Berdoa dari sisi bahasa artinya memanggil, memohon, atau meminta. Ketika kita berdoa, kita sedang memanggil, memohon, dan meminta kepada Allah, Dzat Yang Maha Agung, Pencipta dan Raja Diraja Seluruh Alam. Disamping itu, berdoa adalah ibadah, bahkan inti dari ibadah. Oleh karena itu, hendaknya kita memperhatikan adab-adab ketika berdoa. Diantara adab-adab berdoa adalah sebagai berikut:

1. Ikhlash; totalitas berserah diri hanya kepada Allah.

وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ

"Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus..." (QS Luqman: 32)

Ayat diatas mengisyaratkan bahwa doa yang dilakukan dengan penuh ketulusan, penuh kepasrahan, dan secara total berserah diri dan berharap hanya kepada Allah sebagaimana orang-orang yang tengah diigulung oleh badai di tengah samudera adalah doa yang disukai oleh Allah.

2. Menghadirkan hati dan bersungguh-sungguh dalam berdoa.

"Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah (dengan doanya).” (HR. Tirmidzi; dishahihkan oleh Al-Albani)

"Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan do’a dari hati yang lalai.” (HR. Ahmad).

Doa yang mustajab (yang mudah dikabulkan oleh Allah) terkait dengan beberapa hal, yang meliputi siapa yang berdoa, kapan (waktu) berdoa, dan dimana (tempat) berdoa. Diantara orang-orang yang doanya mustajab adalah sebagai berikut:

1. Doa nabi; Dalam Al-Qur'an banyak diceritakan doa para nabi yang dikabulkan oleh Allah. Demikian juga dalam hadits banyak diceritakan doa Rasulullah saw untuk para sahabat beliau dan dikabulkan oleh Allah. Misalnya doa untuk Abu Hurairah agar Allah memberinya kemampuan menghafal banyak hadits, doa untuk Ibnu Abbas agar diberikan kedalaman pemahaman terhadap Al-Qur'an, doa untuk seorang sahabat agar dijauhkan dari keinginan untuk berzina, dan masih banyak lagi yang lainnya.

2. Doa orang shalih; Orang yang shalih, yang menjaga makanan dan minumannya, bertaqwa, dan dekat kepada Allah akan lebih mudah dikabulkan doanya oleh Allah. Hal ini diisyaratkan dalam QS Al-Baqarah: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat; Aku mengabulkan doa yang berdoa ketika ia berdoa. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-perintah-Ku..."

3. Doa yang dipanjatkan dengan penuh ketulusan.

4. Doa yang dipanjatkan ketika semua ikhtiar sudah dilakukan.

5. Doa orang tua kepada anaknya

6. Doa orang yang berpuasa ketika berpuasa dan berbuka puasa

7. Doa musafir

8. Doa pemimpin yang adil

9. Doa orang yang terzhalimi

10. Doa untuk sesama muslim tanpa sepengetahuannya

Allat Ta'ala menjelaskan dalam QS Al-Baqarah: 183 bahwa tujuan berpuasa adalah la'allakum tattaquun, 'agar kalian bertaqwa'. Dari sini kita bisa mengatakan bahwa buah yang kita harapkan dari ibadah Ramadhan adalah taqwa, yang juga merupakan sebaik-baik bekal dalam mengarungi kehidupan. Lalu, seperti apakah ciri-ciri taqwa yang merupakan buah dari ibadah Ramadhan? Jika kita amati, diantara ciri-ciri taqwa yang insyaallah kita dapatkan dari ibadah Ramadhan tercermin dari amalan-amalan utama di bulan Ramadhan itu sendiri. Apakah sajakah itu?

Pertama, keimanan yang kuat pada perkara-perkara ghaib. Ini sesuai dengan firman Allah Ta'ala mengenai orang yang bertaqwa di awal QS Al-Baqarah: "Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib". Iman kepada yang ghaib meliputi iman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, pahala dan dosa, Hari Akhir, Hari Kebangkitan, Hari Pembalasan, Surga dan Neraka. Iman kepada perkara-perkara yang ghaib ini adalah suatu ujian, dimana kita diuji apakah kita mampu mempercayai hal-hal yang tidak tampak. Ketika perkara-perkara tersebut sudah tidak ghaib lagi maka tidak ada lagi gunanya keimanan, karena ketika sudah tampak nyata tentu saja semua orang pasti akan beriman. Inilah mengapa orang yang sebelumnya tidak beriman tidak akan lagi diterima imannya ketika maut sudah menjemput (sakaratul maut) dan Hari Kebangkitan telah tiba. Saat sakaratul maut pandangan manusia akan menjadi tajam, akan ditampakkan kepadanya sebagian dari hakikat-hakikat yang ghaib. Dan saat Hari Kebangkitan tiba, semua orang akan menyadari bahwa Hari Kebangkitan memang ada, dan setiap perbuatan akan dihitung dan dibalas.

