ImageAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS Al-Baqarah: 208, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kedalam Islam secara keseluruhan.” Ayat ini jelas-jelas memerintahkan kita semua yang mengaku beriman untuk masuk kedalam Islam secara keseluruhan (kaaffah), tidak setengah-setengah.

Islam adalah agama yang sempurna. Hanya saja kesempurnaan Islam ini hanya bisa kita rasakan dalam kehidupan jika kita pun melaksanakannya secara sempurna. Jika kita hanya melaksanakan Islam secara setengah-setengah, separuh-separuh, atau sebagiannya saja, maka kita tidak akan bisa merasakan kesempurnaan Islam itu sendiri. Kita hanya akan bisa merasakan sebagian dari kesempurnaan itu sendiri. Dan yang lebih penting, kita hanya akan bisa menjadi muslim yang seutuhnya jika kita masuk kedalam Islam secara keseluruhan. Jika kita masuk kedalam Islam secara setengah-setengah, kita pun akan menjadi muslim yang setengah-setengah.

Banyak dari kita telah berlaku tidak adil terhadap Islam. Pada saat kita menerapkan sistem hidup yang tidak islami lalu mendapatkan masalah, kita berteriak-teriak menuntut agar Islam memberikan solusi. Sebetulnya ini sikap yang tidak konsisten. Semestinya, Islam layak kita tuntut memberikan solusi jika Islam itu sendiri yang memunculkan masalah.

Berikut ini petikan diskusi bersama Dr. Yusuf Qardhawi seputar polemik mengenai hubungan antara akal pemikiran manusia dan teks-teks syariat (naqal). Hubungan diantara keduanya sebetulnya senantiasa berlangsung  di tengah-tengah umat Islam semenjak masa-masa awal  dan menjadi lebih hebat lagi di masa khulafa’ rasyidun – semoga Allah meridhai mereka. Setiap kali pintu-pintu ilmu pengetahuan dan kebudayaan terbuka di dunia Islam  maka disana senantiasa terjadi hubungan diantara keduanya. Permasalahan ini bertambah ketika muncul polemik mengenai hubungan antara akal dan naqal, segera setelah umat Islam berinteraksi dengan kebudayaan Yunani dan Filsafat Yunani Kuno. Akal dan naqal, ada pertentangan diantara keduanya ataukah tidak ada ?

ImageModerator : Saya sangat gembira karena, sebagaimana biasanya, akan menyertai saya dalam dialog ini yang terhormat Allamah Dr. Yusuf Qardhawi. Selamat datang, Syaikh …

Moderator : Kalau boleh saya akan memulai dengan pertanyaan yang barangkali agak aneh, yakni bahwasanya kata akal dan hal-hal yang berorientasi kesana dipakai secara sangat signifikan dalam sejarah pensyariatan Islam, namun tidak terlihat bahwasanya Al-Qur’an  menyebut kata ini secara eksplisit dan tegas, akal, begitu. Tidak dimaksudkan dalam hal ini ungkapan-ungkapan seperti “afalaa ya’qiluun”…

ImageIslam sebagai syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad diturunkan dan mengalami masa formasinya di tanah Arab? Mengapa disana padahal Islam adalah untuk seluruh alam? Mengapa bukan di Roma, di Cina, atau di Asia Tenggara? 

Dengan diturunkannya Islam di Arab, maka Islam kemudian menjadi sangat terkait dan tidak dapat dilepaskan dari kearaban. Sebagaimana diketahui, keseluruhan bangunan Islam bukanlah bangunan yang sama sekali baru, yang didatangkan untuk mengganti sama sekali bangunan lama (baca: bangunan Arab). Islam datang hanya untuk memperbaiki yang rusak, menambah atau melengkapi yang kurang, dan tetap melestarikan yang lama atau yang sudah ada. Dengan kata lain, Islam datang untuk melakukan konservasi terhadap tradisi lama Arab yang masih baik, disamping melakukan revisi dan penyempurnaan. Terutama dalam hal konservasi tradisi lama, akan muncul sebuah pertanyaan “Bagaimana jadinya andaikata Islam turun di Cina”? Tentunya, bangunan Islam akan berupa ajaran Cina yang direvisi dan disempurnakan !!

Dari titik inilah kita merasa perlu untuk tahu mengapa yang dipilih adalah Arab dan bukan yang lain. Sebagian orang memberikan jawaban, terutama ditujukan untuk anak-anak, bahwa Arab dipilih karena saat itu masyarakatnya merupakan masyarakat yang paling rusak.

ImageDiantara sifat-sifat generik Allah – yang meliputi berbagai sifat-sifat-Nya yang derivatif  - adalah al-rahmah (kasih-sayang), al-‘ilm (pengetahuan), dan al-‘azhm (kebesaran).

Diantara sifat-sifat-Nya yang bermuara pada al-rahmah adalah:

  • Sifat-sifat kelembutan, seperti: al-rahman, al-rahim, al-lathif, al-rauf, al-halim, al-hannan, dll.
  • Sifat-sifat memberi atas dasar kasih-sayang, seperti: al-wahhab, al-razzaq, al-mannan, dll.
  • Sifat-sifat pemaaf atas dasar kasih-sayang, seperti: al-‘afuww, al-tawwab, al-ghafur (al-ghaffar), dll.
  • Sifat-sifat adil atas dasar kasih sayang, termasuk didalamnya sifat-sifat menyiksa atas dasar keadilan.

ImageOrang-orang mengatakan begini: Ibnu Rusyd mengatakan bahwa jalan menuju kebenaran itu tidak hanya satu, tetapi banyak. Imam Al-Shan’ani  telah memberikan judul  Subulus Salam kepada sebuah kitab fiqihnya yang sangat terkenal. Subulus Salam sendiri bermakna Jalan-jalan (bukan satu jalan melainkan banyak jalan) Menuju Keselamatan. Kalau kita mau pergi ke Roma maka banyak jalan yang bisa kita tempuh. Kita bisa ke Roma melewati Arab. Kita pun bisa ke Roma melewati Amerika. Kita bisa ke Roma dengan pesawat terbang. Kita pun bisa ke Roma dengan kapal laut.

Apakah ke Roma lewat Arab lebih baik daripada lewat Amerika? Belum tentu. Masing-masing rute tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Apakah ke Roma dengan pesawat terbang juga mesti lebih baik daripada dengan kapal laut? Belum tentu juga. Masing-masing cara memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri.