|
Ditulis oleh Abdur Rosyid
|
Tazkiyatun nafs “penyucian jiwa” adalah sesuatu yang sangat penting untuk terus kita lakukan dalam hidup ini. Makna dan pentingnya tazkiyatun nafs bisa dilihat dalam tulisan ini. Setelah kita memahami makna dan pentingnya tazkiyatun nafs, sangat penting pula kita mengenali dan tahu apa yang akan kita sucikan. Sebagaimana kalau kita mau membersihkan rumah kita. Kita harus tahu yang mau kita bersihkan itu tanah, atau rumput, atau kaca, atau tembok, atau karpet, atau keramik, atau marmer. Setelah kita tahu apa yang mau kita bersihkan berikut sifat-sifatnya, kita bisa memilih alat pembersih yang sesuai.
Apa itu jiwa (an-nafs)? Pertama-tama, kita harus tahu bahwa Allah telah mengilhamkan kepada setiap jiwa manusia: fujur (potensi buruk) dan taqwa (potensi baik). Allah SWT berfirman dalam QS Asy-Syams: 7-8: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (potensi) kefasikan dan ketakwaannya.” Dua potensi ini ada pada jiwa/nafsu setiap manusia. Tinggal kita masing-masing, mau menguatkan potensi baiknya ataukah potensi buruknya? Nah, dari sinilah manusia itu kemudian secara ekstrim bisa dibedakan menjadi dua. Pertama, manusia yang bisa mengendalikan nafsunya, sehingga nafsu tunduk kepada dirinya. Ini sesuai dengan firman Allah dalam QS An-Nazi’at: 40-41: “Adapun orang yang takut terhadap kebesaran Tuhannya dan menahan dirinya dari ajakan hawa nafsu, maka sesungguhnya surga akan menjadi tempat kembalinya.” Selaras dengan ayat ini, Rasulullah saw bersabda, “Laa yu’minu ahadukum hataa yakunu hawaahu taba’an lima ji’tu bihi (Tidaklah beriman seseorang diantara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa).”
|
|
|
Ditulis oleh Abdur Rosyid
|
Apa makna tazkiyatun nafs?
Tazkiyatun nafs terdiri dari dua kata: at-tazkiyah dan an-nafs. At-tazkiyah bermakna at-tath-hiir, yaitu penyucian atau pembersihan. Karena itulah zakat, yang satu akar dengan kata at-tazkiyah disebut zakat karena ia kita tunaikan untuk membersihkan/menyucikan harta dan jiwa kita. Adapun kata an-nafs (bentuk jamaknya: anfus dan nufus) berarti jiwa atau nafsu. Dengan demikian tazkiyatun nafs berarti penyucian jiwa atau nafsu kita. Namun at-tazkiyah tidak hanya memiliki makna penyucian. At-tazkiyah juga memiliki makna an-numuww, yaitu tumbuh. Maksudnya, tazkiyatun nafs itu juga berarti menumbuhkan jiwa kita agar bisa tumbuh sehat dengan memiliki sifat-sifat yang baik/terpuji. Dari tinjauan bahasa diatas, bisa kita simpulkan bahwa tazkiyatun nafs itu pada dasarnya melakukan dua hal. Pertama, menyucikan jiwa kita dari sifat-sifat (akhlaq) yang buruk/tercela (disebut pula takhalliy – pakai kha’), seperti kufur, nifaq, riya’, hasad, ujub, sombong, pemarah, rakus, suka memperturutkan hawa nafsu, dan sebagainya. Kedua, menghiasinya jiwa yang telah kita sucikan tersebut dengan sifat-sifat (akhlaq) yang baik/terpuji (disebut pula tahalliy – pakai ha’), seperti ikhlas, jujur, zuhud, tawakkal, cinta dan kasih sayang, syukur, sabar, ridha, dan sebagainya.
|
|
|
Ditulis oleh Abdur Rosyid
|
Apakah amalan-amalan yang diperintahkan oleh dukun meskipun baik adalah syirik? Jawabannya: Islam memerintahkan kepada kita untuk menjauhi para dukun dan semacamnya. Bahkan mempercayai dan membenarkan ramalan mereka saja tidaklah diperbolehkan, meskipun bukan kita yang meminta mereka meramal.
Bentuk-bentuk sihir dan semacamnya yang memakai bantuan jin biasanya meminta ’syarat’ atau ’amalan’. Syetan adalah makhluq yang licik dan cerdik dalam melakukan tipu daya dan penyesatan terhadap manusia. Bisa jadi pada awalnya syetan memulai tipu dayanya dengan ’syarat’ atau ’amalan’ yang baik-baik, namun sadarilah bahwa lambat laun ia akan menyeret kita kedalam kesesatan – dengan cara yang seringkali halus sekali. Bisa jadi pula syetan membumbui ajakan kesesatannya dengan hal-hal yang baik, agar kesesatan itu terlihat sebagai suatu kebaikan. Oleh karena itu, kita harus waspada, hati-hati dan cermat terhadap tipu daya mereka.
|
|
|
Ditulis oleh Abdur Rosyid
|
Mengapa amalan orang kafir tidak diterima oleh Allah? Jawabannya begini. Allah tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya (QS Al-Dzariyat : 56). Dasar dari ibadah adalah tauhidullah (mengesakan Allah) (QS Al-Anbiya’ : 25). Sehingga, segala amalan orang yang menyekutukan Allah tidak akan diterima oleh-Nya.
Disamping itu, Allah telah menetapkan Islam, dalam pengertian syariat yang dibawa oleh Muhammad saw - sebagai satu-satunya agama yang benar semenjak Muhammad diutus sebagai rasul bagi seluruh umat manusia sampai akhir zaman (QS Ali Imran : 19, 85, QS Al-Maidah : 3). Amalan-amalan orang yang tidak beragama Islam tidaklah sekali-kali akan diterima oleh Allah. Amalan-amalan tersebut ibarat debu yang beterbangan, tidak ada nilainya di sisi Allah (QS Al-Furqan : 23).
|
|
|
Ditulis oleh Abdur Rosyid
|
Apakah orang Islam pasti masuk Surga dan harus masuk Neraka terlebih dahulu? Berikut ini beberapa kaidah seputar masalah ini: Pertama, setiap orang yang meninggal dunia dalam keadaan mukmin pasti akan masuk Surga, baik masuknya itu langsung ataupun setelah masuk Neraka terlebih dahulu. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkan ‘Tiada ilah selain Allah’ dan ia meyakininya (hingga ajalnya), maka ia pasti akan masuk Surga”.
Kedua, akan ada segolongan mukmin yang akan langsung masuk Surga tanpa hisab. Ketiga, jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan syirik maka dosa syirik tersebut tidak akan pernah diampuni oleh Allah (QS An-Nisa’ : 48, 116). Tetapi jika seseorang melakukan dosa syirik kemudian ia bertaubat di dunia ini maka Allah akan mengampuninya.
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>
|
| Hasil 82 - 90 dari 192 |