ImagePengertian Ikhlas

Dari sisi lughawi (bahasa), kata ikhlas berasal dari akar kata kh-l-sh yang artinya murni, tidak bercampur dengan yang lainnya. Laban khaalish dalam bahasa arab berarti susu murni yang tidak bercampur dengan apapun. Tidak bercampur dengan air, tidak bercampur dengan gula, tidak pula bercampur dengan yang lainnya. Dengan demikian ikhlas berarti memurnikan sesuatu. Dalam konteks kajian tauhid dan akhlaq, tentu saja yang dimaksud adalah memurnikan penghambaan dan ketaatan hanya kepada Allah semata.

Adapun secara terminologis (isthilahi), ikhlas berarti mengerjakan amal perbuatan lillahi ta’ala, semata-mata karena Allah, tidak karena yang lainnya. Yang diharapkan hanyalah ridha dan balasan dari Allah. Sebagian ulama yang lain mendefinisikan ikhlas sebagai “an laa tathluba ‘alaa ‘amalika ayya syuhuud” (engkau melakukan amal perbuatan tidak karena ingin dilihat oleh seseorang). Ini sesuai dengan firman Allah SWT di penggal terakhir QS Al-Fath: 28: “Wa kafaa billahi syahiidan” (Dan cukuplah Allah semata sebagai saksi – atas segala amal perbuatan).

ImageAkhlaq dalam Islam itu meliputi dimensi batiniyah dan lahiriyah sekaligus, apa yang ada dalam hati dan apa yang tercermin dalam perilaku melalui organ-organ tubuh kita. Inilah yang membedakan akhlaq dengan etiket. Jika etiket hanya mementingkan apa yang nampak dari diri seseorang, akhlaq tidak. Dalam konsep akhlaq, yang ada dalam batin kita harus bersih dan baik – yang kemudian tercermin dalam perilaku kita. Bukan hanya baik diluarnya, sebagaimana yang terjadi pada orang yang pura-pura dan mengidap penyakit nifaq.

Pertanyaannya, mengapa kita harus berakhlaq mulia dan membebaskan diri dari akhlaq tercela? Jawabannya setidak-tidaknya bisa dijelaskan dalam delapan poin.

Pertama, misi utama Islam adalah menyempurnakan akhlaq yang mulia. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia” (HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim). Bahkan ibadah-ibadah yang kita lakukan pun selalu dikaitkan dengan pembersihan jiwa dan pencapaian akhlaq yang mulia. Penjelasannya ada disini.

Untuk melakukan tazkiyatun nafs, yang meliputi takhalliy (membersihkan jiwa kita dari akhlaq yang tercela) dan tahalliy (menghiasi jiwa kita dengan akhlaq yang terpuji), kita memerlukan berbagai macam cara atau sarana (wasail) – wasailut tazkiyah “sarana-sarana penyucian jiwa”. Apakah sarana-sarana itu?

ImageSarana-sarana itu tidak lain adalah ibadah-ibadah kita: sholat, shaum, zakat dan infaq, haji, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan sebagainya. Semua bentuk ibadah tersebut merupakan wasailut tazkiyah – membersihkan jiwa dan menumbuhkan akhlaq yang terpuji.

Sebagai gambaran singkat bagaimana ibadah-ibadah kita bisa membersihkan jiwa kita, mendidik jiwa kita, dan menumbuhkan akhlaq yang terpuji, mari kita lihat hakikat ibadah-ibadah tersebut.

Tentang sholat, Allah SWT berkata, “Wa aqimish shalat. Innash shalata tanha ‘anil fahsya’ wal munkar (Dan tegakkanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar)" - QS Al-Ankabut: 45. Ternyata, hikmah diperintahkannya sholat adalah untuk mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar, yang dengan kata lain berarti membangun akhlaq kita.

ImageTazkiyatun nafs “penyucian jiwa” adalah sesuatu yang sangat penting untuk terus kita lakukan dalam hidup ini. Makna dan pentingnya tazkiyatun nafs bisa dilihat dalam tulisan ini. Setelah kita memahami makna dan pentingnya tazkiyatun nafs, sangat penting pula kita mengenali dan tahu apa yang akan kita sucikan. Sebagaimana kalau kita mau membersihkan rumah kita. Kita harus tahu yang mau kita bersihkan itu tanah, atau rumput, atau kaca, atau tembok, atau karpet, atau keramik, atau marmer. Setelah kita tahu apa yang mau kita bersihkan berikut sifat-sifatnya, kita bisa memilih alat pembersih yang sesuai.

Apa itu jiwa (an-nafs)? Pertama-tama, kita harus tahu bahwa Allah telah mengilhamkan kepada setiap jiwa manusia:  fujur (potensi buruk) dan taqwa (potensi baik). Allah SWT berfirman dalam QS Asy-Syams: 7-8: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (potensi) kefasikan dan ketakwaannya.”

Dua potensi ini ada pada jiwa/nafsu setiap manusia. Tinggal kita masing-masing, mau menguatkan potensi baiknya ataukah potensi buruknya?

Nah, dari sinilah manusia itu kemudian secara ekstrim bisa dibedakan menjadi dua. Pertama, manusia yang bisa mengendalikan nafsunya, sehingga nafsu tunduk kepada dirinya. Ini sesuai dengan firman Allah dalam QS An-Nazi’at: 40-41: “Adapun orang yang takut terhadap kebesaran Tuhannya dan menahan dirinya dari ajakan hawa nafsu, maka sesungguhnya surga akan menjadi tempat kembalinya.” Selaras dengan ayat ini, Rasulullah saw bersabda, “Laa yu’minu ahadukum hataa yakunu hawaahu taba’an lima ji’tu bihi (Tidaklah beriman seseorang diantara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa).”

ImageApa makna tazkiyatun nafs?

Tazkiyatun nafs terdiri dari dua kata: at-tazkiyah dan an-nafs. At-tazkiyah bermakna at-tath-hiir, yaitu penyucian atau pembersihan. Karena itulah zakat, yang satu akar dengan kata at-tazkiyah disebut zakat karena ia kita tunaikan untuk membersihkan/menyucikan harta dan jiwa kita. Adapun kata an-nafs (bentuk jamaknya: anfus dan nufus) berarti jiwa atau nafsu. Dengan demikian tazkiyatun nafs berarti penyucian  jiwa atau nafsu kita.

Namun at-tazkiyah tidak hanya memiliki makna penyucian. At-tazkiyah juga memiliki makna an-numuww, yaitu tumbuh. Maksudnya, tazkiyatun nafs itu juga berarti menumbuhkan jiwa kita agar bisa tumbuh sehat dengan memiliki sifat-sifat yang baik/terpuji.

Dari tinjauan bahasa diatas, bisa kita simpulkan bahwa tazkiyatun nafs itu pada dasarnya melakukan dua hal. Pertama, menyucikan jiwa kita dari sifat-sifat (akhlaq) yang buruk/tercela (disebut pula takhalliy – pakai kha’), seperti kufur, nifaq, riya’, hasad, ujub, sombong, pemarah, rakus, suka memperturutkan hawa nafsu, dan sebagainya. Kedua, menghiasinya jiwa yang telah kita sucikan tersebut dengan sifat-sifat (akhlaq) yang baik/terpuji (disebut pula tahalliy – pakai ha’), seperti ikhlas, jujur, zuhud, tawakkal, cinta dan kasih sayang, syukur, sabar, ridha, dan sebagainya.