Tak sedikit orang yang belum menyadari perbedaan antara "menafsirkan" Al-Qur'an dan "membacakan tafsir" Al-Qur'an. Jika Fulan menerangkan sebagian dari isi kitab Tafsir Ibnu Katsir, maka sejatinya dia tidak sedang menafsirkan Al-Qur'an. Dia hanya sekadar membacakan tafsir yang ditulis oleh Ibnu Katsir. Semisal dengan ini adalah perbedaan antara "menetapkan hukum fiqih" dan "menyampaikan hukum-hukum fiqih yang telah ditetapkan oleh para mujtahid".Cikal bakal dari pengetahuan manusia yang terus berkembang hingga saat ini dan yang akan datang adalah pengetahuan bapak seluruh manusia, Nabi Adam 'alaihissalam, atas semua nama-nama, setelah mendapat pengajaran dari Allah Ta'ala. Pengetahuan Nabi Adam atas seluruh nama-nama tentunya bukan hanya mengetahui nama-nama semata tanpa mengetahui obyek yang diberi nama tersebut. Pengetahuan tersebut meniscayakan pengetahuan akan hakikat obyek berikut namanya sekaligus. Bisa saja kita tahu gunung tanpa mengetahui namanya. Namun tidak mungkin kita "tahu" nama "gunung" tanpa mengetahui bagaimana gunung itu sendiri. Jika kita tidak tahu bagaimana sebuah gunung, itu artinya kita tidak tahu apa yang disebut sebagai gunung.
Pengetahuan yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi Adam merupakan karunia yang luar biasa. Bagaimana tidak? Nabi Adam bahkan menjadi lebih tahu daripada para malaikat setelah mendapatkan pengetahuan tersebut dari Allah. Berikutnya, tentu saja Nabi Adam mengajarkan tentang nama-nama tersebut kepada keluarga dan anak keturunannya. Demikianlah bahasa diajarkan dan ilmu pengetahuan ditularkan. Sampai disini kita memahami bagaimana bahasa merupakan instrumen utama dalam transfer ilmu pengetahuan. Tanpa bahasa, kita tidak bisa membayangkan bagaimana ilmu bisa diajarkan dan ditransfer kepada orang lain dengan baik. Bahasa itu sendiri dalam perkembangannya mengalami "diversifikasi" sehingga muncullah berbagai macam bahasa yang berbeda diantara umat manusia.