Cetak
Jangan-jangan virus sekularisme yang sudah semenjak lama disuntikkan kedalam tubuh umat Islam telah mempengaruhi alam bawah sadar dan cara berpikir kita.
Kita biasanya mengambil contoh sikap sekular dalam bentuk sikap/tindakan memisahkan agama dari urusan dunia semisal ekonomi, politik, dan semacamnya.
Tapi apakah kita juga sadar bahwa kita barangkali sering membatasi agama sebagai tindakan ritual semata? Sehingga, yang kita anggap agama hanyalah sholat, puasa, dzikir, dan semacamnya. Sebaliknya, ada banyak amal-amal non-ritual yang tanpa sadar tidak kita anggap sebagai ibadah, padahal bisa jadi nilai ibadahnya lebih utama. Sebagai contoh, seorang ibu yang mengurusi anaknya atau melayani suaminya bisa jadi lebih utama daripada sholat sunnah atau memperbanyak bacaan Al-Qur'an. Demikian pula seorang suami yang membanting tulang untuk mencari nafkah yang halal buat keluarga yang ditanggungnya. Atau seorang anak yang membantu pekerjaan orangtuanya. Atau seorang sahabat yang membantu urusan saudaranya. Tentunya yang ideal adalah banyak-banyak melakukan yang ritual dan non-ritual sekaligus. Namun yang dimaksudkan disini adalah ketika resources, katakanlah waktu, tidak memungkinkan untuk itu pada suatu waktu. Maka dalam situasi seperti ini seseorang harus memilih. Juga, yang dimaksudkan dengan ritual disini bukanlah yang wajib. Kalau itu tentunya tak bisa ditawar-tawar lagi.
 
Barangkali sebagian kita sudah pernah tahu salah satu definisi ibadah sebagai "ismun jaami'... dst, yang mendefinisikan ibadah secara luas, tak hanya yang ritual, tapi mungkin sudah lupa, atau belum dipahami betul-betul alias belum merasuk kedalam alam bawah sadar, atau barangkali merupakan salah satu efek virus sekularisme, dalam bentuk menganggap bahwa ibadah itu hanya sholat, puasa, dan dzikir.
 
Padahal, para ulama bahkan sudah membuat suatu kaidah fiqih: "Amal muta'addiy lebih utama daripada amal ghair muta'addiy", yang bermakna bahwa amalan yang memberi manfaat kepada orang lain lebih utama daripada amalan yang hanya bermanfaat bagi diri sendiri. Sekali lagi, ini konteksnya adalah amal-amal sunnah atau amal-amal yang bisa dipilih (ada ruang untuk memilih).
 
Juga kalau kita melihat teks-teks dalam Al-Qur'an, biasanya apa yang dituntut dibahasakan sebagai "beriman dan beramal shalih". Jadi yang paling penting pertama-tama adalah iman, dan karenanya amal kebaikan orang yang kafir itu "habaa-an mantsuuran", seperti debu yang beterbangan, tak ada nilainya di sisi Allah. Nah, diatas iman itulah dibangun amal shalih, yang tidak hanya terbatas pada amal-amal ritual. Bahkan biasanya dalam ayat-ayat Al-Qur'an, iman itu digandengkan dengan rentetan amal yang terdiri dari ritual dan non-ritual, misalnya sholat, infaq, dan berbuat ihsan pada orang lain. Dan sering-seringnya, dari rentetan amal yang disebutkan itu, yang non-ritual justru lebih banyak. Istilahnya, amal-amal sosial.
 
Jadi, ayo kita tata lagi cara berpikir kita dan cara kita memahami agama, sehingga kita bisa beragama secara lebih kaaffah dan komprehensif, dan terbebas dari pengaruh-pengaruh sekularisme.