada dengan kapal laut? Belum tentu juga. Masing-masing cara memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri.

Baca selengkapnya
 
Perbedaan dan Sikap Wasath

Allah Ta’ala  berfirman:

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh menuju kepada-Ku pasti akan Kutunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami (subulana)”. (QS Al-Ankabut: 69)

Ayat diatas menyiratkan bahwa jalan-jalan menuju perkenan Ilahi tidaklah satu saja, melainkan lebih dari satu (banyak) sebagaimana dinyatakan oleh Allah dengan penggunaan bentuk jamak subulana (dan bukan sabilana).

Permasalahan yang kemudian muncul adalah apakah yang dimaksud dengan sabil. Jawaban terhadap pertanyaan ini nantinya akan mempengaruhi definisi (batasan) kata sabil sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat diatas.

Baca selengkapnya