Secara lughawi, ikhtilath berarti percampuran. Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, kata ikhtalatha sering digunakan untuk menyatakan ungkapan semisal “Susu dan kopi itu bercampur”. Secara istilahiy, ikhtilath sering diartikan sebagai percampuran antara orang-orang yang berlainan jenis - bukan antara suami dan istri-istrinya, bukan pula sesama mahram – tanpa adanya hijab. Jadi ikhtilath dihindari dengan cara memakai hijab. Para ulama berbeda pendapat mengenai bagaimanakah hijab itu?
Secara menyeluruh, hijab tidaklah hanya bermakna hijab zhahiriy, namun juga mencakup hijab maknawiy. Hijab maknawiy adalah hakikat yang dituju, sementara hijab zhahiriy adalah sarana yang dipakai untuk bisa memiliki hijab maknawiy. Hijab maknawiy yang dimaksud adalah kesucian hati akibat keter-hijab-annya terhadap keinginan yang hina dan keji. Kesucian hati merupakan ‘illah pensyariatan hijab yang disebutkan (manshushah) dalam Al-Qur’an (Ayat Hijab). Jadi apabila hijab zhahiriy tidak dibarengi dengan terciptanya hijab maknawiy maka hal itu masih belum memenuhi tuntutan syariat.
Secara etimologis, shiyam (atau shaum) berarti menahan diri. Adapun secara terminologis, shiyam adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya, sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, disertai dengan niat.
Kata peradaban (al-hadharat, civilisation) seringkali diidentikkan dengan kata kebudayaan (al-tsaqafah, culture). Meskipun sementara kalangan membedakan pengertian kedua kata tersebut, namun argumen yang mengidentikkan keduanya juga cukup kuat. Kompromi dalam masalah ini ialah bahwa pada suatu saat pembedaan itu absah dan pada saat yang lain pengidentikan juga absah. Dalam bahasa Arab, selain disebut sebagai al-hadharat, peradaban terkadang juga disebut dengan al-tamaddun. Karena itu tidaklah mengherankan apabila masyarakat madani kemudian diterjemahkan menjadi masyarakat beradab atau civilsociety.
Dalam pengertiannya yang paling luas, peradaban mencakup aspek material maupun immaterial. Katakanlah, aspek material dicontohkan oleh piramida dan patung Sphinx Mesir, istana Al-Hamra, kastil Eropa Abad Pertengahan, atau gedung WTC yang telah runtuh, sementara aspek immaterial dicontohkan oleh ajaran Islam, ajaran Budha, filsafat Yunani, Konfusianisme, Kapitalisme, atau Sosialisme.
Ibarat sebuah pohon, iman itu memiliki cabang-cabang. Imam Al-Baihaqi, salah seorang terkemuka, mendaftar 77cabang iman. Anda tinggal mencocokkan apakah semuanya ada dalam diri Anda. Ataukah masih banyak yang belum melekat pada diri Anda. Mari kita lihat apa sajakah ketujuh puluh tujuh cabang tersebut.
Islam sangat mengutamakan kebersihan (thaharah). Allah sering berfirman “Innallaha yuhibbul mutathahhiriin (Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang mensucikan diri)”. Bahkan, termasuk dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang mula-mula diturunkan ialah “Wa tsiyaabaka fathahhir (Dan sucikanlah pakaianmu)”. Nabi saw bersabda “Ath-thuhuuru syathrul iimaan (Kebersihan itu separuh iman)”. Kebersihan yang dimaksud mencakup kebersihan fisik dan kesucian jiwa.