Urgensi : Dengan mempelajari dinamika pergerakan dakwah dari masa ke masa, kita berharap akan bisa melakukan analisis terhadap berbagai aspek dakwah : metode dan strategi dakwah yang efektif, faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya dakwah, dsb. Ini semua kemudian kita jadikan sebagai bekal tajribiyyat dalam menata strategi dakwah yang tepat. Hal ini amat memungkinkan karena sejarah manusia itu memiliki sunnatullah yang tidak akan pernah berubah kapanpun juga.
Tanaasuq al-ashwaat (kesesuaian bunyi) : a) derajat terendahnya ialah ketiadaan tanaafur huruf, b) derajat tertingginya ialah kesesuaian antara bunyi dan makna.
Tarkib lughawi yang sesuai : a) shahih (bebas dari khatha’ dan syadzdz), b) merepresentasikan makna secara efektif
Berikut ini petikan diskusi bersama Dr. Yusuf Qardhawi seputar polemik mengenai hubungan antara akal pemikiran manusia dan teks-teks syariat (naqal). Hubungan diantara keduanya sebetulnya senantiasa berlangsungdi tengah-tengah umat Islam semenjak masa-masa awaldan menjadi lebih hebat lagi di masa khulafa’ rasyidun – semoga Allah meridhai mereka. Setiap kali pintu-pintu ilmu pengetahuan dan kebudayaan terbuka di dunia Islammaka disana senantiasa terjadi hubungan diantara keduanya. Permasalahan ini bertambah ketika muncul polemik mengenai hubungan antara akal dan naqal, segera setelah umat Islam berinteraksi dengan kebudayaan Yunani dan Filsafat Yunani Kuno. Akal dan naqal, ada pertentangan diantara keduanya ataukah tidak ada ?
Dalam tata bahasa Arab, sebagaimana juga dalam tata bahasa yang lain, kata sebagai satuan terkecil bahasa bisa diklasifikasikan menjadi berbagai macam kelompok. Ini tentu saja kemudian memudahkan kita dalam mempelajari tata bahasa Arab. Kata, dalam bahasa Arab, pertama-tama dibagi menjadi: isim, fi'il dan huruf. Selanjutnya, kata ada yang mabni dan ada yang mu'rab, ada yang mudzakkar dan ada yang muannats, dan sebagainya. Berbagai jenis kelompok kata ini seluruhnya bisa dilihat dalam uraian berikut ini.
Di awal-awal keterlibatan saya dalam organisasi dakwah kampus, kurang lebih pada akhir tahun 90-an, saya sempat dihadapkan pada sebuah fenomena. Beberapa saudara saya, dalam penilaian saya, telah berusaha - secara sadar ataupun tidak sadar - mempertentangkan secara frontal antara kepahaman (al-fahm), kepercayaan (ats-tsiqah), dan ketaatan (ath-tha'ah). Mereka seolah-olah hendak mengatakan bahwa kepahaman dan ketaatan adalah dua hal yang terpisah. Kepahaman ada di satu sisi sedangkan ketaatan ada pada sisi yang lainnya.
Realitas yang ada ketika itu, dalam penglihatan saya, adalah bahwa pimpinan organisasi dakwah tidak bisa memberikan (mentransfer) informasi yang cukup kepada para anggotanya, pada saat mereka memberikan berbagai perintah untuk dilaksanakan. Akibatnya, para anggota jadi 'tidak nyambung' dan merasa harus menjadi 'robot'. Ketika ada usaha dari anggota untuk menggali informasi yang ia butuhkan, sekadar untuk meyakinkan dirinya bahwa yang ia lakukan adalah baik dan benar, ada anggapan bahwa anggota tersebut telah bersikap kurang taat. Padahal, permasalahannya sesungguhnya bukan masalah taat atau tidak taat, akan tetapi belum cukupnya informasi dan kepahaman.