ImageDari kecil kita senantiasa diajari oleh guru agama kita bahwa manusia pertama alias bapaknya semua manusia adalah Nabi Adam as. Namun pada saat kita mengikuti pelajaran Sejarah atau Antropologi, kita diajari bahwa manusia yang pertama kali mendiami bumi semenjak masa yang sangat jauh sebelum kita adalah manusia purba yang bernama Pitecantropus Erektus, Lusi, atau manusia purba yang lainnya. Sebenarnya, manakah yang lebih dahulu antara manusia purba seperti Pitecantropus Erectus dan Nabi Adam as?

Dari berbagai ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang shahih, kita mendapati bahwa Adam adalah manusia pertama yang Allah ciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi (QS Al-Baqarah : 30, QS Shaad : 71 – 76). Akan tetapi, Al-Qur'an mengisyaratkan bahwa sebelum manusia telah ada makhluq lain yang hidup di muka bumi.

ImageManusia adalah hamba Allah (’abdullah) dan khalifah di muka bumi. Sebagai hamba Allah, manusia berkewajiban untuk beribadah kepada-Nya. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia berkewajiban untuk memakmurkan bumi, melakukan perbaikan (ishlah) diatasnya, dan tidak malah membuat kerusakan diatasnya. Manusia adalah salah satu dari dua tsaqalaani, yaitu dua makhluq yang dibebani dengan syariat dan harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya : jin dan manusia. Dua makhluq ini berbeda dengan segenap makhluq yang lain yang tidak harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jin dan manusia memiliki pilihan untuk taat atau ingkar, sedangkan makhluq Allah yang lain tidak memiliki pilihan karena pilihan mereka hanya satu : taat kepada Allah. Langit dan bumi seluruhnya tunduk dan patuh kepada Allah secara sukarela, dengan cara mereka sendiri-sendiri. Sedangkan jin dan manusia ada yang taat dan ada pula yang ingkar. Dahulu kala Allah telah menawarkan amanah kekhalifahan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, dan semua menolaknya, akan tetapi manusia mau menerimanya. Oleh karena itu, manusia telah diberikan oleh Allah berbagai potensi untuk bisa mengemban tugas dan amanahnya tersebut. Jika seorang manusia sangat taat kepada Allah, derajatnya bisa lebih tinggi daripada malaikat, karena malaikat memang diciptakan untuk taat semata sementara manusia taat karena pilihannya. Akan tetapi jika seorang manusia ingkar kepada Allah, derajatnya bisa lebih rendah daripada binatang, karena binatang tidak memiliki akal pikiran sementara manusia memiliki akal pikiran.

ImageBai’ah secara sederhana berarti sumpah setia. Dahulu Rasulullah melakukan bai’ah untuk mengikat kesetiaan. Bai’ah Aqabah Pertama dilakukan oleh Rasulullah bersama beberapa orang untuk sepakat menegakkan tauhid dan menjunjung nilai-nilai yang mulia. Bai’ah Aqabah Kedua dilakukan oleh Rasulullah bersama sejumlah orang yang lebih banyak untuk sepakat memperjuangkan Islam dalam keadaan senang ataupun susah. Ba’iah Ridhwan dilakukan oleh Rasulullah  bersama para sahabat terkait dengan Kasus Utsman bin ’Affan di Hudaibiyah. Rasulullah juga membaiat orang-orang yang masuk Islam ketika itu untuk setia kepada Islam. Bai’ah juga telah dilakukan oleh kaum muslimin untuk menyatakan kesetiaannya (mendengar dan taat) kepada para khalifah kecuali dalam hal-hal yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya.

Dalam konteks kepemimpinan dan kekuasaan, bai’ah berarti sumpah untuk setia (mendengar dan taat) kepada khalifah kecuali dalam hal-hal yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya. Bai’ah ini dibagi oleh para ulama siyasah menjadi dua macam : bai’ah ’ammah (baiat umum) dan bai’ah khashshah (baiat khusus). Baiat khusus dilakukan oleh sekelompok orang yang terbatas yang menyatakan kesetiaannya kepada khalifah. Baiat umum biasanya dilakukan menyusul baiat khashshah dan dilakukan oleh seluruh kaum muslimin yang menyatakan kesetiaannya kepada khalifah. Baiat semacam ini wajib dilakukan oleh setiap muslim ketika ada kekhalifahan yang sah secara syar’i. Dalam konteks baiat semacam inilah Rasulullah bersabda,”Barangsiapa mati sementara di pundaknya tidak ada baiat maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”.

ImageBagaimana menanggapi hal-hal ghaib di sekitar kita ? Jawabannya begini. Alam ghaib itu benar adanya. Sebagai seorang mukmin kita harus beriman kepada yang ghaib (QS Al-Baqarah : 3). Bahkan, beriman kepada yang ghaib merupakan asas bagi keimanan itu sendiri. Ketika apa-apa yang harus kita imani tidak lagi ghaib, maka keimanan ketika itu tidak lagi ada artinya. Demikianlah orang-orang yang dijemput oleh Izrail saat sakaratul maut dan yang dihadapkan di depan Mahkamah Ilahi tidak lagi bermanfaat keimanannya, karena semua sudah jelas dan tidak ada lagi yang ghaib. Keimanan kepada yang ghaib merupakan ujian bagi manusia di dunia ini.

Yang ghaib itu banyak. Allah adalah yang paling ghaib dari semua yang ghaib. Surga, Neraka, catatan amal, Lauh Mahfuzh, Qalam, Mizan, alam kubur, ruh, para malaikat, dan jin adalah hal-hal yang ghaib.

ImageBukankah orang Kristen dan Islam sama-sama menyembah. Mengapa berbeda? Penjelasannya begini. Setiap manusia memang memiliki fithrah untuk menyembah dzat yang supreme, yang menguasai hidupnya dan juga kehidupan. Oleh karena itu, Allah mengutus para rasul untuk menjelaskan kepada umat manusia bagaimana mereka harus menyembah-Nya. Barangsiapa mengikuti para rasul Allah maka ia akan bisa menyembah Allah secara benar. Barangsiapa yang tidak mengikuti tuntunan para rasul, maka ia akan keliru dan tersesat dalam mewujudkan keinginan untuk menyembah-Nya.

Dalam kasus orang-orang Kristen, sesungguhnya mereka itu telah menyimpang dari ajaran Nabi Isa sendiri. Kitab yang mereka pegang sekarang bukanlah kitab yang dahulu dibawa oleh Nabi Isa, karena adanya perubahan dan pemalsuan. Mereka telah menyekutukan Allah dengan doktrin Trinitas-nya, padahal tauhidullah adalah pondasi bagi penyembahan kepada Allah. Sehingga, mereka itu tersesat meskipun motivasinya bisa saja benar. Yang demikian ini karena mereka tidak mengikuti tuntunan rasul yang diutus kepada mereka.