ImageApakah Anda pernah berpikir seperti apa muslim sejati itu? Bagaimanakah sosoknya? Seorang muslim sejati bisa diibaratkan seperti sebuah pohon. Akarnya kuat menghunjam. Batangnya kuat menjulang, demikian pula dahan dan bahkan ranting-rantingnya. Daun-daunnya lebat. Dan setiap musim menghasilkan buah yang banyak dan manis rasanya.

Akar-akar yang kokoh tersebut adalah salimul ‘aqidah (aqidah yang lurus), shahihul ‘ibadah (ibadah yang benar), dan matinul khuluq (akhlaq yang mulia). Ibarat akar sebuah pohon, tiga karakter inilah yang akan menopang karakter-karakter lainnya. Karakter-karakter baik tidak akan mampu tumbuh dengan baik jika tiga karakter dasar ini rapuh. Adapun batang, dahan, ranting, dan daun-daunnya adalah potensi-potensi diri yang tumbuh dengan baik, yang meliputi karakter qawiyyul jism (fisik yang kuat), mutsaqqaful fikr (berwawasan luas), mujaahidun linafsihi (pengendalian diri), harisun ‘ala waqtihi (menjaga waktu), munazhzhamun fii syu’unihi (tertib dalam setiap urusan), dan qadirun ‘alal kasbi (mampu mencari nafkah). Sedangkan buah yang bisa dipetik setiap musim adalah karakternya yang nafi’un lighairihi (memberi manfaat bagi orang lain). Semua karakter tadi jika dikumpulkan berjumlah sepuluh. Itulah sepuluh karakter muslim sejati. Dan berikut ini uraian singkat mengenai masing-masing karakter tersebut.

ImageBulan Rajab adalah bulan ketujuh dalam penanggalan qomariyah. Bulan Rajab adalah salah satu diantara dua belas bulan yang dimulai dengan Muharram dan diakhiri dengan Dzulhijjah. Pergantian bulan termasuk diantara tanda-tanda kekuasaan Allah. Setiap bulan berganti, seyogyanya ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita renungi. Rasulullah saw sendiri mengajarkan kepada kita untuk berdoa pada setiap pergantian bulan dalam penanggalan qomariyah, terutama ketika melihat hilal (bulan baru) pada malam harinya. Doa tersebut adalah:

“Ya Allah, Jadikanlah bulan ini kepada kami dalam kondisi aman dan hati kami penuh dengan keimanan, dan jadikanlah pula bulan ini kepada kami dengan kondisi selamat dan hati kami penuh dengan keislaman. Rabb-ku dan Rabb-mu Allah. Bulan petunjuk dan bulan kebaikan.” (HR At-Turmudzi)

Setiap kita tentunya biasa berdoa kepada Allah. Kita memohon kepada-Nya agar hajat dan keinginan kita Ia kabulkan. Ketika kita benar-benar butuh, tidak jarang kita berdoa sambil mengiba kepada Allah. Namun barangkali tidak jarang kita merasa doa kita tidak dikabulkan, atau setidak-tidaknya tidak segera dikabulkan.

ImageKetika seseorang merasa doanya tidak kunjung dikabulkan, tidak jarang sejak saat itu ia pun tidak lagi berdoa dan tidak punya harapan bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah. Padahal sikap seperti ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selagi ia tidak buru-buru. (Yakni jika) ia berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Dalam lafazh Muslim disebutkan: “Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan minta agar doa segera dikabulkan?’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ’(Yakni) hamba itu berkata, ‘Aku berdoa dan berdoa, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (HR Muslim)

ImageTaqwa merupakan status yang sangat mulia bagi seorang manusia. Hanya saja, yang berhak menetapkan status ini pada diri seorang manusia hanyalah Allah. Taqwa merupakan orientasi yang sering dinyatakan dari ditetapkannya berbagai bentuk perintah dan larangan: la’allakum tattaqun ‘agar kalian bertaqwa’.

Di beberapa tempat dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan kepada kita gambaran tentang orang-orang yang bertaqwa, agar kita mengetahui potret dan ciri-ciri mereka. Sebagian diantara ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut.

Menegakkan shalat (Lihat QS 2 : 3, 177)

Shalat adalah sarana untuk mengingat Allah secara kontinyu dalam kehidupan kita, setidak-tidaknya lima kali dalam sehari semalam, sehingga kita tidak akan hanyut dan terbuai oleh tipu daya kehidupan dunia. Menegakkan shalat tidaklah semata-mata mengerjakan shalat, akan tetapi juga menjaga bekasnya diluar shalat, yaitu tercegahnya diri kita dari perbuatan keji dan munkar.

ImageDari segi bahasa, riya’ masih satu akar dengan kata ru’yah yang berarti penglihatan. Riya’ artinya melakukan suatu amalan karena ingin dilihat oleh manusia. Orang yang riya’ ingin agar orang lain mengetahui amalannya kemudian merasa takjub dan memberikan pujian kepadanya. Disinilah kita paham bahwa riya’ adalah lawan dari ikhlas, karena riya’ berarti pamrih kepada manusia, sedangkan ikhlas hanya ‘pamrih’ kepada Allah Ta’ala.

Para ulama sendiri menyebut riya’ sebagai syirik tersembunyi (al-syirk al-khafiyy). Riya’ dikategorikan sebagai syirik karena orang yang riya’ berarti telah menyekutukan tujuan ibadahnya. Ia tidak hanya menjadikan Allah sebagai tujuan, tetapi telah menjadi manusia sebagai sekutu bagi Allah. Allah sendiri sangat tidak suka dengan orang-orang yang riya’. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman: “Ana aghnasy syuraka’ ‘anis syirk. Faman ‘amila ‘amalan asyraka fiihi ghairii fahuwa lilladzii asyraka, wa ana minhu barii’ (Aku adalah Dzat yang sama sekali tidak butuh sekutu. Maka barangsiapa melakukan suatu amal perbuatan dengan menyekutukan Aku, maka amal perbuatan itu adalah untuk sekutunya, dan Aku berlepas darinya).” (HR Muslim, Ibnu Majah, Ahmad) Alangkah ruginya kita jika berbuat riya’ karena Allah akan berlepas diri dari kita dan tidak akan mau menerima amalan kita.