|
Ditulis oleh Abdur Rosyid
|
Taqwa merupakan status yang sangat mulia bagi seorang manusia. Hanya saja, yang berhak menetapkan status ini pada diri seorang manusia hanyalah Allah. Taqwa merupakan orientasi yang sering dinyatakan dari ditetapkannya berbagai bentuk perintah dan larangan: la’allakum tattaqun ‘agar kalian bertaqwa’.
Di beberapa tempat dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan kepada kita gambaran tentang orang-orang yang bertaqwa, agar kita mengetahui potret dan ciri-ciri mereka. Sebagian diantara ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut. Menegakkan shalat (Lihat QS 2 : 3, 177) Shalat adalah sarana untuk mengingat Allah secara kontinyu dalam kehidupan kita, setidak-tidaknya lima kali dalam sehari semalam, sehingga kita tidak akan hanyut dan terbuai oleh tipu daya kehidupan dunia. Menegakkan shalat tidaklah semata-mata mengerjakan shalat, akan tetapi juga menjaga bekasnya diluar shalat, yaitu tercegahnya diri kita dari perbuatan keji dan munkar.
|
|
|
Ditulis oleh Abdur Rosyid
|
Dari segi bahasa, riya’ masih satu akar dengan kata ru’yah yang berarti penglihatan. Riya’ artinya melakukan suatu amalan karena ingin dilihat oleh manusia. Orang yang riya’ ingin agar orang lain mengetahui amalannya kemudian merasa takjub dan memberikan pujian kepadanya. Disinilah kita paham bahwa riya’ adalah lawan dari ikhlas, karena riya’ berarti pamrih kepada manusia, sedangkan ikhlas hanya ‘pamrih’ kepada Allah Ta’ala.
Para ulama sendiri menyebut riya’ sebagai syirik tersembunyi (al-syirk al-khafiyy). Riya’ dikategorikan sebagai syirik karena orang yang riya’ berarti telah menyekutukan tujuan ibadahnya. Ia tidak hanya menjadikan Allah sebagai tujuan, tetapi telah menjadi manusia sebagai sekutu bagi Allah. Allah sendiri sangat tidak suka dengan orang-orang yang riya’. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman: “Ana aghnasy syuraka’ ‘anis syirk. Faman ‘amila ‘amalan asyraka fiihi ghairii fahuwa lilladzii asyraka, wa ana minhu barii’ (Aku adalah Dzat yang sama sekali tidak butuh sekutu. Maka barangsiapa melakukan suatu amal perbuatan dengan menyekutukan Aku, maka amal perbuatan itu adalah untuk sekutunya, dan Aku berlepas darinya).” (HR Muslim, Ibnu Majah, Ahmad) Alangkah ruginya kita jika berbuat riya’ karena Allah akan berlepas diri dari kita dan tidak akan mau menerima amalan kita.
|
|
|
Ditulis oleh Abdur Rosyid
|
Pengertian Ikhlas
Dari sisi lughawi (bahasa), kata ikhlas berasal dari akar kata kh-l-sh yang artinya murni, tidak bercampur dengan yang lainnya. Laban khaalish dalam bahasa arab berarti susu murni yang tidak bercampur dengan apapun. Tidak bercampur dengan air, tidak bercampur dengan gula, tidak pula bercampur dengan yang lainnya. Dengan demikian ikhlas berarti memurnikan sesuatu. Dalam konteks kajian tauhid dan akhlaq, tentu saja yang dimaksud adalah memurnikan penghambaan dan ketaatan hanya kepada Allah semata. Adapun secara terminologis (isthilahi), ikhlas berarti mengerjakan amal perbuatan lillahi ta’ala, semata-mata karena Allah, tidak karena yang lainnya. Yang diharapkan hanyalah ridha dan balasan dari Allah. Sebagian ulama yang lain mendefinisikan ikhlas sebagai “an laa tathluba ‘alaa ‘amalika ayya syuhuud” (engkau melakukan amal perbuatan tidak karena ingin dilihat oleh seseorang). Ini sesuai dengan firman Allah SWT di penggal terakhir QS Al-Fath: 28: “Wa kafaa billahi syahiidan” (Dan cukuplah Allah semata sebagai saksi – atas segala amal perbuatan).
|
|
|
Ditulis oleh Abdur Rosyid
|
Akhlaq dalam Islam itu meliputi dimensi batiniyah dan lahiriyah sekaligus, apa yang ada dalam hati dan apa yang tercermin dalam perilaku melalui organ-organ tubuh kita. Inilah yang membedakan akhlaq dengan etiket. Jika etiket hanya mementingkan apa yang nampak dari diri seseorang, akhlaq tidak. Dalam konsep akhlaq, yang ada dalam batin kita harus bersih dan baik – yang kemudian tercermin dalam perilaku kita. Bukan hanya baik diluarnya, sebagaimana yang terjadi pada orang yang pura-pura dan mengidap penyakit nifaq.
Pertanyaannya, mengapa kita harus berakhlaq mulia dan membebaskan diri dari akhlaq tercela? Jawabannya setidak-tidaknya bisa dijelaskan dalam delapan poin. Pertama, misi utama Islam adalah menyempurnakan akhlaq yang mulia. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim). Bahkan ibadah-ibadah yang kita lakukan pun selalu dikaitkan dengan pembersihan jiwa dan pencapaian akhlaq yang mulia. Penjelasannya ada disini.
|
|
|
Ditulis oleh Abdur Rosyid
|
Untuk melakukan tazkiyatun nafs, yang meliputi takhalliy (membersihkan jiwa kita dari akhlaq yang tercela) dan tahalliy (menghiasi jiwa kita dengan akhlaq yang terpuji), kita memerlukan berbagai macam cara atau sarana (wasail) – wasailut tazkiyah “sarana-sarana penyucian jiwa”. Apakah sarana-sarana itu? Sarana-sarana itu tidak lain adalah ibadah-ibadah kita: sholat, shaum, zakat dan infaq, haji, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan sebagainya. Semua bentuk ibadah tersebut merupakan wasailut tazkiyah – membersihkan jiwa dan menumbuhkan akhlaq yang terpuji.
Sebagai gambaran singkat bagaimana ibadah-ibadah kita bisa membersihkan jiwa kita, mendidik jiwa kita, dan menumbuhkan akhlaq yang terpuji, mari kita lihat hakikat ibadah-ibadah tersebut. Tentang sholat, Allah SWT berkata, “Wa aqimish shalat. Innash shalata tanha ‘anil fahsya’ wal munkar (Dan tegakkanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar)" - QS Al-Ankabut: 45. Ternyata, hikmah diperintahkannya sholat adalah untuk mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar, yang dengan kata lain berarti membangun akhlaq kita.
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 Selanjutnya > Akhir >>
|
| Hasil 10 - 18 dari 24 |