ImageApakah amalan-amalan yang diperintahkan oleh dukun meskipun baik adalah syirik? Jawabannya: Islam memerintahkan kepada kita untuk menjauhi para dukun dan semacamnya. Bahkan mempercayai dan membenarkan ramalan mereka saja tidaklah diperbolehkan, meskipun bukan kita yang meminta mereka meramal.

Bentuk-bentuk sihir dan semacamnya yang memakai bantuan jin biasanya meminta ’syarat’ atau ’amalan’. Syetan adalah makhluq yang licik dan cerdik dalam melakukan tipu daya dan penyesatan terhadap manusia. Bisa jadi pada awalnya syetan memulai tipu dayanya dengan ’syarat’ atau ’amalan’ yang baik-baik, namun sadarilah bahwa lambat laun ia akan menyeret kita kedalam kesesatan – dengan cara yang seringkali halus sekali. Bisa jadi pula syetan membumbui ajakan kesesatannya dengan hal-hal yang baik, agar kesesatan itu terlihat sebagai suatu kebaikan. Oleh karena itu, kita harus waspada, hati-hati dan cermat terhadap tipu daya mereka.

ImageMengapa amalan orang kafir tidak diterima oleh Allah? Jawabannya begini. Allah tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya (QS Al-Dzariyat : 56). Dasar dari ibadah adalah tauhidullah (mengesakan Allah) (QS Al-Anbiya’ : 25). Sehingga, segala amalan orang yang menyekutukan Allah tidak akan diterima oleh-Nya.

Disamping itu, Allah telah menetapkan Islam, dalam pengertian syariat yang dibawa oleh Muhammad saw - sebagai satu-satunya agama yang benar semenjak Muhammad diutus sebagai rasul bagi seluruh umat manusia sampai akhir zaman (QS Ali Imran : 19, 85, QS Al-Maidah : 3). Amalan-amalan orang yang tidak beragama Islam tidaklah sekali-kali akan diterima oleh Allah. Amalan-amalan tersebut ibarat debu yang beterbangan, tidak ada nilainya di sisi Allah (QS Al-Furqan : 23).

Apakah orang Islam pasti masuk Surga dan harus masuk Neraka terlebih dahulu? Berikut ini beberapa kaidah seputar masalah ini:

ImagePertama, setiap orang yang meninggal dunia dalam keadaan mukmin pasti akan masuk Surga, baik masuknya itu langsung ataupun setelah masuk Neraka terlebih dahulu. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkan ‘Tiada ilah selain Allah’ dan ia meyakininya (hingga ajalnya), maka ia pasti akan masuk Surga”.

Kedua, akan ada segolongan mukmin yang akan langsung masuk Surga tanpa hisab.

Ketiga, jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan syirik maka dosa syirik tersebut tidak akan pernah diampuni oleh Allah (QS An-Nisa’ : 48, 116). Tetapi jika seseorang melakukan dosa syirik kemudian ia bertaubat di dunia ini maka Allah akan mengampuninya.

Orang yang lahir di kalangan muslim akan menjadi muslim. Bagaimana orang yang lahir di kalangan non muslim?

ImageSetiap bayi yang dilahirkan berada dalam keadaan fithrah, yakni dalam keadaan muslim (tunduk patuh kepada Allah dan mengesakan-Nya). Rasulullah saw bersabda, ”Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.

Seorang bayi tidak akan diperhitungkan amal perbuatannya kecuali sesudah ia mencapai masa baligh. Sehingga, jika seorang anak yang belum baligh meninggal dunia, ia akan dimasukkan kedalam Surga.

Akan tetapi, justeru masa bayi sampai dengan baligh itulah yang sangat menentukan. Jika dalam masa itu seorang anak dididik untuk menjadi muslim yang baik maka insya Allah ia akan menjadi muslim yang baik ketika ia dewasa. Sebaliknya, jika ia dididik untuk menyimpang dari agama Allah maka ia pun akan menyimpang ketika ia dewasa. Disinilah pentingnya lingkungan yang baik bagi seorang anak.

ImageHidayah itu memang hak prerogatif Allah. Dia memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki diantara para hamba-Nya dan dia pula yang ’menyesatkan’ siapa saja yang Dia kehendaki (QS Ibrahim : 4, QS Al-Nahl : 93, QS Faathir : 8). Dia tidak akan dan tidak perlu ditanya atas apa yang Dia perbuat tetapi manusialah yang akan Dia tanya atas apa yang telah diperbuatnya (QS Al-Anbiya’ : 23).

Akan tetapi, kehendak Allah atas hidayah dan kesesatan tersebut bergantung kepada manusia itu sendiri. Allah telah memberikan segala potensi kepada manusia untuk bisa mendapatkan hidayah : fithrah, akal, perasaan, ayat-ayat kauniyah, diutusnya para rasul, ayat-ayat qauliyah, dan sebagainya. Allah telah memberikan kepada setiap hati manusia kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk (QS Al-Syams : 8). Sehingga, manusialah yang kemudian akan menentukan dirinya sendiri apakah ia akan taat kepada Allah (jalan hidayah) ataukah ia akan ingkar kepada-Nya (jalan kesesatan). Manusia bebas memilih tetapi ia pasti akan menerima akibat dari pilihannya tersebut.