Orang yang bertaqwa senantiasa merasakan kehadiran Allah, senantiasa merasakan bahwa Allah senantiasa melihat dan mengawasinya. Karena itu ia akan senantiasa melihat apa yang ia pikirkan, apa yang ia ucapkan, dan apa yang ia perbuat, berharap agar Allah meridhainya dan takut serta khawatir jika Allah membencinya. Demikian pula ia tidak akan pernah merasa takut karena merasakan kebersamaan Allah ketika ia hidup dalam ketaaatan kepada-Nya. Ini adalah buah dari orang yang berpuasa, yang rela tidak makan dan tidak minum meski tidak ada manusia lain yang melihat, karena ia menyadari Allah selalu melihat.

Orang yang bertaqwa akan memperhitungkan segala sesuatu yang ia ucapkan dan ia perbuat karena ia menyadari bahwa semuanya akan dibalas oleh Allah; kebaikan dibalas kebaikan dan keburukan dibalas keburukan. Jika tidak di dunia ini, semua akan disempurnakan pada Hari Akhir. Itulah mengapa orang-orang yang bertaqwa tidak akan pernah bersikap aji mumpung di dunia ini. Ia menyadari bahwa dunia ini hanya sementara, sangat singkat, dan semuanya akan dibalas pada Hari Pembalasan.

ImageBulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keutamaan, amalan sunnah diganjar seperti amalan wajib sedangkan amalan wajib diganjar berlipat-lipat. Ia adalah bulan terbaik diantara seluruh bulan dalam setahun. Nah, untuk mengoptimalkan amal ibadah kita selama bulan Ramadhan, kiranya kita perlu tahu amalan-amalan yang paling utama untuk dilakukan selama bulan yang penuh keutamaan tersebut. Tentunya semua amal ibadah dan amal kebajikan baik untuk dilakukan selama bulan Ramadhan (bahkan juga di bulan-bulan yang lainnya). Akan tetapi ada amalan-amalan yang lebih utama untuk dilakukan dan diprioritaskan selama bulan Ramadhan. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Berpuasa di siang hari Ramadhan

Tiada amalan yang lebih utama untuk dilakukan pada siang hari Ramadhan melebihi puasa. Bukan hanya ini amalan yang paling utama, namun juga ia wajib dilakukan, tentu saja terkecuali bagi yang berhalangan atau tidak mampu sesuai dengan ketentuan yang dijelaskan dalam fiqih. Karena itulah bulan Ramadhan disebut sebagai Syahr al-Shiyam. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharapkan balasan dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

ImageRamadhan adalah bulan yang istimewa bagi setiap mukmin. Berikut ini beberapa keistimewaannya.

Pertama, ramadhan adalah rabi’ul hayat (musim semi kehidupan) bagi setiap muslim dan bagi umat ini. Sebagaimana musim semi dimana daun-daun kembali tumbuh dan bunga-bunga bermekaran, setelah sebelumnya kering kerontang, udara menjadi segar setelah sebelumnya kering menusuk tulang, maka demikianlah ramadhan.

Di bulan ramadhan, pikiran kita disegarkan kembali dengan banyaknya taklim di masjid-masjid, di kantor-kantor, di radio, di televisi, di surat-surat kabar. Pikiran kita diajak kembali untuk memahami ajaran agama kita.

Di bulan ramadhan, ruhani kita disegarkan kembali dengan bacaan Al-Qur’an, sholat tarawih, dan puasa itu sendiri.

Di bulan ramadhan, jasad kita pun disegarkan kembali dengan puasa, yang menurut para ahli kesehatan dan medis, bisa menetralisir racun-racun dalam tubuh, dan secara umum sangat baik untuk kesehatan tubuh.